Silence

Silence
Bab 22



*Happy reading 📖📖 ya guys*


Mataku mengerjap-ngerjap pelan, mencoba mengatur cahaya yang masuk pada kedua mata yang perlahan terbuka.


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Kulihat wajah Deon yang sedang tertidur sambil menggenggam tanganku yang dibalut perban pada pergelangan tangan.


“Aku menyuruhnya agar tidur di sofa, tapi dia menolak. Dia tidak mau saat kamu sudah bangun dan dia tidak menyadarinya, lalu kamu melakukan hal gila lagi.” Sebuah suara wanita asing terdengar.


Seorang wanita dengan paras cantik, rambut ikal panjang berwarna cokelat, menyunggingkan senyum padaku. “Namaku Sarah, Kakaknya Deon.”


Aku bergeming. Tubuhku terasa lelah, tetapi lelah hati dan pikiran lebih kuat. Aku hanya ingin mengakhiri semuanya. Mengapa Tuhan memberiku kesempatan untuk hidup?


“Rayla ….” Wanita yang bernama Sarah memanggil namaku, membuat alisku mengernyit. Dari mana dia tahu namaku?


“Untuk pertama kalinya, aku melihat Deon ketakutan seperti semalam. Bahkan, pada saat kakak kandung kami mengalami kecelakaan pun dia tidak menunjukkan sikap seperti ini. Jika kamu berpikir tidak ada yang membutuhkan kehadiranmu, lalu bagaimana dengan Deon?”


Aku masih bergeming dengan mata menatap wanita itu.


“Jangan pernah berpikir jika kehadiranmu tidak penting lagi. Cobalah lihat di sekelilingmu. Masih ada orang yang menyayangi dan membutuhkanmu, Rayla.”


“Tuhan memberikan kesempatan kepadamu untuk terus menjalani hidup. Maka itu, teruslah berjuang, Rayla. Buang pikiranmu perihal kehadiranmu yang tidak diinginkan siapa-siapa. Deon tidak akan bersedia membuang waktunya dengan menunggumu semalaman seperti ini, jika baginya kehadiran dirimu tidak penting,” ucap wanita itu dengan lembut.


Bayangan wajah tante Fifi, Maylin, Agatha dan Bella muncul dalam mataku. Dadaku bergemuruh. Mataku mulai terasa panas. Sedetik kemudian, satu tetes air mata lolos dari sudut mata.


Deon terbangun karena suara isak tangisku. Sontak dia langsung berdiri dan mengusap wajahku pelan disertai raut wajah penuh kekhawatiran.


“Ada apa, Rayla? Di mana yang sakit? Mau gue panggilkan Dokter?” tanyanya dengan nada cemas.


Mendapat perlakuan lembut seperti itu, membuat tangisku semakin keras. “Sorry … i’m so sorry …,” ucapku lirih.


“Sstt! Jangan minta maaf, La. Asalkan lo berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Deon mengusap puncak kepalaku dengan lembut. Aku membalasnya dengan mengangguk kepala.


*****


Dokter memperbolehkan aku pulang tiga hari kemudian.


Kak Sarah menawarkan sesi terapis jika aku setuju. Dia adalah seorang Dokter Psikiater. Seseorang yang berkeinginan mengakhiri hidupnya, itu adalah salah satu ciri-ciri depresi. Kak Sarah yang mengatakannya padaku.


Memang ada beberapa ketakutan dalam hidupku. Salah satu ketakutan yang paling besar adalah rasa kehilangan. Aku selalu membatasi diri untuk tidak terlalu dekat dengan siapa pun. Aku tidak ingin kembali merasakan sakitnya hati saat kehilangan.


Mungkin aku harus mempertimbangkan penawaran Kak Sarah.


Deon melajukan mobilnya meninggalkan Rumah Sakit. “Gue sudah mendapatkan tempat kost dekat kantor,” ucapnya memberi tahu.


Selama di Rumah Sakit, Deon tidak pernah sekali pun meninggalkanku. Dia rela mengambil cuti demi menemaniku. Dia juga yang membantuku mencari tempat kost.


“Dari mana lo tahu, kalau gue butuh tempat kost?”


Saat itu Deon bertanya kepadaku ingin mencari tempat kost di daerah mana? Padahal, aku tidak pernah menceritakan kejadian malam terakhir itu, saat mama menyakiti hatiku lebih dalam.


Dan Deon sambil menyungingkan senyum jahilnya menjawab, “Apa, sih, yang tidak gue tahu, La? Kan, lo selalu hadir dalam hati gue. Gue bisa mengartikan raut wajah lo dan tahu apa yang sedang lo pikirkan saat ini.”


Aku memutar bola mata ke atas. Tidak berniat merespons perkataannya. Dasar Playboy bermulut gula.


Namun, ku akui dia memang teman yang sangat bisa diandalkan. Selain itu aku juga merasakan kenyamanan saat bersamanya. Perasaan yang tidak pernah kutemukan saat aku berinteraksi dengan orang yang belum lama kukenal.


Satu jam kemudian, kami tiba di depan pintu gerbang yang tinggi.


Petugas penjaga pintu keluar dari ruangannya. Deon menyerahkan sebuah card kepada petugas itu, lalu pintu gerbang pun terbuka.


Kemudian Deon kembali menyetir mobilnya masuk ke dalam.


“Tempat kost ini kelihatannya tidak murah. Berapa biaya per bulan nya?” tanyaku sambil meneliti keadaan di sekeliling. Ada sebuah taman, supermarket kecil dan beberapa kios yang menjual barang-barang dan juga makanan.


“Karena pemiliknya adalah teman gue, jadi dapat diskon. Setiap bulan lo transfer ke rekening gue satu juta. Biar gue yang lanjut transfer ke rekening teman gue.”


Alisku terangkat dan membuat gerakan melengkung. “Tempat kost ini fasilitasnya sangat lengkap. Mana mungkin harganya setiap bulan hanya satu juta?”


“Kan, sudah gue bilang. Pemiliknya adalah teman gue. Dia memberi gue harga murah,” jawab Deon dengan santai.


“Baik amat teman lo itu,” cibirku.


Deon membalas dengan senyum simpul. Mobilnya berhenti di tempat parkiran. Kami berdua pun segera turun dari mobil, lalu berjalan masuk ke dalam gedung.


Ternyata tempat kost ini menyediakan sebuah lift. Aku ingin sekali lagi memastikan harga kost ini, tetapi sepertinya percuma. Aku selalu kalah berdebat mulut dengan Deon.


Suara dentingan lift berbunyi tepat di lantai 4. Begitu lift terbuka, Deon melangkah keluar sambil menggenggam tanganku.


Langkah kedua kaki kami berhenti di depan sebuah pintu kamar. Dengan menggunakan sebuah card yang dia serahkan kepada petugas tadi, untuk membuka kunci pintu otomatis pada pintu.


“Ayo, masuk!” ucapnya setelah membuka pintu lebih lebar, membiarkan diriku melangkah masuk terlebih dahulu.


Mataku membelalak, mulutku terbuka lebar karena terkejut melihat sekeliling ruangan kamar ini seperti Apartemen, bukan tempat kost biasa. Perabotannya benar-benar lengkap.


“Lo yakin, Deon? Satu juta per bulan?” Kali ini aku tidak dapat menahan diri untuk memastikan sekali lagi.


Dengan fasilitas umum dan perabotan kamar seperti ini, mustahil ada pemilik yang rela memberikan harga dengan murah walau kepada teman sekali pun.


“Iya, Rayla, Sayang. Apa perlu gue telepon teman gue agar lo bisa bertanya langsung sama orangnya?”


Jantungku berdebar dengan cepat saat mendengar kata-kata ‘sayang’ dari Deon.


Please, deh, Rayla! Lo bukan lagi anak ABG labil yang langsung berbunga-bunga pada saat ada pria memanggil lo dengan kata ‘sayang’.


“Jangan salahkan gue kalau teman lo tiba-tiba berubah pikiran. Lo talangin sendiri sisanya,” ucapku berusaha menutupi rasa gugup darinya. Jangan sampai dia tahu apa yang sedang kurasakan saat ini. Bisa makin besar kepala.


“Tenang saja. Gue bersedia menanggung sisanya kalau ada kesalahan. Harga tidak jadi masalah. Yang terpenting tempatnya aman.”


“Mana card-nya?” Aku menengadahkan tangan padanya.


Deon mengeluarkan card lain dari dalam dompetnya. Aku menerimanya disertai alis berkerut. “Mengapa card-nya ada dua?” tanyaku bingung.


Deon menggaruk tengkuknya sambil menjawab, “Gue minta teman gue membuat kartu cadangan agar gue dapat bebas keluar masuk.”


“Jangan macam-macam, deh, lo!” Aku melotot tajam padanya. “Lo mau diam-diam menerkam gue tengah malam saat gue sedang tidur, ya?”


“Ya, elah, Rayla. Kalau gue mau, mah, sekarang juga gue terkam lo. Tidak perlu menunggu tengah malam,” kilah Deon.


“Kalau lo butuh bantuan gue lagi seperti malam pertama itu, jangan sungkan-sungkan hubungi gue.” Deon melanjutkan sambil memasang wajah mesumnya.


Wajahku terasa panas mengingat adegan itu. Mungkin baginya itu adalah hal yang biasa, tapi tidak denganku.


“Berikan card-nya semua ke gue!” perintahku tegas.


Deon menggeleng-gelengkan kepala. “No!”


Aku semakin melotot tajam padanya. Deon cepat-cepat melanjutkan kembali ucapannya, “Ini untuk berjaga-jaga saja kalau suatu waktu lo menghilang atau tidak bisa dihubungi.”


“Gue bukan anak kecil, Deon. Jangan berlebihan, deh!” protesku.


“Setelah hal berbahaya yang lo lakukan, gue tidak bisa tenang meninggalkan lo sendirian, Rayla! Dalam hidup gue, belum pernah merasakan ketakutan yang luar biasa seperti rasa takut gue kehilangan diri lo!” Rahang Deon mengeras. Dia menunjukkan emosinya. Aku terdiam menatapnya.


Perlahan, Deon mendekatiku hingga tidak ada lagi jarak di antara kami. Dia mengangkat daguku. Ada rasa berdesir di hati ketika kami saling bertatapan mata.


Dengan satu tangannya, dia memeluk pinggangku dengan erat, lalu berkata, “Berjanjilah! Apapun yang terjadi, jangan pernah berniat meninggalkan dunia ini. Gue tidak mau kehilangan diri lo, Rayla. Gue butuh lo.”


Aku hanya diam karena tatapan mata Deon seakan menghipnotisku. Wajah Deon semakin mendekat. Aku dapat merasakan hembusan napas hangat itu menerpa wajahku. Membuat sesuatu dalam tubuhku gelisah.


Jantungku berdebar dengan cepat ketika sesuatu yang lembut dan basah menempel pada bibirku. Tanpa sadar aku memejamkan mata. Deon menarik tubuhku hingga semakin menempel pada tubuhnya.


Entah sudah berapa lama kami saling memagut bibir satu sama lain. Hingga akhirnya, Deon melepaskan pagutan kami. Aku berusaha mengambil napas sebanyak-banyaknya demi mengisi oksigen ke dalam paru-paru. Hal yang sama juga dilakukan Deon.


“I miss your lip so much, Rayla,” ungkap Deon dengan suara serak. Jarinya menyentuh bibirku.


Sentuhannya membuat sesuatu di dalam sana mulai bergejolak, tapi sebuah kesadaran tiba-tiba masuk dalam pikiranku.


“Gue tahu lo suka bermain-main dengan wanita, tapi please! Jangan memperlakukan gue seperti mereka. Kita hanya teman,” kataku, tetapi nada suaraku terdengar tidak yakin.


Deon mengulum senyum. “Teman tidak akan melakukan hal seperti ini, La.” Kemudian Deon kembali melakukan pagutannya. Kali ini ciumannya lebih dalam dan menuntut.


Aku benci pada tubuhku yang berkhianat pada otakku. Disaat otak warasku memintaku mendorong tubuhnya, tetapi tubuhku malah menikmati apa yang Deon perbuat. Aku menikmati setiap sentuhan dan buaiannya.


Entah bagaimana, kini kami berdua sudah berada di atas ranjang. Kami saling terbawa arus perasaan yang meledak dalam gairah.


“I will be your saving grace, Rayla. You can keep my promise,” ucap Deon disela-sela pagutan kami.


Ucapan kalimatnya itu membuatku terlena. Entah mengapa, jauh di dalam lubuk hati aku mempercayai kata-katanya.


Aku pun menikmati dan mengikuti segala permainan yang Deon lakukan pada tubuhku.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘