Silence

Silence
Bab 99



*Happy reading 📖📖 guys*


AUTHOR


Deon mengabarkan tentang kehamilan Rayla pada seluruh keluarga. Berita bahagia ini disambut antusias oleh para orang tua kedua belah pihak. Mereka pun segera mengatur pernikahan.


Amanda Pramudya, tak lain ibu Deon, menghubungi jasa wedding organizer yang sudah professional dan kredibilitasnya tidak diragukan lagi. Persiapan pernikahan mulai menjadi kesibukan yang dilakukan kedua mempelai dan sang ibu dari kedua belah pihak.


Penyelenggaraan acara pernikahan akan dilaksanakan secara besar-besaran. Oleh karena itu, banyak hal yang harus dipersiapkan, meliputi pemilihan gaun, makeup, undangan pernikahan, jasa fotografi, sound system, katering, souvenir, dan banyak lagi.


Deon bersikeras melakukan foto pre-wedding untuk mengabadikan momen romantis bersama wanita yang dicintainya dengan melakukan foto pre-wedding di tempat yang indah, yang bisa dikenang selamanya.


Biasanya pemotretan pre-wedding dilakukan beberapa bulan sebelum acara pernikahan. Sedangkan Deon dan Rayla mengharuskan mereka secepatnya untuk menikah.


Setelah melakukan pembahasan panjang, semua pihak sepakat mengadakan pernikahan satu setengah bulan kemudian. Deon bersedia membayar biayanya berapa pun, karena waktu yang sempit, mengharuskan tenaga WO bekerja lebih banyak untuk menyelesaikan sesuai target yang telah disepakati.


Awalnya, Deon ingin melakukan foto pre-wedding ke Maldives, sebuah negara pulau yang terletak di Lautan Hindi.


Bagi pecinta pantai-laut, seperti tunangannya, dengan menyungguhkan dunia bawah laut yang penuh misteri, laguna biru, terumbu karang, pasir putih lembut, tumbuh-tumbuhan tropis, keindahan Maldives yang memukau tidak dapat disampaikan dengan kata-kata.


Sayangnya, usia kehamilan Rayla tidak dianjurkan untuk bepergian terlalu jauh atau pun naik pesawat. Pada akhirnya, Deon dan Rayla sepakat melakukan foto pre-wedding di studio dengan backdrop tema Eropa.


Sedangkan acara pernikahan digelar secara outdoor dengan suasana tepi laut. Mempertimbangkan kondisi ibu hamil, mereka memutuskan sebuah pantai yang masih dapat ditempuh beberapa jam dengan mobil.


Padahal, Deon berencana ketika Rayla sudah berhasil mengatasi traumanya dan bersedia menikah dengannya, ia ingin melakukan pernikahan di Bali. Namun, tak mengapa. Menjaga kesehatan calon istri dan anaknya adalah prioritas yang terpenting baginya saat ini.


*****


RAYLA


Belakangan ini sikap Deon berubah. Dia seperti menjaga jarak denganku. Hal yang belum pernah dia lakukan selama ini. Kenapa? Apakah rasa cintanya kepadaku mulai berkurang?


Kami baru sampai di rumah. Hari ini kami melakukan foto pre-wedding. Deon sudah meminta jasa WO agar mengurus hasil pemotretan secepatnya. Seluruh tubuhku terasa lelah, tapi perutku lapar. Makanan sudah tersedia di meja makan sebelum mama kembali mengurus Restorannya.


Aku langsung duduk di meja makan dan memakannya begitu lahap. Baru beberapa suap, aku baru menyadari Deon duduk di depanku sambil memainkan ponselnya. Kebiasaan barunya sekarang adalah bermain ponsel.


“Kamu tidak mau makan?” tanyaku.


“Tidak. Aku belum lapar. Kamu saja yang makan karena sekarang kamu sedang berbadan dua. Butuh asupan makanan yang banyak.” Deon menjawab pertanyaanku tanpa mengalihkan tatapan dari ponselnya.


“Apakah aku sekarang makan seperti babi?”


Deon beralih memandangku dengan heran. “Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


Aku berhenti makan, kemudian meletakkan sendok dan garpu di sisi piring dengan kasar. “Sekarang kamu lebih suka melihat ponselmu dari pada melihat aku. Kalau bukan karena makanku terlihat seperti babi, lalu apa?” tanyaku sambil memberikan tatapan mengerikan.


“Apa? Aku tidak pernah berkata seperti itu, Sayang,” ucap Deon bingung.


“Kamu memang tidak mengatakannya, tapi sikapmu menujukkan dengan jelas. Oke, aku tahu naf su makanku sekarang mulai banyak, seperti tidak makan satu tahun. Lalu, sebentar lagi aku akan menjadi gendut, kemudian kamu akan beralih ke wanita lain,” ucapku kesal.


Emosiku meledak begitu saja. Mungkin karena aku sudah tidak tahan atas perubahan sikapnya.


“Sayang-”


“Jangan bilang kamu sedang berkomunikasi dengan mantan-mantan kamu yang dahulu. Benar, kan? Karena itu kamu selalu sibuk sama ponsel kamu. Juga jarang memberiku ciuman lagi,” ucapku menyela dengan nada meninggi.


“Kamu salah paham, Sayang,” ucap Deon panik begitu melihat air mataku tumpah.


“Batalkan saja pernikahan ini! Kamu nikah saja sama mantan kamu itu! Atau sama ponsel kamu sekalian! Aku tidak peduli!” teriakku dengan berurai air mata.


Aku beranjak dari tempatku duduk, lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan keras. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, kemudian menangis sejadi-jadinya.


Aku mengelus perutku sambil terisak sedih, “Maafkan Mama yang tidak bisa mempertahankan papamu, Nak.”


*****


DEON


Gue menatap Rayla heran. Perasaan gue tidak berkata kalau dia makan seperti babi. Lalu, dia nanti yang akan menjadi gendut, apa masalahnya? Semua ibu hamil berat badannya memang akan bertambah, karena ada nyawa kecil tumbuh di perut mereka, sehingga porsi makan menjadi dua kali lipat banyaknya.


Lagi pula, apa Rayla tidak menyadarinya? Sejak hamil, dia tampak semakin lebih cantik. Daya pikat dirinya membuat gue harus menahan diri untuk tidak menyerang kemudian memakan tubuhnya itu.


Dokter menyarankan agar tidak melakukan hubungan sek sual sampai masuk ke trimester kedua. Gue harus menahan ga irah berminggu-minggu. Oleh karena itu, gue membatasi sentuhan fisik kepada Rayla karena takut gue tiba-tiba kalap.


Namun, Rayla malah salah paham. Mengira gue sedang berselingkuh. Astaga! Mana mungkin gue berbuat seperti itu sedangkan gue sudah cinta mati sama Rayla?


Apalagi mendapatkan hati Rayla tidaklah mudah. Gue sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk meyakinkan dirinya kalau menikah tidak seburuk yang dia takutkan, butuh banyak waktu. Jadi, gue bakal termasuk pria tolol kalau gue menyia-nyiakan semua perjuangan ini.


“Batalkan saja pernikahan ini! Kamu nikah saja sama mantan kamu itu! Atau sama ponsel kamu sekalian! Aku tidak peduli!”


Gue terperanjat mendengar ucapannya yang tiba-tiba itu. Gue baru ingat kalau Rayla sedang hamil, pasti emosinya jadi naik turun. Baru saja gue ingin mendekatinya dan memeluknya, tapi tidak jadi karena Rayla menangis.


Damnn itt! Gue tidak menyangka sikap gue ini malah telah menyakiti hatinya. Gue merutuki diri sendiri karena telah membuat Rayla bersedih.


Gue segera menyusul Rayla yang telah masuk ke dalam kamarnya. Gue mengetuk pintu kamarnya sambil memanggil namanya, tapi Rayla tetap tidak mau membuka pintu.


Menurut sumber dari internet, perasaan ibu hamil menjadi lebih sensitif. Jadi, mesti menjaga perkataan kalau tidak mau menyinggung perasaannya. Makanya, gue tidak berani banyak bicara di hadapan Rayla. Kenapa malah jadi salah paham begini? Gue harus bersikap gimana lagi?


“Sayang, buka pintunya, dong! Kamu salah paham. Kasih aku kesempatan untuk menjelaskan, Sayang,” ucap gue memohon.


Namun, tidak ada tanggapan apa-apa. Malah suara tangisan Rayla yang terdengar. Shittt! Bagaimana ini?


Saking paniknya gue, tanpa berpikir panjang lagi gue bergegas menghubungi seseorang.


“Segera panggilkan tukang duplikat pintu ke rumah tunangan gue,” tukas gue begitu nada sambung berhenti, digantikan oleh suara seseorang.


“Lo merendahkan gue, ya?” suara dari seberang telepon.


“Bukannya lo ahli mencari informasi? Tentang Osborn dan Pramanta pun lo berhasil cari tahu.”


“Informasi yang gue gali itu semua hal penting. Bukan hal remeh seperti perintah lo barusan. Emang dasar kampret lo!”


“Permintaan gue barusan juga penting, monyet! Rayla sedang marah dan tidak mau buka pintu kamarnya. Gue tidak mungkin dobrak pintunya, kan?”


Leo tergelak tawa. “Itu urusan lo, bukan urusan gue. Siapa suruh lo mancing emosi ibu hamil. Udah, ah! Jangan hubungi gue! Gue mau asyik-asyik dulu sama wanita seksi di sebelah gue sekarang.”


Lalu, Elian memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Sialan! Sahabat macam apa dia? Bukannya bantuin gue, malah lebih milih bersenang-senang.


Tiba-tiba gue mendengar suara berdeham. Gue menoleh dan melihat Maylin berdiri di dekat gue entah sejak kapan. Kemudian, dia memutar kenop pintu kamar Rayla, lalu pintu pun terbuka. Gue hanya bisa diam melongo melihatnya.


“Rayla tidak pernah mengunci kamarnya kecuali pada saat malam hari ketika dia mau tidur,” ucap Maylin memberi tahu. Detik berikutnya, dia tertawa terpingkal-pingkal.


Bagus Deonartus Surbakti! Lo sudah membuat image diri lo sebagai kakak ipar yang bodoh di depan adik istri lo sendiri.


Gue tersenyum canggung sambil mengucapkan terima kasih, lalu berjalan masuk ke dalam. Pandangan mata gue menangkap sesosok tubuh yang sedang tertidur di atas ranjang.


Gue tersenyum melihat Rayla yang ketiduran. Gue menghapus sisa air matanya yang masih basah di pipi. “Aku memang pernah berengsek, tapi aku akan setia sampai mati. Bersamamu sehidup semati. Percayalah….”


Gue mengecup kening Rayla. “Selamat tidur, cantik.”


*Deon kebingungan nih bagaimana caranya nanganin emosi ibu hamil yang sensitif **😆 Author gak bisa kasih saran ke Deon karena author sendiri aja belum berpengalaman 🤭😝 Tinggalin komentarnya dong 😊 Jangan lupa berikan Vote, like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘*