RAINA

RAINA
Chapter 78



Raina menyandarkan dirinya di pagar pembatas balkon. Semilir angin malam berhembus tenang membuainya. Di tatapnya hamparan bintang yang bertebaran di langit malam.


“Apa kau tak merasa dingin?” Suara berat yang begitu familiar baginya bertanya.


“Kamu tak ikut dengan kak Raka?” Tanya Raina tanpa mengalihkan pandangan matanya.


“Untuk apa?” Tanya Darrel yang menyandarkan punggngnya di pagar pembatas.


“Ya mana aku tahu.”


“Kalau aku ikut yang ada aku akan jadi nyamuk di antara mereka.”


“Terus kenapa kamu di sini? Kenapa tidak pulang ke apartemen mu?” Tanya Raina mengikuti Darrel menyandarkan punggungnya.


“Malas, di sana sendiri.”


“Aku gak suka kamu seenaknya di sini.”


“Aku udah terbiasa tinggal di sini, dan Raka pun begitu. Raka aja yang punya tidak protes.” Ucap Darrel dengan meminum soft drinknya.


“Ck.. aku adiknya.” Tegas Raina masuk ke dalam menggeserkan pintu kaca meninggalkan Darrel yang tersenyum tipis.


Ada sebuah kesenangan jika membuat Raina marah atau kesal. Ia merogoh ponsel di saku celananya, di sentuhnya layar ponsel yang menampakan foto Raina yang sedang melakukan video call tadi dengan tertawa. Dia begitu manis jika tersenyum, cantik jika tertawa dan menggemaskan jika sedang kesal atau marah.


“Kenapa senyum-senyum? Sinting.” Ucap Raina kembali karena laptopnya tertinggal.


“Sinting gini juga cakep banyak yang suka. Nanti juga kamu akan suka padaku” Ucapnya dengan percaya diri.


“Percaya diri sekali anda.” Raina berlalu ke dapur dan ia melihat isi dalam kulkas, stok sayur dan juga daging sudah habis, ia menuliskan nya ke selembar kertas kecil.


“Ngapain?” Tanya Darrel datang mengambil gelas kosong lalu di isi air.


“Bukan urusanmu.”


“Ckk.. kamu ini jika kesal tambah menggemaskan.” Darrel mencubit dagu Raina.


“Apaan ish.. gak sopan banget.”


“Gak sopan kenapa? Kita sudah kenal dan berteman.”


“Udah ya, sekarang kamu tutup mulut dan pergi dari sini, aku mau masak. Lapar.” Ucap Raina mengambil sawi hijau untuk di masak dengan mie instan.


“Tolong buatkan aku satu.” Ucap Darrel meninggalkan Raina.


“Bikin sendiri!! Enak aja nyuruh.”


“Ya udah.” Darrel senang karena ia bisa lebih lama berduaan dengan Raina.


“Udah sini aku bantu, aku yakin kamu tak bisa kan?”


“Sembarangan kalo ngomong.”


Raina merebus air dalam panci dengan cekatan ia memotong sawi hijau sembari menunggu air mendidih, ia pun memasukan mie nya dan setelah setengah matang ia segera memasukan sawinya.


“Ahh kenapa perih ini.” Ucap Darrel menguceuk matanya yang perih terkena cabe kering dari tangannya.


“Kenapa gak hati-hati sih, jangan di kucek!!” Ucap Raina menuntun Darrel menuju tempat mencuci piring.


Raina membantu Darrel membasuh wajahnya, Setelah merasa baikan Darrel segera membuka matanya dan ia tersenyum merekah karena Raina peduli padanya.


“Udah kan?”


“Udah, makasih Rain.”


“Aahh gara-gara kamu mie punya ku overcook”


“Ya udah itu buat aku saja, gantiin sama punyaku.”


“Kamu emang calon istri yang baik.” Goda Darrel.


Raina melengos dan memasak kembali mie untuknya. Ingatannya kembali pada Arga, dimana mereka sering memasak bersama. Tanpa sadar senyumnya mengembang dan membuat Darrel yang melihatnya pun tersenyum.


Selepas makan mie Raina pergi ke dalam kamarnya, ia membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hari ini begitu melelahkan untuknya. Lelah karena ia selalu berdebat dengan Darrel hingga teringat dengan Arga.


***


Arga sudah pasrah dengan takdirnya. Kini ia duduk bersama keluarga besarnya dan juga keluarga besar Sindy untuk menentukan tanggal kapan mereka bisa menikah, tinggal menghitung hari untuk Sindy melahirkan.


Arga duduk di sebelah Indri, tatapannya sendu bahkan ia menunduk dalam. Tak ada semangat dalam hatinya.


Dahfin melihat Arga, beberapa hari ini ia tak pernah bertengkar dengannya karena Arga selalu menghindar. Bahkan Arga kini berubah, jika dulu biasanya ia sering marah jika di singgung sedikit saja olehnya namun sekarang ia acuh.


“Udah dong pa, ngomongin bisnisnya nanti. Sekarang kita ngomongin aja kapan tanggal yang pas buat mereka nikah.” Ucap Manda.


“Oh iya saya lupa, kita ke sini untuk membicarakan itu kan ya.” Sahut papanya Sindy.


“Iya, maafkan saya bu Manda.” Ujar Bagas.


“Bagaimana jika bulan depan? Kan pas tuh Sindy selesai masa nifasnya.” Ujar Manda antusians.


“Bagaimana Arga?”


“Terserah.” Ucapnya acuh. “Maaf saya harus ke belakang sebentar.” pamit Arga.


“Kemana Sindy?” Tanya Bagaskara tak melihat Sindy.


“Tunggu Arga.” Yulisa mencegah kepergian Arga.


Lampu yang semula terang kini padam, semua yang ada berada di sana cemas di tambah Sindy tadi menghilang.


“Arga, cari Sindy!! Dan kenapa lampu mati?” perintah Bagas.


“Happy birhday to you..


Happy birhday to you..


Happyyy birth day, happy birthday, happy birtday to you..”


Dalam remangnya cahaya lilin Sindy datang membawa kue di kedua tangannya sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuk Arga. Di smaping kirinya Dahfin membawa sebuah kado dengan senyum lebar.


Tak ada raut bahagia dari wajah Arga, hanya tatapan datar dan dingin yang ia berikan pada dua orang yang berdiri di hadapannya kini. Kedua tangannya tetap bertaghan di masukan ke dalam saku celana meski semuanya tersenyum bahagia karena telah memberikan surprise untuknya.


“Berdo'a lah sebelum kau meniup lilinnya.” Ucap Sindy mendekatkan kuenya ke depan wajah Arga.


“Aku berdo'a semoga kelicikanmu terungkap.” Arga menyondongkan tubuhnya dan berbisik seolah ia sedang mengecup pipi Sindy.


“Kalian sweet sekali, semoga kalian selalu bersama sampai maut memisahkan.” Do'a Manda.


Arga pun meniup lilin di atas kuenya dengan satu kali tiupan, Indri segera memeluk Arga dengan erat sebelum Sindy memeluknya dan Arga balas pelukan dari Indri.


Semua orang yang ada di sana segera memberikan ucapan dan do'a untuk Arga termasuk Yulisa, Terlihat Yulisa menyeka air matanya.


“Semoga cintamu kembali, mama percaya padamu.” Arga mengernyitkan dahinya, terheran dengan perkataan ibu tirinya.


“Selamat menua adikku, maafkan kami.” Dhafin memeluk Arga setelah memberikan hadiah padanya.


“Bukalah, dan susul cintamu sebelum terlambat!” Bisik Dhafin yang tak di mengerti oleh Arga.


“Ini hadiah dari ku.” Sindy memberikan kotak kecil pada Arga.


Hadiah pemberian Sindy ia simpan begitu saja, ia terlalu penasaran dengan pemberian Dahfin, terlebih penasaran dengan maksud perkataan Dahfin barusan.


‘hadiah kecil untuk Adikku. Maaf untuk semua yang telah kami lakukan pada keluargamu dulu. Semoga kali ini kita bisa bersama meski ku rasa itu tak mungkin’