
*Happy reading 📖📖 ya guys*
Aku berdiri mematung di depan sebuah bangunan rumah dengan perasaan campur aduk.
Sembilan tahun yang lalu, Aku, Agatha dan Bella menjadikan rumah di depan mataku ini sebagai markas tempat kami berkumpul tanpa meminta persetujuan sang pemilik rumah.
Kenangan saat kami berkumpul bersama di tempat ini kembali berputar. Saat Bella sering mengacaukan isi kamar Jason dan tidak mempedulikan protesan dari Jason. Saat kami menghabiskan waktu bersenda gurau diiringi gelak tawa bersama.
Namun, sayangnya masa-masa bahagia itu hanya berlangsung enam tahun.
Bagi mama, kebahagiaanku tidaklah penting dibandingkan ambisinya untuk menikahkan anaknya kepada pria yang memiliki harta berlimpah.
Dengan egoisnya, mama meminta Jason yang sangat mengerti diriku agar pergi dari kehidupanku sehingga aku kembali terluka untuk kedua kalinya setelah papa meninggalkan diriku.
Aku menekan bel pintu dengan tangan bergetar. Aku berusaha mengontrol debaran jantung saat ini yang berdebar dengan cepat.
Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika Jason berada di hadapanku nanti.
Namun, satu hal yang pasti. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku sangat merindukan dirinya.
Suara kunci pintu rumah yang sedang dibuka terdengar. Lalu pintu di hadapanku pun terbuka.
Wajah Tante Sartin, mama Jason, muncul di balik pintu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. “Rayla? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu, Nak?”
Aku berusaha menarik bibir untuk tersenyum. “B- baik, Tante.”
“Silahkan masuk!” Tante Sartin membuka pintunya lebih lebar agar aku dapat masuk.
“Tidak perlu, Tante. Saya hanya ingin bertemu dengan Jason sebentar. Apakah dia ada di dalam?” tolakku dengan halus.
Alis Tante Sartin mengernyit. “Perusahaan tempat Jason bekerja, memutasikan dirinya ke daerah Sumatera untuk sementara waktu. Kamu tidak tahu perihal ini, Rayla?” tanya Tante Sartin terheran.
“Jason sudah berangkat seminggu yang lalu. Bella yang mengantarnya ke bandara. Bella berkata kalau kamu sedang sibuk, jadi hanya Bella yang bisa mengantar Jason. Atau Tante salah dengar, ya?”
“Ah! Ya. Sa- saya lupa, Tante. Berapa … lama mutasinya, ya, Tan?”
“Jason memberitahu Tante sih, satu tahun. Perusahaannya buka cabang baru di sana.”
“Kalau begitu, saya pulang dulu, Tante.” Setelah pamit, aku segera memutarbalik tubuh lalu bergegas melangkah cepat meninggalkan tempat tersebut.
Aku mengambil ponsel dari dalam tas. Menekan sambungan keluar dan menghubungi sebuah nomor dengan tangan gemetar.
Aku memang telah menghapus nomornya dari daftar kontak telepon. Namun, nomor tersebut tidak pernah menghilang dari ingatanku.
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi." Terdengar bunyi jawaban dari operator
Dadaku berdenyut sakit. Pandangan mataku mulai mengabur. Setetes air mata lolos dari salah satu mataku.
Air mataku sudah tak lagi terbendung. Bulir air mata jatuh mengalir dari kedua kelopak mata dengan deras.
Aku menekap mulut, berusaha menahan suara agar tidak menjerit. Namun, sia-sia saja.
Pertahananku runtuh. Kakiku terasa lemas, tidak ada tenaga sehingga tubuhku merosot jatuh ke aspal lalu menjerit frustasi.
Mengapa setiap merasa ada sebuah harapan, selalu saja berakhir dengan kekecewaan? Dosa besar apakah yang pernah aku lakukan, Tuhan? Mengapa Engkau selalu memberiku cobaan yang sangat berat?
*****
DEON
Gue melempar kunci di meja, lalu duduk di sofa sambil menghela napas berat. Ucapan papa kembali terngiang di benak saat tadi gue pulang ke rumah.
“Papa sudah menunggu kamu selama kurang lebih hampir enam tahun, Deon. Sudah saatnya kamu mulai serius belajar mengurus perusahaan. Umur papa sudah tidak muda lagi. Papa butuh kamu sebelum suatu hari tiba-tiba papa ambruk karena sakit. Selama ini papa memberimu kebebasan, membiarkan dirimu melakukan apa yang kamu mau. Namun, sudah saatnya kamu berhenti bermain-main. Tinggal kamu satu-satunya anak laki-laki papa yang dapat meneruskan perusahaan ini.”
Gue menyandarkan kepala pada sandaran sofa dengan mata terpejam. Kilasan tentang peristiwa tujuh tahun yang lalu kembali terbayang.
Ketika kak Steven, kakak kandung gue, mengalami kecelakaan parah sehingga menyebabkan dirinya kehilangan nyawa pada saat dilarikan ke sebuah rumah sakit terdekat.
Om Gunawan kemudian menawarkan pekerjaan kepadaku dimana saat itu gue baru saja wisuda, sebagai Staff Accounting yang akhirnya gue terima setelah menimbang baik-baik.
Namun, gue membuat syarat tetap memperlakukan diri gue sebagai karyawan lainnya dan mengikuti proses seleksi karyawan baru sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.
Meskipun itu perusahaan milik papa, tapi gue tidak suka diskriminasi. Gue lebih senang dikenal sebagai diri gue sendiri apa adanya.
Oleh karena itu, gue juga minta Om Gunawan untuk merahasiakan identitas gue terkecuali bagian HRD dan Personalia.
Atas perintah papa, kak Denis, suami dari kak Sarah, menggantikan posisi kak Steven karena kemampuan yang dimilikinya setara dengan kak Steven.
Gue mengira posisi CEO sudah jatuh ke tangan kak Denis dan gue tetap bebas dari tanggung jawab itu. Namun, ternyata itu hanya untuk sementara.
Sejak dulu gue tidak tertarik dengan bisnis, tapi gue juga tidak bisa menolak permintaan papa karena hanya tinggal gue satu-satunya anak laki-laki dari keturunan papa.
Seandainya saja Kak Steven tidak meninggal karena kecelakaan, tanggung jawab berat ini sudah pasti dibebankan padanya.
Dengan kecerdasan yang dimilikinya, dia mampu menghandle perusahaan dengan sangat baik.
Tiba-tiba suara panggilan masuk pada ponsel gue berbunyi.
Arif Bartender’s calling.
“Buruan ke sini jemput cewek lo. Dia mabuk berat. Banyak cowok yang mendekatinya, tapi gue sudah menyampaikan pesan lo pada mereka. Gue makin sibuk, gak punya banyak waktu jagain cewek lo ini.”
“Sekarang juga gue ke sana. Jagain dia dulu! Kalau sampai terjadi apa-apa, gue bikin perhitungan sama lo!”
Suara berdecak terdengar dari seberang sana. “Komisi gue harus dobel, ya!”
Gue tidak menggubris ucapan Bartender itu. Gue meraih kunci mobil lalu berjalan melangkah dengan cepat ke parkiran dan menyetir dengan kecepatan maksimal menuju Golden Crown.
Gue tahu Rayla tidak mungkin menurut begitu saja pesan yang gue ucapkan pada saat mengantarnya ke Apartemen temannya.
Oleh karena itu, gue meminta Bartender yang bernama Arif agar menghubungi gue kalau Rayla datang ke sana lagi seorang diri.
Rayla memang tidak menceritakan apa-apa, tapi feeling gue mengatakan ada banyak masalah dalam hidupnya.
Dia tidak seperti wanita lainnya. Dia wanita baik-baik, mandiri dan terkesan dingin karena menjaga jarak dengan siapa pun. Dia memang terlihat tegar di luar, tapi tidak di dalam hatinya. Buktinya, saat malam itu dia terlihat sangat rapuh.
Hari demi hari hubungan pertemanan kami semakin akrab. Beberapa kali gue memergoki dirinya sedang melamun. Entah mengapa, muncul perasaan kuat untuk melindunginya.
Gue ingin sekali membantu mengatasi apa pun masalah yang sedang dihadapinya.
Sayangnya, Rayla masih belum sepenuhnya percaya kepada gue untuk menceritakan masalahnya.
Gue yang biasanya tidak perlu bersusah payah mengejar wanita karena wanita itu sendirilah yang bersedia datang, untuk pertama kalinya dalam hidup gue, Deonartus Surbakti, berusaha keras mencoba mendekati seorang wanita biasa, Rayla Pramanta, selama tiga tahun walau sekadar teman sekali pun.
Gue menginjak rem dengan tiba-tiba hingga mengeluarkan bunci berdecit keras ketika sudah sampai di depan pintu masuk.
Gue memberi kunci mobil kepada penjaga. “Gue cuma sebentar. Jaga mobil gue,” ucap gue memberi perintah.
Klub ini adalah tempat menongkrong langganan gue bersama teman-teman. Jadi, gue adalah salah satu member VIP di Klub ini.
Semua orang penghuni Klub ini mengenal gue, kecuali pengunjung baru.
Ketika gue berjalan masuk dengan langkah terburu-buru, mata gue langsung menangkap sosok tubuh Rayla yang sedang duduk dengan kondisi kepala menelungkup di atas meja barstool.
Gue bergegas menghampirinya. “Rayla!”
Rayla menengadahkan kepalanya. Wajah dan kedua matanya memerah. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. “De … on … lo nguntit gue?”
Gue melotot tajam pada Arif. “Kenapa lo membiarkan dia mabuk?” tanyaku dengan suara keras.
“Santai, Bro! Gue hanya pegawai. Sebagai Bartender, gue harus membuat minuman pesanan pengunjung tersebut. Kalau gue menolak, gue bisa dipecat bos.”
Gue menggertakan gigi dan mengepal tangan demi menahan emosi.
Gue paham itu adalah tugas mereka. Tidak seharusnya gue menyalahkan Arif. Hanya saja gue tidak bisa mengontrol amarah ini ketika melihat Rayla dalam keadaan mabuk.
“Deon … kepala gue pusing … wajah lo, kok, jadi ada dua, sih?” Suara Rayla kembali terdengar.
Fix! Dia benar-benar mabuk. Kali ini dia pasti minum terlalu banyak.
Gue mengeluarkan lima lembar seratus ribuan dan menyodorkannya pada Arif. Dia menerima uang tersebut dengan bibir melebar hingga memperlihatkan gigi giginya.
Gue segera mengangkat tubuh Rayla, lalu menggendongnya, kemudian berjalan melangkah keluar.
Ketika melihat gue keluar, dua orang Bodyguard penjaga pintu dengan sigap membuka pintu mobil pada samping pengemudi dan men-starter-kan mobil.
Gue mendudukkan Rayla di kursi penumpang depan mobil dan ketika gue sedang memasangkan seatbelt untuknya, Rayla tiba-tiba merangkul leher gue. Jarak wajah kami berdua sangat dekat. Posisi ini membuat adik kecil gue terbangun.
****! Lo mirip remaja yang sedang masuk masa pubertas saja, Deonartus! Masa hanya karena sentuhan sedikit seperti ini lo sudah terangsang? Murahan banget, sih, gue?
“Malam ini lo … Hik! ... terlihat ganteng banget, Deon … Hik! ... pantas banyak … Hik! … wanita yang … bersedia… Hik! … jadi kekasih lo,” ucap Rayla sambil cegukan.
Gue melepas rangkulannya, lalu menutup pintu mobil dengan terburu-buru.
Sambil menenangkan isi kepala dan bernegosiasi dengan adik kecil di bawah sana, gue berjalan mengitari sisi lain masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobil meninggalkan Klub.
“Deon … apakah lo pernah disakiti oleh orang yang lo percaya? Gue … sudah beberapa … kali … dikecewakan.” Rayla menatap gue. Bendungan air di pelupuk matanya seketika turun.
“Siapa yang ngecewain lo, La?” ucap gue balik bertanya.
“Sakit … sesak … rasanya sulit sekali bernapas ….”
Sekilas gue menoleh ke samping. Dengan wajah berurai air mata, Rayla sambil memukul-mukul dadanya sendiri.
Melihat dirinya yang rapuh, luapan emosi muncul seketika. Perasaan ingin menghajar orang yang telah melukainya begitu kuat, membuat gue mencengkeram setir mobil lebih kuat.
“Gue antar lo pulang,” tukasku.
Rayla tertawa parau, tawa yang tidak sampai ke matanya. “Pulang … ke mana? Gue tidak … punya tempat … untuk pulang.”
Dahi gue mengernyit. Seingat gue pernah mengantarnya pulang pada saat kami selesai makan malam. Apakah ada masalah yang sedang terjadi pada keluarganya?
“Tidak ada yang … membutuhkan gue. Dari awal … keberadaan gue … memang sebuah kesalahan.” Ada kegetiran dalam suaranya.
“Kalau begitu … untuk apa … gue ada di dunia ini?” ucapnya lemah.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘