Silence

Silence
Bab 95



*Happy reading 📖📖 guys*


3 bulan kemudian


Aku berjalan masuk dengan cepat ke dalam ruangan kerja Deon sambil memasang muka cemberut. Masih teringat jelas kejadian pertemuan tadi dengan calon kolega baru, seorang wanita cantik blasteran Amerika. Dengan tidak tahu malu wanita centil itu sambil membahas kerja sama sambil menggoda Deon di depan mataku.


Aku hampir saja lepas kontrol, hendak menjambak rambutnya lalu mencakar wajahnya yang cantik penuh polesan make up itu, kalau tidak ingat wanita itu adalah sang pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan Deon.


“Sayang, kamu masih marah?” tanya Deon sambil menutup pintu.


Aku memutar balik tubuh menghadap Deon. “Kalau kamu tidak tebar pesona, wanita itu tidak akan menggoda kamu!” tukasku dengan sengit.


“Demi Tuhan, Sayang. Aku tidak melakukan apa-apa. Tidak perlu tebar pesona pun memang wajahku ini tampan dari sananya,” jawab Deon mengerling jahil.


“Kamu memang tampan, tapi entah kenapa hari ini kamu terlihat berlipat-lipat kali tampannya. Kamu pasti sengaja, kan? Karena calon kolega bisnis kamu kali ini ternyata bosnya adalah seorang wanita yang sangat cantik dan dia terpana melihat ketampananmu. Senang, kan?” Aku mendengkus keras.


Deon menatapku kaget. “Astaga, Sayang. Seharusnya aku senang kamu memujiku, tapi pikiran buruk tentangku di kepalamu sekaligus membuatku sedih.”


“Akhir-akhir ini kamu memang selalu membuatku berpikiran buruk!” balasku ketus.


“Sayang, mana mungkin aku jatuh cinta kepada wanita lain saat mataku ini hanya bisa melihat kamu. Saat hatiku ini sudah terisi sama kamu dan cintaku hanya milikmu,” ucap Deon dengan nada menggoda.


“Kalau begitu, batalkan saja kerja sama ini!” teriakku.


Tidak hanya Deon yang terkejut, tetapi aku sendiri juga sama terkejutnya atas ucapanku barusan. Aku tahu harus bersikap profesional dengan tidak mencampuradukkan masalah pribadi dan pekerjaan. Namun, entah mengapa kehadiran wanita cantik tadi membuatku cemburu seperti ini.


“Kamu serius, Sayang?” Satu alis Deon terangkat ke atas.


Tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Refleks aku memijat bagian pelipis untuk meredakan nyeri. Deon merengkuh kedua lenganku, lalu menuntunku duduk. “Wajah kamu terlihat pucat, Sayang. Di mana yang tidak enak badan?” Nada suara Deon terdengar cemas.


“Beberapa belakangan ini migrainku kambuh,” jawabku sambil memejamkan mata.


“Kita ke rumah sakit, ya?”


Aku menggeleng-geleng kepala. “Tidak usah. Biasanya sakit kepala ini hanya beberapa jam saja. Setelah istirahat yang cukup, migrainnya akan hilang.” Aku membaringkan diri di atas sofa.


“Mungkin karena insomnia mengakibatkan migrain kamu kambuh. Bukankah beberapa malam belakangan ini kamu sulit tidur? Lebih baik kita periksakan ke Dokter, Sayang,” ucap Deon sambil membelai kepalaku dengan lembut.


Sentuhannya membuat sakit di kepalaku mulai berkurang. “Sebenarnya aku kesulitan tidur karena sering bolak balik buang air kecil,” terangku.


“Sebelum tidur coba kurangi minum air. Kalau masih begitu juga, kita periksa ke dokter,” saran Deon yang langsung kubalas dengan anggukan kepala. “Ya sudah, tidurlah dulu. Jangan banyak berpikir.”


Tidak lama kemudian, rasa kantuk pun datang menghampiri. Samar-samar aku mendengar satu kalimat di telingaku, “I love you.” sebelum mataku terpejam.


*****


Kelopak mataku perlahan bergerak membuka. Sudah berapa lama aku tertidur? Di mana Deon? Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, hingga sorot mataku menangkap secarik kertas di atas meja.


Aku dan pak Broto pergi menghadari rapat. Kamu di kantor saja, istirahat. Kalau masih pusing, hubungi aku. Kita segera pergi ke rumah sakit. Jangan lupa minta Elia bawakan makanan untukmu. Kamu belum makan siang.


Aku tersenyum membaca tulisan tangan Deon di kertas itu. Dia sangat perhatian kepadaku. Kenapa aku malah berpikiran yang tidak-tidak padanya?


Sepertinya aku mulai memiliki kecemburuan yang berlebihan. Memiliki rasa cemburu terhadap pasangan memang hal wajar, tetapi cemburu yang terlalu berlebihan dapat berpotensi merusak hubungan. Aku harus mengontrol rasa cemburu itu.


Aku meraih ponsel yang tergeletak di meja, lalu mencari kontak Whats App Deon, kemudian mengetik sebuah pesan.


Me: Sakit di kepalaku sudah baikan. Maafkan sikap kekanak-kanakanku tadi. Tentang aku yang minta membatalkan kerja sama itu, tidak usah digubris. Aku hanya cemburu karena wanita tadi terus menggodamu. I trust you and I love you too.


Setelah menekan tanda sent, aku berjalan keluar mencari Elia karena perutku sudah berbunyi. “Elia, tolong suruh OB belikan saya nasi goreng abang-abang yang ada di seberang gedung kantor, ya.”


“Saya tahu, tapi saya lagi kepingin nasi goreng buatan abang-abang yang di seberang gedung ini. Minta tolong OB, ya.”


“Baiklah, Bu.” Elia mengangkat gagang telepon lalu hendak menghubungi Koordinator OB.


“Saya mau yang extra pedas. Minta abangnya ganti telur orak arik dengan mata sapi setengah matang, ya,” imbuhku.


“Hah?” Elia terperangah mendengar permintaanku.


“Hmm … saya tahu ini terdengar aneh, tapi saya sedang tidak mau makan telur orak arik. Membayangkan bentuknya yang bercampur dengan nasi saja membuat saya jijik dan mau muntah.”


“Baik, Bu.” Elia mengangguk-angguk kepalanya.


“Cepat, ya. Saya sudah kelaparan,” kataku lagi, lalu kembali masuk ke dalam tanpa menunggu jawaban dari Elia.


Aku merebahkan tubuhku di sofa. Tubuhku masih terasa lelah. Perlahan kesadaranku mulai menipis. Aku pun kembali terlelap.


Entah sudah berapa lama aku tertidur, hingga terdengar suara Elia. “Bu Rayla, bangun. Pesanan ibu sudah datang,” katanya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.


“Terima kasih, Elia,” ucapku sambil mengucek mata dan menguap lebar. Kemudian aku segera menyantap nasi goreng itu dengan lahap.


Tepat setelah aku menghabiskan suapan terakhir, terdengar suara bunyi ketukan pintu. “Bu Rayla, ada tamu yang mencari ibu,” lapor Elia begitu aku mempersilahkannya masuk.


“Siapa?” tanyaku heran.


“Seorang wanita, Bu. Saya sudah menanyakan namanya siapa, tapi beliau tidak mau memberi tahu.”


Apakah Agatha? Atau Bella? Tapi mereka tidak bilang kalau mereka akan datang kemari.


“Apakah ibu mau bertemu?” tanya Elia.


“Baiklah. Bawa tamu itu ke ruang meeting. Saya ke kamar mandi dahulu.”


“Baik, Bu.” Elia membungkukkan sedikit tubuhnya sebelum kembali ke tempatnya.


Setelah aku selesai merapikan penampilan yang sedikit berantakan setelah bangun tidur tadi, aku melangkah menuju ruang meeting. Dinding pembatas ruangan itu terbuat dari kaca sehingga dapat melihat ke dalam.


Kecantikan pada wajah wanita yang sedang duduk di dalam itu seperti model. Aku merasa pernah melihatnya sebelumnya, tapi tidak ingat di mana. Wanita itu bangkit berdiri ketika melihatku. Tubuh wanita itu tinggi langsing ditutupi dress hitam tanpa lengan yang sangat membentuk tubuh langsingnya. Berwajah tirus dengan hidung mancung dan bibir merah yang penuh.


“Saya Rayla Pramanta. Maaf, ada apa Anda mencari saya? Apakah kita saling mengenal?” tanyaku setelah masuk ke dalam sambil mengembangkan senyuman. Aku berusaha bersikap profesional meskipun tanda tanya memenuhi kepalaku.


Wanita itu dengan cepat menghampiriku lalu melayangkan satu tamparan pada wajahku. Pukulan mendadak itu tidak dapat ditangkis karena saking cepatnya. Aku sampai mundur beberapa langkah darinya. Pipiku terasa sangat perih.


“Dasar anak haram! Belum puas ibu kamu menghancurkan rumah tangga saya, lalu sekarang kalian ingin menggunakan harta keluarga saya?” bentak wanita itu.


“Anda siapa? Mengapa seenaknya melakukan kekerasan kepada orang asing? Saya bahkan tidak mengenal Anda!” Aku berusaha menelan sumpah serapah yang hampir berhamburan keluar dari mulutku untuk wanita itu. What the helll! Siapa wanita gila ini? Apa salahku kepadanya sehingga menamparku?


“Tidak kenal katamu? Setelah bertemu dengan suami saya, masih berpura-pura tidak mengenal saya? Kamu pikir saya seperti suami saya yang mudah dibohongi, hah?” teriaknya.


Papa kandung? Suami? Apa maksudnya?


“Auristela allisya Osborn. Istri sah Frans Pramanta!” tukasnya yang membuatku terkejut. “Sekarang namanya adalah Frans Osborn. Jadi, dia bukan papamu lagi!”


Mendadak sakit di kepalaku kembali menyerang. Bersamaan dengan itu, bayangan seraut wajah diingatanku menjadi jelas. Wajah yang pernah kulihat di media sosial sedang berdiri di hadapanku. Ya, istri pertamanya pria itu.


*Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like dan Dukungannya supaya aku semakin semangat menulis ya guys. Terima kasih**🙏Tambahkan juga ke Favorite supaya tidak ketinggalan up-nya🤗Loph you all😘*