Silence

Silence
Extra Part 5 - 19 Tahun yang lalu



*Happy reading 📖📖 guys*


Mendengar hari Senin tiba adalah hari dimana kalangan para siswa akan mengeluh dan menjadi malas.


Selain dikarenakan hari pertama setelah libur dua hari, juga merupakan waktu pelaksanaan upacara bendera yang menjadi kewajiban yang harus dikerjakan oleh para siswa di sekolah.


Khususnya bagi para siswa yang mendapat tugas untuk menjadi petugas acara, mereka akan dag dig dug gemetaran untuk menanti hari tersebut.


Selama pelaksanaan upacara bendera berlangsung, ada siswa yang berbicara ataupun bersenda gurau sesama temannya. Ada juga siswa yang mencari tempat berlindung dari terik matahari ataupun berebutan untuk berbaris di posisi belakang agar tidak terlihat oleh guru dari depan, sehingga dapat bercanda sesama temannya.


Seorang siswi melompat turun dari motor ketika sampai di depan gerbang yang masih sedikit terbuka.


“Pulang sekolah tunggu Papa di sini kalau Papa masih belum sampai. Mengerti?” Sang Ayah menerima helm yang disodorkan oleh putrinya.


“Iya. Rayla masuk dulu. Sudah terlambat, nih!” Kemudian ia berlari secepatnya menuju lapangan sekolah.


“Kamu datang terlambat.” Salah satu guru menegur Rayla yang baru saja tiba setelah sepuluh menit yang lalu upacara dimulai.


“Maaf, Pak. Motor papa saya tadi mogok. Jadi, saya terlambat.” Rayla berdiri di depan Guru itu dengan napas yang tersengal-sengal.


“Baiklah. Kamu berdiri di belakang sana saja.” Sang Guru menunjukkan suatu arah dengan jari telunjuk.


Beliau mengenali Rayla adalah salah satu siswi yang berprestasi, disiplin dan taat peraturan. Anak perempuan itu selalu berdiri paling depan dan mengikuti upacara bendera dengan khidmat. Maka dari itu, Rayla diberi kesempatan.


“Bukankah itu barisan anak kelas enam, Pak?” Raut wajah kecewa Rayla tampak terlihat jelas.


“Tidak mungkin kamu menyelip sampai ke barisan depan, Rayla.”


“Baiklah, Pak.” Ia pun berjalan dengan gontai ke arah yang ditunjuk oleh Gurunya.


Menurut Rayla, upacara bendera merupakan hal mutlak yang harus dilakukan untuk mendisiplinkan diri. Oleh sebab itu, ia tidak suka melihat beberapa kakak kelasnya yang berada di hadapannya saat ini sedang bergurau, tidak mengikuti upacara dengan baik.


“Seharusnya sebagai kakak kelas memberi contoh yang baik bagi adik kelasnya.” Tanpa sadar Rayla bergumam keluar pemikirannya.


Salah satu siswa yang mendengar gumaman tersebut pun menoleh ke belakang.


Matanya memicing, memperhatikan wajah Rayla sedangkan yang diperhatikan seketika bergidik, lalu menundukkan kepalanya menghindari tatapan siswa tersebut.


“Siapa nama lo?” tanya siswa itu tanpa menutupi rasa penasarannya.


Rayla tak bergeming. Ia merasa tidak perlu memberi tahu kakak kelasnya.


“Tidak mau jawab? Kalau begitu, gue panggil lo manis, gimana?” tanyanya lagi. Namun, sikap diam yang ditunjukkan gadis kecil di depannya ini malah membuatnya semakin tertarik.


“Lo bisu?”


“Kita sedang melakukan ucapara bendera, Kak. Tidak boleh mengobrol. Apakah pesan dari Guru selama enam tahun tidak pernah masuk ke telinga Kakak?” Rayla kesal karena seenaknya dianggap bisu.


Sepertinya Kakak kelas yang satu ini termasuk salah satu murid nakal. Lihat saja pakaian seragam yang dimasukkan secara asal ke dalam celananya. Juga tidak mengenakan topi dan dasi sesuai aturan sekolah.


“Baru pertama kali lihat cowok tampan, ya?” Siswa itu terkekeh geli melihat arah tatapan gadis kecil tersebut sedang mengamati dirinya.


Rayla mendengkus sebelum memanggil Guru yang berdiri tidak jauh dari sana. “Pak Guru! Kakak kelas ini telah mengganggu saya mengikuti upacara. Saya mau pindah ke barisan lain saja, Pak!”


Sang Guru memandang siswa yang dimaksud Rayla, lalu menghela napas panjang. “Deonartus! Apakah kamu benar-benar mau dihukum terlebih dahulu baru tidak berulah?”


“Saya cuma mengajak gadis manis ini mengobrol doang, Pak!” Siswa yang bernama Deonartus itu balas menyengir.


“Kamu berdiri di samping Bapak saja.” Sang Guru mengajak Rayla agar berdiri di tempatnya tadi.


Beliau sudah pasrah menghadapi sikap kenakalan Deonartus. Beruntung prestasi anak itu bagus secara akademis maupun non akademis. Kalau tidak, mungkin sudah di keluarkan oleh pihak sekolah.


Sepanjang sisa-sisa waktu upacara, dengan ekor matanya Deonartus memerhatikan gadis itu dengan serius. Ia tertegun atas ketegasan yang dimiliki gadis itu.


Wajahnya sangat manis. Kedua matanya besar seperti anak patung. Bibirnya mungil dan berkulit putih bersih. Di antara murid lainnya, penampilan gadis itu terlihat mencolok mata karena seragamnya yang paling rapi dan bersih.


Sejak saat itu, Deonartus selalu menyempatkan diri muncul di hadapan Rayla hanya untuk mengganggu gadis itu. Sampai-sampai Rayla dibuat kesal olehnya.


“Kakak kurang kerjaan ya, ganggu aku terus?” Walaupun Rayla sangat kesal, tapi ia masih ingat pesan dari mamanya kalau kita harus menghormati orang yang lebih tua.


“Wajah lo manis mirip gula, sih. Jadi, wajar dikerubuti semut, dong!” Deonartus tersenyum sampai memperlihatkan deretan gigi putihnya.


“Semut dari mana? Tubuh Kakak bongsor begitu!”


“Heroku adalah papa! Aku tidak butuh hero yang lain!”


“Kalau begitu, gue jadi suami lo saja. Ketika kita dewasa nanti, kita menikah.”


“Suami itu apa? Menikah itu apa?” Dahi Rayla mengerut. Ia tidak paham maksud ucapan Kakak kelasnya itu.


“Deonartus! Cepat kembali ke kelas kamu!” Suara teguran dari seorang Guru tiba-tiba terdengar.


“Siap, saya laksanakan perintah Ibu! Titip pacar saya, Bu!”


Ibu Anisa, Guru Bahasa Indonesia, berkali-kali mengelus dada. Mencoba bersabar menghadapi tingkah anak murid satunya itu yang ajaib. Entah belajar dari mana anak itu tentang pacar, suami, dan menikah.


“Bu, suami itu apa? Menikah itu apa?”


Pertanyaan polos dari Rayla membuat Ibu Anisa tertawa kecil. “Nanti tunggu kamu sudah cukup besar, Ibu akan beri tahu kamu. Sekarang, kamu masuk ke dalam kelas. Pelajaran segera dimulai.”


Begitulah keseharian Rayla di sekolah sejak ia dan kakak kelasnya bertemu. Deonartus tidak pernah jera mendekati Rayla walau sudah diusir berkali-kali.


Pada akhirnya, Rayla pun membiarkan kakak kelasnya itu berbuat sesuka hatinya. Toh, sebentar lagi kakak kelasnya akan lulus sekolah dasar, lalu melanjutkan sekolah menengah pertama di sekolah lain, dan mereka berdua tidak akan pernah bertemu lagi.


Hari kelulusan pun tiba. Dari beberapa hari yang lalu, Deonartus terlihat tidak bersemangat.


Alasannya karena ia tidak dapat bertemu lagi gadis pujaannya setiap hari. Sedangkan Rayla menantikan hari tersebut dengan rasa lega yang luar biasa.


“Kenapa wajah kamu kusut begitu, Deon? Hari ini hari kelulusan kamu, bukan? Seharusnya kamu merasa senang.” Surbakti merasa heran melihat raut wajah putra bungsunya yang tidak seperti biasanya.


“Ada gadis yang kamu sukai, ya?” tanya Amanda sekenanya, tapi sangat mengena di hati putranya tersebut.


“Deon mau menikah dengan gadis manis, Pa, Ma!”


Tawa Surbakti dan Amanda pecah dengan bebasnya. Mereka begitu geli mendengar ucapan lugas putranya itu.


“Pa, Ma, Deon serius! Deon mau menikah sekarang juga!” Intonasi suara Deonartus bertambah, menegaskan bahwa ia sedang serius.


Amanda tersenyum, lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan sang putra. “Menikah itu dilakukan ketika seorang pria dan seorang wanita sudah dewasa seperti Papa dan Mama. Sekarang kamu giat belajar dulu. Setelah lulus dan memiliki pekerjaan seperti Papa, kamu bisa mengajak gadismu itu menikah.”


Deonartus sedang merenung dalam-dalam ucapan Mamanya. Matanya kemudian menangkap sosok gadis yang membuatnya terpikat. Ia pun segera berlari mendekati gadis itu.


“Rayla Pramanta!”


Rayla menghela napas sebelum menoleh ke belakang. Ia hapal betul siapa pemilik suara itu. “Kenapa lag-“


Rayla berhenti bicara akibat mendadak menerima sebuah kecupan di pipi dari Kakak kelasnya. Matanya membulat lebar. Ia merasa jantungnya berhenti.


“Tunggulah! Gue akan kembali lagi mencari lo. Ketika waktu itu tiba, lo harus menikah dengan gue.” Deon berkata dengan lantang.


Bagi orang dewasa yang mendengar kalimat tersebut, mungkin terdengar bagaikan janji biasa yang sering dilakukan oleh anak-anak kepada teman-temannya. Namun, tidak bagi Deonartus Surbakti.


Sementara itu, Surbakti dan Amanda hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan putra bungsunya yang terkesan sangat berani itu.


“Anakmu itu, loh, Pi. Ternyata tidak boleh sembarangan selingkuh. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.” Amanda terkikik geli. Putra bungsunya yang satu ini mewarisi sifat suaminya.


“Memangnya Mami sempat berniat selingkuh, ya?” Surbakti menyipitkan mata. Menelisik kejujuran di wajah istrinya.


“Kalau Playboy-nya Papi kumat, Mami juga mau balas ikutan selingkuh, dong!” Amanda menyunggingkan senyum lebar.


“Papi sudah insaf, Mi. Sekarang junior Papi hanya bisa bereaksi pada saat bersama Mami.” Surbakti merengkuh pinggang istrinya mesra, lalu mengecup pipi wanita itu.


Sesungguhnya ia ingin langsung mel umat bibir ranum yang menjadi candu baginya, tapi ia sadar sedang berada dilingkungan anak-anak yang masih dibawah umur.


Nanti yang ada malah ia dan istrinya masuk ke ruang Kepala Sekolah, lalu mendapatkan ceramah panjang di dalam sana.


Dua tahun setelah Deon melanjutkan sekolah menengah pertama, perasaan rindu yang menyiksa dirinya karena lama tidak bertemu dengan gadis pujaannya, ia pun nekad bolos sekolah, lalu mendatangi sekolah dasar Pelangi.


Sayangnya, ia datang terlambat. Gadis pujaannya telah pindah sekolah setahun yang lalu.


Deon merasakan kekecewaan yang cukup mendalam sehingga ia berpikir untuk jangan terlalu menyukai seseorang secara berlebihan.


*Hai Readers, Extra Part finish sampai di sini. Sebenarnya tentang Rayla dan Deon yang pernah saling kenal waktu masih kecil, pernah diselipkan di episode bagian Rayla flashback mengenang papanya loh **😊 Waktu itu memang sengaja diselipkan karena rencana untuk extra partnya 🤗 Selanjutnya tunggu Spesial Part yang bagiannya ada sedikit nyambung dengan cerita Maylin dinovel berikutnya 🥰 Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘*