
Happy reading 📖📖guys
DEON
Tingkah laku sang Ayah dan Anak yang sedang berada di hadapan gue saat ini, membuat gue muak melihat mereka.
Tanpa merasa sungkan, Mr. Xavier Jadison meminta Rayla agar turut pergi bersama Erik mengambil berkasnya. Berani-beraninya dia menyuruh calon istri dari CEO Deonartus Surbakti. Memangnya dia siapa selain partner bisnis kerja?
Pertemuan bisnis atau meeting merupakan hal penting bagi pihak yang saling bertemu untuk mencapai suatu tujuan. Meskipun dianggap hal kecil, tetapi mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan saat meeting adalah salah satu hal penting yang harus disiapkan sebelum meeting.
Bagaimana mungkin perusahaan Xavier Jadison yang tidak kalah besarnya dengan perusahaan Osborn melakukan keteledoran dengan tidak membawa proposal atau berkas untuk bahan meeting?
Gue curiga, mereka pasti sengaja meninggalkan barang tersebut di ruangan lalu Mr. Erik beralasan pergi mengambilnya dan dia mengambil kesempatan ini untuk bicara berdua dengan Rayla.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya bersedia bantu mengambil berkasnya,” kata Rayla sambil mengelus punggung tangan gue dengan lembut, menenangkan diri gue yang mulai emosi.
Ketika Rayla beranjak dari kursinya dan menyusul Mr. Erik, entah mengapa hati gue tidak bisa tenang. Mungkinkah karena gue terlalu overthinking?
“Saya melihat di surat kabar tentang Anda memperkenalkan Asisten Anda sebagai calon istri. Kapan pernikahan kalian dilakukan?” Suara basa-basi dari Mr. Xavier Jadison membuatku tersadar dari pikiran-pikiran tadi.
“Kami berdua memutuskan untuk bertunangan terlebih dulu.”
Mr. Xavier Jadison tersenyum. “Bukankah Anda mengatakan Asisten Anda sedang mengandung? Untuk apa bertunangan kalau memang pada akhirnya akan menikah?”
Rahang gue sedikit mengeras mendengar pertanyaan itu. Pasti mr. Erik yang memberi tahunya.
“Maaf, waktu itu saya sedang bercanda. Saya lihat putra Anda masih mengincar kekasih saya. Oleh sebab itu, saya membuat kebohongan agar putra Anda tidak mengganggu kekasih saya lagi.”
Gue tertawa kecil sebelum kembali berkata, “Ah, maksud saya, calon istri saya. Kami akan segera membahas acara pertunangan kami.”
Mr. Xavier Jadison masih terus tersenyum. “Jangan lupa mengundang kami, Pak Deonartus.”
“Tentu saja, Mister. Mana mungkin saya melewatkan Anda dan putra Anda,” jawab gue dengan tenang. “Ngomong-ngomong, Anda ingin mengganti beberapa kesepakatan kontrak kerja di antara kita. Apakah itu?”
“Selama ini saya hanya meminta kekuasaan untuk mengendalikan atas tanah dari beberapa tempat yang telah disepakati dengan pengusaha lain sebagai imbalannya. Namun, melihat perkembangan bisnis Anda sekarang yang semakin besar, saya berpikir untuk menggabungkan perusahaan kita.”
Gue mulai waspada mendengar penuturan Mr. Xavier Jadison yang tersenyum semakin lebar.
Keinginannya itu tidak sesuai dengan sistem kerjasama yang selama ini menjadi ciri khas pria itu. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan pria ini?
“Bisnis usaha kami masih kalah jauh jika dibandingkan dengan usaha Mister. Saya khawatir tidak dapat mewujudkan ekspektasi Anda,” ucap gue menolak penawarannya secara halus.
“Anda terlalu merendahkan diri. Saya percaya perusahaan Anda tidak akan mengecewakan. Memaksimalkan laba merupakan tujuan dari kegiatan bisnis agar dapat menjaga keberlangsungan perusahaan. Saya hanya ingin mendapatkan keuntungan yang lebih maksimal.” Mr. Xavier Jadison tertawa tergelak-gelak.
“Saya akan mempelajari terlebih dahulu pengajuan kontrak kerjasama yang baru dari Anda, Mister,” jawab gue pada akhirnya.
“Saya sedang tidak membanggakan hasil jerih payah saya, tetapi memang banyak pengusaha lain yang menantikan keputusan saya untuk menggabungkan perusahaan mereka dengan perusahaan saya, Pak Deonartus. Seharusnya Anda menganggap hal ini sebagai suatu kehormatan karena keputusan saya jatuh pada perusahaan Anda,” kata Mr. Xavier Jadison lagi dengan penuh percaya diri.
“Saya mengerti, Mister. Namun, tetap saja saya harus mempertimbangkannya terlebih dahulu. Saya tidak ingin mengecewakan Anda,” tukas gue beralasan.
“Baiklah, saya tunggu kabar baik dari Anda,” jawab Mr. Xavier Jadison dengan tenang.
Ngomong-ngomong sudah beberapa waktu berlalu. Kenapa Rayla dan mr. Erik masih belum kembali? Tidak butuh waktu yang lama hanya untuk mengambil berkas, bukan?
“Maaf, Mister. Sepertinya putra Anda dan calon istri saya sudah terlalu lama pergi mengambil berkasnya. Bagaimana kalau kita menyusul mereka?” Gue langsung menyatakan pemikiran gue.
“Mungkin Erik masih sedang mencari berkasnya. Saya coba meneleponnya.”
Mr. Xavier Jadison hendak menggunakan telepon nirkabel yang terpasang di ruangan ini, tapi gue langsung berdiri dari tempat gue duduk lalu berkata, “Lebih baik saya langsung menemui mereka. Maaf, Mister. Tolong tunjukkan jalan ke ruangan Anda.”
Terlihat wajah terkejut dari Mr. Xavier Jadison. Mungkin dia tidak mengira gue berani memberi perintah kepada beliau seperti itu.
Namun, gue tidak menghiraukannya. Saat ini, di dalam kepala gue tidak bisa berhenti membayangkan Rayla yang sedang berduaan dengan mr. Erik.
“Mari ikut saya,” ucap Mr. Xavier Jadison setelah beberapa saat terdiam. Kemudian beliau berjalan di depan gue sambil menunjukan jalan dan gue berjalan di belakangnya mengikuti.
Tidak berapa lama kemudian, kami telah sampai di depan pintu. Mr. Xavier Jadison mendorong pintu tersebut, tetapi pintu itu tidak bergerak sedikitpun.
“Pintunya terkunci. Saya coba menggunakan intercom memanggil Erik,” ucapnya lalu berjalan ke meja Sekretarisnya.
Menemukan pintu dalam keadaan terkunci cukup membuat gue mengerti. Tanpa berpikir panjang lagi gue maju mendekati pintu dan menggedor pintu. “Rayla! Mr. Erik!” panggilku, tetapi tidak ada salah satu dari mereka berdua yang membuka pintunya.
Jantung gue berdebar kencang. Mendadak firasat buruk datang lagi menyergap. Gue memanggil mereka sekali lagi sambil menggedor pintu lebih kuat. “Mr. Erik! Buka pintunya! Rayla!”
“Saya sudah mencoba memanggil mereka lewat intercom, tetapi tidak ada jawaban.”
Pernyataan dari Mr. Xavier Jadison membuat gue terkesiap. Gelombang kecemasan dan ketakutan yang luar biasa datang secara tiba-tiba.
Ah, tidak! Seperti yang Rayla ucapkan tadi, mungkin gue terlalu banyak berpikir. Segera gue tepis rasa cemas itu dan kembali menggedor pintu sambil berteriak memanggil nama mereka.
“Mungkin mereka tidak ada di dalam, Pak Deonartus. Kalau memang iya, seharusnya Erik menjawab panggilan intercom saya,” ucap Mr. Xavier Jadison.
Gue memandang tajam wajah Mr. Xavier Jadison. “Saat Anda keluar tadi, Anda tidak mungkin mengunci ruangan ini, bukan? Tetapi sekarang pintu ini terkunci. Artinya, mereka berada di dalam.”
“Anda jangan berpikir macam-macam, Pak Deonartus. Saya sudah mengancam Erik hanya boleh berbicara kepada Rayla. Dia tidak akan berani berbuat hal lebih dari itu!” Raut wajah Mr. Xavier Jadison terlihat tidak senang atas ucapan gue.
“Tetapi kenyataannya dia mengunci pintu ini dari dalam! Calon istri saya sedang dalam bahaya! Lebih baik Anda segera mencari cara agar pintu ini dapat dibuka atau saya yang menghancurkan pintu ini dengan mendobraknya!” ucap gue dengan nada mengancam.
“Anda pikir, saya tidak tahu bagaimana jalan otak kalian?” tanya gue sambil mencemooh. "Kalian sudah merencanakan semua ini. Sengaja tidak membawa bahan meeting, agar putra Anda mempunyai kesempatan bicara berdua dengan calon istri saya!"
Persetan dengan sopan santun! Mereka pantas diperlakukan lebih buruk dari orang lain!
“Anda akan menyesali apa yang baru saja Anda katakan, Pak Deonartus.” Mr. Xavier Jadison mendengus geram. Beliau kemudian mengeluarkan sebuah remote kecil dari dalam jas nya, menekan tombol buka, lalu terdengar suara teriakan dari pintu yang terbuka sedikit.
“Jangan! Deon! Tolong aku! Deonn ….”
Jantung gue berdegup kencang. Gue mendorong pintu dengan kasar.
Mata gue seketika membesar karena melihat tubuh Mr. Erik yang sedang menindih tubuh Rayla sedangkan Rayla meronta dan berteriak ketakutan hingga membuat gue mempercepat langkah sampai setengah berlari untuk menyergap pria berengsek itu.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘