
*Happy reading 📖📖guys*
Setiap orang pasti memiliki keluarga, entah itu keluarga besar atau keluarga kecil yang hanya terdiri dari ayah, ibu, dan diri kita.
Ketika sedang lelah menjalani kehidupan yang keras, keluarga menjadi rumah tempat mencurahkan isi hati dan berkeluh kesah. Keluarga yang hangat tentu akan memberikan solusi dengan perhatian dan kasih sayangnya ketika kamu sedang memiliki masalah.
Sayangnya, tidak semua orang memiliki keluarga yang hangat.
Beberapa orang memiliki keluarga yang tidak akur, bercerai-berai atau sibuk dengan urusannya masing-masing. Sehingga untuk menjalin komunikasi satu sama lain secara langsung akan terasa sulit. Kedekatan antar keluarga juga jadi tidak harmonis karena mereka saling mementingkan dirinya sendiri.
Ketika memiliki keluarga yang kurang peduli satu sama lain atau tidak dibutuhkan lagi oleh mereka, pasti merasa kecewa ataupun merasa sendirian. Kehadiranku bagaikan batu kerikil yang menghambat langkah mereka.
Pemikiran itu kutanamkan di dalam benak ketika pria itu memutuskan pergi meninggalkan kami.
Aku sering bertanya pada diri sendiri, mengapa aku tidak benci saja pria itu dan menganggapnya tidak pernah ada?
Kita bisa tinggal di rumah yang rubuh, bermain dengan mainan usang, tapi kita tidak bisa menyayangi dengan hati yang rusak.
Namun, bagaimanapun caranya mencoba untuk menghapus ingatan masa lalu dan membunuh perasaan rinduku kepadanya, semakin kuat kenangan manis itu terpatri dalam benak.
Apalagi setelah aku mengetahui kenyatan bahwa kami berhasil lulus hingga ke perguruan tinggi atas bantuan dari pria itu.
Di satu sisi aku merasa marah atas sikapnya yang egois, seenaknya meninggalkan kami, juga seenaknya bertingkah seperti ayah yang bertanggung jawab. Namun, di sisi lain aku merasa senang karena itu berarti dia tidak sepenuhnya melupakan kami.
“Berapa uang yang di beri bajingan itu kepada Mama? Kembalikan semua uang itu padanya!” hardik Maylin tiba-tiba muncul, membuatku terperanjat melihatnya.
Apakah Maylin telah mendengar semuanya?
“Kenapa Mama tidak menjawab? Berapa jumlah uang yang di berikan bajingan itu? Aku tidak sudi menggunakan uang darinya!” bentak Maylin.
“Dia adalah papa kalian. Menafkahi anak-anaknya adalah tanggung jawab dirinya sebagai seorang ayah,” jawab Mama datar.
“Meninggalkan anaknya apakah juga salah satu perbuatan yang pantas dilakukan seorang ayah?” sarkasku.
“Kalau dia memang benar-benar tahu harus bertanggung jawab kepada kami, seharusnya dia rutin mengunjungi kami! Menjenguk kami dan bertanya apakah keadaan kami baik-baik saja atau tidak! Yang kami butuhkan adalah kehadirannya! Bukan uangnya! Seorang anak lebih membutuhkan kasih sayang kedua orang tua daripada diberikan uang jajan!” Maylin menjerit marah. Napasnya tersengal-sengal akibat emosi.
Mama diam, tak bergeming, membuat Maylin semakin tersulut emosi. “Apakah Mama sebodoh itu? Dia telah merusak masa depan Mama dengan menjadikan Mama sebagai tempat pelariannya ketika rumah tangganya sedang ditimpa masalah. Dia juga telah menyakiti kita semua dengan meninggalkan kita setelah tuan entah apalah namanya, persetan dengan nama, telah memaafkan kesalahan kalian. Semua perbuatannya tidak ada yang pantas dipuji, tapi Mama malah masih membelanya?”
Mama melebarkan matanya karena terkejut atas kalimat yang diucapkan Maylin. Demikian juga sama hal nya denganku. Maylin pasti telah mendengar semua pembicaraanku dengan Mama.
“Mama tidak bermaksud membelanya, Maylin. Mama pikir dengan menggunakan uang pemberian darinya, kehidupan kita bisa menjadi lebih baik.” Mata Mama terlihat mulai berkaca-kaca.
“Mama juga terluka atas perlakuannya yang menyakiti Mama sedemikian rupa, tetapi Mama tidak bisa bersikap egois. Masih ada kalian berdua dalam hidup Mama. Jika kita bisa menjalani hidup lebih baik tanpa pria itu, kenapa tidak?”
Maylin tertawa terbahak-bahak, tetapi wajahnya menyiratkan kesedihan. “Kehidupan kita akan jauh lebih baik tanpa campur tangan bajingan itu, Ma! Apakah Mama tidak sadar? Dia hanya ingin menghapus rasa bersalahnya kepada kita. Berdalih ingin menepati janjinya memberi kehidupan yang lebih layak kepada kami! Dengan begitu perasaan bersalahnya akan terkikis!”
“Frans selalu menyayangi kalian berdua, Nak. Dia tidak bisa mencintai Mama, tetapi dia sayang kalian.”
“Kita keluar dari sini, Maylin!” ucapku sambil menarik pergelangan tangannya, berusaha membawa Maylin pergi dari hadapan Mama. Namun, Maylin menepis tanganku dengan kasar.
“Lo sudah tahu semuanya, tapi lo tidak memberitahu gue?” tanya Maylin dengan sengit.
“Gue tidak mau lo terluka,” jawabku pelan.
“Sejak bajingan itu pergi meninggalkan kita, tidak pernah sehari pun kita merasakan kebahagiaan, Rayla! Sejak keluarga ini hancur, lukalah yang terus menemani kita! Mama yang egois, memilih sibuk dengan aktivitasnya mengurus Restorannya yang ternyata modalnya berasal dari mantan selingkuhannya! Mengabaikan anak-anaknya dimana saat itu kita membutuhkan perannya sebagai Ibu!” tukas Maylin.
Suaranya lantang penuh emosi. Tatapan matanya yang tajam menghunus tepat di manik mata Mama.
“Maylin …,” panggilku. Aku mencengkeram kedua bahunya, memutarbalik tubuhnya agar menghadapku. “Dengarkan gue, Lin.”
Maylin memberontak sehingga kedua tanganku lepas dari bahunya. “Bahkan, Tuhan tidak rela membiarkan aku bahagia membangun keluarga kecil bersama Darwan dan putri kami dengan merenggut nyawa mereka! Sementara Rayla harus mengalami trauma yang takut menikah, takut rumah tangganya berakhir sama dengan Mama. Semua ini karena dosa yang kalian perbuat, tapi aku dan Rayla yang terkena imbasnya! Ini tidak adil!” Nada suara Maylin semakin meninggi. Napasnya jadi memburu karena buncahan emosi.
“Hentikan, Maylin! Jangan dilanjutkan lagi!” ucapku mencegah Maylin melanjutkan kata-kata yang akan membuat kami semua semakin hancur. Karena kalimat yang sudah dilontarkan tidak bisa ditarik kembali.
“Setiap orang pernah melakukan kesalahan dalam kehidupannya dan Mama sangat menyesali semua itu, Maylin. Mama dibutakan oleh cinta. Mama terlalu menuruti ego sehingga merugikan diri sendiri juga kalian berdua yang tidak bersalah,” ucap Mama. Sebulir air mata menetes keluar dari sudut matanya.
“Mama terobsesi mempertahankan rumah tangga. Berharap suatu hari nanti Frans bisa benar-benar mencintai Mama. Namun, hati tidak bisa bohong. Pada akhirnya, dia memilih kembali bersama orang yang dia cintai. Ketika itu, Mama yang sangat sakit hati dan terluka membuat Mama memilih untuk menghindari kalian. Setiap melihat kalian, kenangan bersama Frans kembali berputar seperti rol film yang rusak. Tidak ada kesedihan yang lebih besar daripada mengingat kebahagiaan di saat-saat penderitaan,” ucap Mama lagi dengan berurai air mata.
“Lantas bagaimana dengan kami? Tahukah, Ma, rasanya saat hati begitu sakit sampai kita bisa merasakan darah yang menetes? Kita saling menyakiti. Kita saling menghancurkan. Terkadang aku berharap, alangkah baiknya jika aku bukanlah anak kalian dan kalian bukanlah orang tuaku,” ucap Maylin. Matanya menatap Mama nanar.
Mama mendekati Maylin, ingin merengkuh Maylin ke dalam pelukannya. Namun, Maylin segera beringsut mundur sehingga tangan Mama mengambang di udara.
“Maylin … maafkan, Mama, Nak. Kesalahan yang kami buat tanpa sadar sudah menyakiti kalian. Mama lupa kewajiban Mama sebagai orang tua yang seharusnya melindungi kalian. Sungguh, Mama ingin memperbaiki semuanya,” ucap Mama, menatap Maylin dengan air mata yang mengalir deras.
Maylin diam, tidak memberi respons apa-apa. Matanya tiba-tiba menatap sesuatu di atas meja. Dia segera meraih kertas tersebut lalu membaca dengan suara bergetar, “Frans Osborn.”
Maylin tertawa mengejek. “Bajingan itu sekarang menjadi pengusaha sukses setelah mengganti nama belakangnya?”
“Berhentilah menyebut papamu dengan bajingan, Maylin! Seburuk-buruknya pria itu, dia tetap papamu,” ucap Mama.
“Dia bukan papaku! Papaku sudah meninggal!” Maylin menjerit kencang hingga kedua matanya membulat lebar, menatap Mama dengan nyalang.
“Aku sudah muak dengan keegoisan kalian! Kenapa kalian terus menyakiti kami? Kenapa aku ditakdirkan menjadi anak kalian? Kenapa … kenapa?” Maylin memukul-mukul dadanya, seolah-olah ingin menghilangkan sakit yang luar biasa di dalamnya.
Ungkapan Maylin membuat hatiku pilu mendengarnya. Mataku kabur tertutup air mata yang mengalir tanpa henti. Aku benar-benar memahami apa yang dirasakannya, karena begitupun yang ku rasakan saat ini. Sakit.
“Orang bilang darah itu lebih kental dari air, tapi sering kali hanya air yang ada ketika kita butuh sementara darah entah ada di mana. Jika kesabaran tidak cukup menyadarkan, mungkin kehilangan akan menyadarkan,” ucap Maylin dengan suara yang semakin serak.
“Aku kecewa pada Mama.” Kemudian Maylin melangkah pergi meninggalkan tempat bersamaan dengan tubuh Mama yang melemas dan jatuh ke lantai dengan berlinang air mata.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘