
Debaran jantungnya terus saja berdetak tak karuan, “Aku ke toilet dulu ya.” Izin Raina untuk menenangkan isi hatinya, Raina turun kelantai bawah, karena toilet hanya berada di lantai bawah berdekatan dengan ruang kerja karyawan.
Tak susah untuk mencarinya karena sudah ada petunjuk menuju toilet, dimana toilet wanita dan pria bersebelahan bahkan mushola kecil untuk karyawan atau pengunjung juga ada disana.
“Gue udah pernah bilang kan? Jika lo masih ingin bareng gue maka turuti keinginan gue! Jangan pernah kayak tadi lagi.” Samar Raina mendengar bentakan seorang pria yang begitu familiar ditelinganya ketika dirinya hendak masuk ke toilet.
Raina berdiri dihadapan wastafel, Mungkin mereka pasangan yang sedang bertengkar pikir Raina, ia keluar dari area toilet dan melihat pasangan itu berdiri saling berhadapan saat pintu karyawan tak sepenuhnya tertutup sempurna, sudut matanya melihat kearah wanita lain yang berdiri disebelah mereka.
“Cintya?” Gumam Raina,
“Arga?” Raina terkejut ternyata pria itu adalah Arga, pantas saja ia merasa kenal dengan suaranya, terlihat Arga sedang berpelukan dengan seorang wanita.
“Lagi apa kak?” Abi datang membuat Rico yang ternyata berada didalam menoleh sebentar kearah pintu namun buru-buru Raina mendorong tubuh Abi.
“Abis dari toilet.” Jelas Raina.
“Ohhh.. kakak gak apa-apa kan?” Abi terlihat khawatir.
“Kenapa emang?” Tanya Raina balik dengan senyum yang terlihat dipaksakan, bagaimana akan baik-baik saja melihat Arga yang terlihat memeluk wanita lain, Raina berpikir jika wanitanya tak menuruti Arga yang pencemburu.
"Ya udah aku balik kerja lagi ya." Pamit Abi yang terlihat keluar dari mushola.
Raina kembali keatas menghampiri Sandi dan Sania, mereka kembali duduk bersama dan memesan banyak makanan hingga memenuhi mejanya.
“Kamu traktir kan San?” Goda Raina saat dirinya mengunyah pasta didepannya.
“Tenang saja, Sandi baru gajian kok.” Ucap Sania lahap memakan steak di hadapannya.
“Aku kira weekend mereka gak bakalan datang.” Imbuh Sania menatap Arga dan sahabatnya datang kelantai atas, membuat Raina ikut menoleh kebelakang.
Tatapan matanya tak sengaja bertemu dengan Rico, Raina segera membuang muka saat Rico menepuk pundak Arga.
“Kamu gak pa-pa dia ada disini juga Rain?”
“Gak pa-pa, kenapa juga sih??” Jawabnya kesal waktu melihat Arga jalan bareng wanita yang tadi dilihatnya. Sandi pikir Raina kesal karena pertanyaan darinya, makanya ia tak berani bertanya kembali.
“Rain?? Ini benaran elo Rain??” Tanya Rico ikut bergabung di meja Sandi, ia langsung mendudukan dirinya begitu saja tanpa menunggu Arga dan yang lainnya. Rizki segera mengagbungkan meja sebelah yang kosong dengan mejanya Sandi.
“Hai Ko... gimana kabar kalian?” Raina menyapa Rico terlebih dahulu, ia lalu menyapa semuanya termasuk Arga.
“Kita mah selalu baik Rain, cuma tuh si cucunguk itu yang selalu tak baik.” Tutur Rico berbisik memcondongkan tubuhnya untuk lebih dekat pada Raina, membuat Raina terkekeh kecil karena ulahnya. Rico masih sama dengan Rico yang selengean dulu.
“Oh iya Rain, lo belum kenal kan sama dia?” Tunjuk Rico pada wanita yang kini duduk berdampingan dengan Arga. “Dia Jasmine, temen kampusnya si Cintya.” kenalnya pada Raina membuat Jasmine tersenyum ke arahnya.
“Hai Jasmine, aku Raina.” Kenal Raina pada jasmine tanpa uluran tangan karena jarak mereka yang terlampau jauh.
Jadi nama wanita itu Jasmine? Batin Raina dengan senyum manisnya yang khas, Wanita yang dulu membuat Raina mundur untuk berusaha kembali.
“Kapan balik Rain?” Tanya Cintya yang duduk disebelahnya.
“Lo gak capek langsung nongkrong disini?” Kini Rizki yang bertanya.
“Enggak, demi mereka.” Tunjuk Raina pada Sandi dan Sania yang hanya menyimak saja.
Matanya melirik sebentar pada Arga yang duduk disebelah Rico, Arga terlihat masih marah karena tiap Jasmine bertanya ia hanya menjawab dengan deheman saja.
Suasana yang awalnya canggung kini mencair karena Rico, ya tentu saja Rico selalu mencairkan suasana dengan saling melemparkan sindiran pada Rizki dan juga Cintya, membuat Raina hanya tersenyum tipis. Kembali pada Raina yang dulu, irit bicara dan juga cuek. Jika kata Abi Raina akan terlihat judes bagi yang belum mengenalnya.
Tanpa terasa waktu menunjukan pukul 11 malam, pantas saja mulai sepi pengunjung ternyata sudah waktunya untuk cafe ditutup.
Mereka pun beranjak berdiri dan saling berpamitan, Raina turun bersama Cintya yang masih saja menceritakan bagaimana kelanjutan hubungannya bersama Rizki, dan pastinya Raina menjadi pendengar setia tanpa memotong pembicaraan dari lawan bicaranya. Sedangkan Arga dan Jasmine berjalan dibelakang tubuhnya.
“Lo pulang bareng siapa Rain?” Tanya Cintya yang masih menunggu Rizki diluar cafe, tepatnya di parkiran.
“Mau hubungi pak Anton ini.” Jawab Raina yang sedang memainkan ponselnya.
“Rain lo balik bareng gue aja.” Tawar Rico datang bersama yang lainnya.
“Makasih Ko.”
“Ayok kak..” Abi datang dengan motornya, ia memberikan helm cadangan pada Raina.
“Kakak lo blik bareng gue, bisa masuk angin dia naik motor bareng lo.” Sahut Rico.
“Kalian berdua kakak adek?” Tanya Jasmine.
“Iya, tapi beda bapak sama ibu.” Jawab Abi santai.
“Gak bakalan masuk angin bang, tenang aja. Kan ada jaket buat ngalangin angin darinya.” Abi memberikan jaketnya untuk Raina.
“Abi, kamu sendiri bisa masuk angin.” Jawab Raina sedikit khawatir dengan kesehatan Abi karena Abi menyerahkan jaketnya sendiri, padahal besok pagi ia harus membantu bapaknya bekerja.
“Ikut gue!!” Arga menarik paksa tangan Raina, “Lo bisa balik bareng mereka.” ujarnya pada Jasmine yang berdiri mematung melihat Arga menarik tangan Raina di depannya.
“Lepasin gue!!” Berontak Raina saat tersadar ia mengikuti langkah Arga yang menurutnya tergesa-gesa namun ketatnya cekalan tangan Arga tak membuat Raina bisa melepaskan diri.
“Masuk!!” Perintahnya saat membukakan pintu mobil untuk Raina.
“Enggak.” Tolak Raina dengan menyilangkan tangannya didada seolah ia tak suka dengan sikap Arga. Bagaimana mungkin saat wanitanya ada Arga malah menarik tangannya? Dan menyuruhnya ikut pulang bersama, sedangkan wanitanya disuruh ikut yang lain? Pikir Raina.
“Rain..” Geram Arga melihat Raina yang hendak bejalan menjauhinya.
“Aaaa… Arga lepasin gue!!!” Teriak Raina saat Arga menggendong paksa tububnya dan memasukannya kedalam mobil membuat Raina langsung marah.
Arga berlari mengitari mobil dan langsung duduk di balik kemudi, Raina tak berani menengok ke arah Jasmine saat mobil Arga melewatinya begitu saja, ia merasa bersalah terhadapnya. Abi yang melihat itu langsung melajukan motornya pergi meninggalkan tempatnya ia bekerja.