Silence

Silence
Bab 13



Happy reading 📖📖 ya guys


Mataku mengerjap perlahan terbuka. Sakit kepala berdenyut tiba-tiba menyerang. Rasa pusing membuatku agak mual. Sekelebat bayangan erotis yang terjadi semalam berputar dalam otakku.


Aku benar-benar sudah gila. Namun, aku tidak menemukan perasaan menyesal.


Kulirik jam yang ada di atas nakas. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang.


Aku bergerak bangun dari ranjang lalu melangkah menuju kamar mandi. Aku menemukan bathtub di dalam.


Aku pun memutuskan untuk berendam terlebih dahulu baru kemudian membersihkan tubuh dengan tujuan untuk menghilangkan rasa berkedut dan sedikit perih di bagian intiku.


Beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe-nya Deon yang kebesaran untuk menutupi tubuhku.


Aku segera mencari dress yang kukenakan semalam, tapi tidak menemukannya. Pakaian dalam juga tidak ada. Di bawah kasur? Di bawah meja? Tidak ada! Aku bergegas keluar dari kamar mencari Deon.


“Hai! Sudah bangun? Lo nyenyak banget tidurnya. Gue jadi tidak tega bangunin lo. Delivery food-nya baru sampai, nih! Yuk, makan!” sapa Deon riang.


“Dress gue mana?” Aku tidak menemukannya juga di ruang tamu.


“Gue meminta bagian Apartment laundry service untuk mencucinya. Setelah selesai, mereka akan mengantarnya ke sini.”


Aku mengeluarkan satu strip obat dari dalam clutch, lalu berjalan ke dapur. “Ada air putih?” tanyaku pada Deon.


Deon menuang air putih ke dalam gelas lalu memberikannya padaku.


Aku mengambil satu tablet berwarna pink itu ke dalam mulut dan menegak air minum hingga habis.


“Itu obat apa?” Deon mengernyitkan keningnya.


“Pil kontrasepsi.”


Deon pun menepuk jidatnya. “Ya, ampun! gue benar-benar lupa pakai pengaman. Sorry ....”


Aku hanya balas mengangguk.


“Tapi … lo siapin obat itu di dalam tas, berarti lo sudah merencakannya dari awal? Melakukan one


night stand with someone you don’t know who?” Nada suara Deon terdengar mulai meninggi.


“Pakaian dalam gue di mana? Gue tidak menemukannya di mana pun,” tanyaku sengaja mengalihkan topik.


Deon menatap tajam padaku. “Jangan mengalihkan percakapan, La! Apa lo tidak mikir, seandainya semalam tidak ada gue di sana, apa yang akan terjadi pada diri lo? Tempat semalam yang lo kunjungi itu banyak orang bejat. Lo mau melepas keperawanan lo dengan orang seperti mereka? Di mana otak lo?”


“Lo sudah mirip nenek-nenek cerewet, deh, Deon. Pada akhirnya lo ada di sana dan menolong gue, kan?”


Deon masih terlihat emosi. Kursi yang dia duduki mengeluarkan suara decitan keras ketika dia tiba-tiba berdiri lalu pergi ke ruang tamu.


Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Di sana hanya ada satu sofa panjang.


Melihat sofa itu, membuatku teringat adegan panas semalam. Seketika wajahku terasa panas. Apakah di sana masih ada bercak darah?


Deon menatapku. Seolah mengerti apa yang sedang aku pikirkan, dia pun berkata, “Gue minta teman gue membantu memesankan sofa baru. Sementara gue tutup pakai kain. Tenang saja. Gue akan atur agar saat orang yang mengangkut sofa ini, bercaknya tidak akan terlihat.”


Aku duduk di sampingnya. Sesaat keheningan meliputi di antara kami.


Rasanya aneh. Padahal, selama ini kami terjebak dalam hubungan teman kerja. Mengapa karena adegan satu malam membuat hubungan kami sepertinya berubah?


“Masih sakit?” tiba-tiba Deon bersuara.


Aku menatap ke arahnya dengan dahi mengernyit.


“Semalam itu yang pertama untuk lo. Bukankah yang pertama itu sakit? Apalagi kita melakukannya sampai dua ronde.”


Aku memukul bahunya keras sehingga dia mengaduh kesakitan. “Tentu saja sakit! Apa perlu dijelaskan berapa kali kita melakukannya?” sengitku.


Deon tertawa terbahak-bahak. “Jujur. Gue belum pernah melakukannya dengan perawan. Gue tahu wanita yang masih menjaga keperawanannya berarti bagi mereka sangatlah penting dan gue menghargai keputusan mereka.”


Diam-diam aku merasa kagum terhadapnya.


Sudah kuduga Deon bukanlah pria berengsek seperti di klub semalam. Hanya saja cap Playboy yang melekat pada dirinya membuatnya terlihat seperti pria tidak bertanggung jawab.


“Hei, Deon! Boleh gue bertanya? Apa yang membuat lo sering bergonta ganti pacar?” tanyaku ingin tahu.


“Kita makan siang sambil ngobrol, yuk!” Deon menarik tanganku untuk berdiri.


Karena gerakan yang terlalu tiba-tiba, membuat kewanitaanku kembali berdenyut perih. Tanpa sadar aku meringis.


Deon menatapku khawatir. “Sakit banget, ya?”


Aku mengangguk.


Deon menggendongku ala bride style menuju pantri dapur. Kemudian menurunkan tubuhku di atas kursi dengan pelan.


Jantungku berdebar-debar. Ini sinyal yang tidak baik untukku!


“Gue suka bergonta ganti pacar sejak kuliah. Gue tipe Orang yang tidak suka diatur, tidak suka dikekang dalam hal sekecil apa pun. Intinya gue menyukai kebebasan.” Deon mulai bercerita sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Saat kuliah pun sempat berantakan karena gue menjalani aktifitas kuliah dengan malas-malasan. Sampai-sampai orang tua gue khawatir apakah gue bisa lulus sarjana atau tidak. Herannya, gue bisa lulus dengan predikat cum laude,” ucap Deon dengan bangga.


Aku memutar mata ke atas. “Tingkat kenarsisan lo terlalu tinggi.“


Deon terkekeh geli melihat reaksi wajahku. “Kalau lo benci dengan aturan dan tidak suka dikekang, kenapa lo bekerja di kantor sebagai Accounting?“


Deon tersenyum dan menjawab dengan singkat. “Cari pengalaman saja.”


“Cari pengalaman sampai lima tahun? Wow! Sekarang gue mengerti perasaan kedua orang tua lo. Entah kehidupan seperti apa yang lo jalani ke depannya,” ucapku mengejek yang di sambut tawa gelak Deon.


Suapan terakhir masuk dalam perutku. Deon memberiku segelas Caffe Americano yang kubalas dengan senyum.


Beberapa kali kami pernah lunch bersama dengan rekan kerja lainnya. Dia tahu apa yang kami suka dan apa yang tidak kami suka. Deon sungguh teman yang baik.


“Dress gue kapan selesai? Bathrobe ini kebesaran,” keluhku.


“Petugas laundry-nya mengatakan setelah jam makan siang akan di antar kemari.”


“Pakaian dalam gue juga?” Aku menunduk, berusaha menutupi wajahku yang memerah karena mengajukan pertanyaan terlalu intim.


Deon menggaruk kepalanya sambil tersenyum cengir. “Pakaian dalam lo tertinggal BeHa saja. Sedangkan underwear lo … gue tidak sengaja merobeknya saat kita … hmm … melakukan pemanasan.“


“What? Lalu gue harus pakai apa, dong? Masa gue pulang tidak memakai underwear?”


“Gu- gue pinjamin boxer pendek gue,” tukas Deon.


“Jangan gila, deh!” tolakku.


“Dari pada lo tidak memakai apa pun? Lebih baik pakai punya gue, kan? Apalagi ….”


“Apalagi apa?” kataku memasang wajah masam.


“Memangnya lo tidak takut gue nerjang lo lagi? Apalagi sekarang mendengar lo mengatakan tidak memakai apa-apa di … bawah … sana,” Deon menjawab dengan terbata-bata.


Aku berdeham demi menyamarkan rasa kikuk yang mulai terasa di antara kami. “Cepat ambil! Sekalian gue pinjam kaos lo.”


Dengan langkah tergesa-gesa, Deon berjalan menuju kamarnya.


Beberapa menit kemudian, dia keluar sambil membawa sebuah t-shirt dan boxer pendek. “Nih! Coba lo pakai. Panjangnya mungkin pas karena tidak ada celana yang cocok untuk lo pakai.”


Aku mengangguk, mengambil t-shirt dan boxer-nya, lalu ke toilet tamu untuk ganti.


Kaosnya memang kebesaran. Hanya tertutup sampai di bagian paha. Mau tidak mau aku memakainya untuk sementara sampai menunggu dress ku datang.


Aku melihat Deon sedang duduk di sofa sambil menonton acara televisi.


Aku menarik sedikit ujung kaos sebelum duduk di sampingnya agar bagian paha yang tidak tertutupi kaos tidak terlalu banyak terekspos.


Tanpa menoleh, Deon menaruh bantal kecil kepadaku di bagian atas paha. “Tutupin pakai itu kalau tidak mau ada ronde ketiga,” ucapnya.


Aku mengangguk sambil mengatur debaran jantung yang berdegup lebih cepat.


Apa yang sedang terjadi padaku? Apakah efek minuman beralkohol belum sepenuhnya hilang?


Sial! Aku masih harus terjebak bersamanya selama dua jam. Lebih baik aku mencari kegiatan agar tidak berpikir macam-macam.


Aku segera mengambil ponsel. Begitu aku mengaktifkan benda tersebut, ada banyak pemberitahuan chat masuk dan missed call dari Erik, tante Fifi, Maylin, Agatha, Bella, dan juga mama?


Aku hendak membuka chat dari tante Fifi, tetapi Bella meneleponku.


“Rayla! Di mana lo sekarang? Gila, ya! Lo tidak pulang ke rumah juga tidak memberi kabar apa-apa. Gue terpaksa berbohong saat tante Fifi menelepon. Gue bilang kalau kita sedang menghadiri party dan gue mabuk. Jadi, lo yang mengantar gue pulang. Berhubung karena sudah terlalu larut malam, lo memutuskan tidur di tempat gue. Beruntung mereka percaya cerita karangan gue.” Tanpa basa basi dia langsung menghardikku.


“Sorry. Sekarang gue sedang berada di tempat rekan kerja gue. Nanti sore kita kumpul, yuk! Mau di mana?”


“Di Apartemen gue saja. Gue suruh Agatha ke sini,” jawab bella.


“Ok. Sekitar jam empat sore, ya. Bye.”


Sambungan telepon dari Bella baru saja dimatikan, ponselku kembali berdering. Erik’s calling.


Aku ragu antara mengangkat telepon darinya atau tidak.


Aku menoleh sebentar ke arah Deon yang masih sedang menonton acara televisi. “Halo!” jawabku.


“Where are you now, Rayla? Kemarin seharian aku mencarimu, tapi kamu tidak membalas chat aku satu pun juga tidak menelepon balik!” Ada perasaan emosi di balik suaranya.


“Aku menghadiri pesta teman. Salah satu sahabatku mabuk. Aku mengantarnya pulang dan karena sudah terlalu malam, aku memutuskan menginap di rumahnya. Kebetulan ponselku mati kehabisan baterai. Sorry ….”


Deon melirikku. Dahinya mengernyit. Aku membalas lirikannya dengan tatapan tajam. Memperingatinya untuk tidak mengeluarkan suara apa-apa.


Namun, Deon memang benar-benar kurang ajar. Dengan sengaja dia memperbesar volume suara televisi dengan remote.


“Suara apa itu? Kamu masih berada di rumah sahabatmu?” tanya Erik.


“Ya. Sahabatku sedang menonton televisi.”


“Sahabatmu suka menonton pertandingan basket?” tanya Erik lagi.


“Dia suka basket. Wanita menonton pertandingan basket tidak masalah, kan?” tanyaku ketus.


Deon tersenyum. Aku melotot padanya. Kemudian aku bangun dari tempat duduk dan berjalan menuju pantri dapur.


“Oke, no prob. Not my business. Anyway, mulai besok sopirku akan mengantarmu pulang pergi kerja.“


Aku terkejut mendengar keputusan sepihak dari Erik. “Aku tidak-”


“Kali ini jangan membantah, Beb. Kamu sudah membuatku khawatir dua kali. Pertama, mengenai kamu dinner dengan rekan kerja kamu. Kedua, semalaman kamu tidak mengabari aku apa pun. Bahkan, pergi ke acara temanmu juga tidak memberitahuku. Karena itu aku sudah memutuskan selama aku berada di Aussie, sopirku yang akan mengantar jemput. Aku sudah mengatakan pada tante Restin. Tante pun setuju.”


Mama tentu saja setuju. Mana mungkin dia berani mengatakan tidak kepada Erik, calon menantu idamannya.


“Erik, selama ini aku sudah terbiasa mandiri. Aku mengerti maksudmu, tapi aku tidak mau merepotkan sopirmu. Aku lebih suka menggunakan transportasi umum,” ucapku mencoba membuat Erik mengerti.


"Lalu mengapa kamu membiarkan pria itu mengantarmu pulang? Aku tidak mau pria itu semakin mendekatimu, Beb. Kamu adalah calon istriku. Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri bahwa kamu sudah tidak seorang diri lagi."


Aku menghela napas frustasi. Tiba-tiba pada bagian tengah dahiku berdenyut dan sedikit pusing.


“Aku sibuk dulu, ada tugas dari kuliah yang harus aku kerjakan. Keep contact denganku, Beb. I miss you.” Lalu Erik memutuskan sambungan dari sepihak begitu saja. Apakah aku punya pilihan lain?


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘