
“gimana? Lo udah jelasin semuanya?” Tanya Rico ketika Arga berhasil mendudukan tubuhnya.
Hanya helaan nafas kasar yang mengartikan jika Arga tak berhasil bertemu dengan Raina.
“Ini semua gara-gara lo Sin.” Sarkas Rico.
“Ini juga salah gue Ko, gak usah nyalahin Cintya.”
“Tapi kalo aja dia gak ke apartemen lo waktu itu si Rain gak bakal marah.”
“Udah, gue pusing mau balik.” Arga beranjak berdiri.
“Lo beneran sayang dia Ga?” Pertanyaan Cintya membuat Arga berhenti sejenak.
“Lo pasti tau jawabannya Sin.” Ujar Arga meninggalkan semua sahabatnya.
***
“Ayo semua kumpul…”
“Kumpul cepat!!” Kata pak Bagus menyuruh semua muridnya berkumpul di lapangan.
Hari kelulusan adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh semua murid SMA. Raina dan Sandi berjalan cepat menuju lapangan dimana semua murid sudah berbaris rapih di hadapan semua guru. jantungnya berdegup kencang ketika pandangannya bersibobrok dengan netra Arga, ingatannya terngiang dengan perdebatannya kemarin.
“Assalamu'alaikum wr.wb”
“Waalaikumsalam wr.wb” serempak murid kelas 12 menjawab salam pak Bagus.
Ketegangan kembali terjadi ketika pak Bagus berbicara dengan salah satu guru di sebelahnya. Terlihat pak Bagus mengangguk dan tersenyum menatap semua murid dan kembali menaik turunkan kepalanya.
“Di pagi hari yang cerah ini, bapak melihat wajah-wajah yang penuh optimisme, penuh harapan serta keyakinan yang tinggi. Bapak mengumpulkan kalian di sini karena ingin memberitahukan bahwa SMA kita ini lulus 100 persen.” sorak sorai dari murid kelas 12 menggema di lapangan yang terbuka, ada yang pingsan karena kesenangan dan ada juga yang menangis terlalu bahagia, begitu pun Raina dan Sandi yang jingkrak-jingkrak dengan girangnya.
“Oke..Bapak ucapkan selamat untuk kalian” Seketika semua hening dan bersiap mendengar lanjutan dari pidato pak Bagus.
“Bapak akan memanggil siswa terbaik lulusan sekolah kita ‘Raina Adriana putri’” Ucap Pak Bagus memanggil Raina dan di sambut tepuk tangan.
Senyuman terus mengulas di bibirnya, kakinya yang jenjang melangkah dengan mantap untuk memberikan kata-kata perpisahan serta terima kasih untuk semua guru.
Raina membalas senyuman pak Bagus dan menerima mikrofon yang di berikan oleh pak Bagus. Semua siswa bertepuk tangan ketika Raina sudah berdiri tegak di depan semuanya. Pandangannya kembali bertemu dengan Arga,dia membuang muka dan kembali tersenyum pada Sandi dan Sania.
“ Asssalamualaikum…
Terima kasih untuk semua guru yang sudah mendidik kami, dan terima kasih juga karena selalu sabar menghadapi sikap kami yang mungkin suka membuat ibu dan bapak merasa jengkel. Tak banyak yang bisa saya sampaikan.. untuk teman semuanya mari kita sambut masa depan.” Kata Raina dengan lantang dan di sambut tepuk tangan yang riuh dari semua siswa.
Apalagi yang di lakukan oleh murid kelas 12 ketika mereka di beritahukan lulus? Jawabannya ya coret-coret baju dan menuliskan kata-kata untuk tanda perpisahan. Tak ada acara konvoi untuk mereka karena hal tersebut di larang oleh pihak sekolah.
“Rain, tulis kenangan buat gue di sini.” Ujar Riko menyodorkan punggung dan spidol padanya.
Tangan Raina bergerak di punggung Rico, entah apa yang ia tulis di sana.
“Thanks Rain, giliran gue..”
Raina membalikan badannya, rambut panjangnya ia sibakan membuat Rico cemberut.
“Gak bisa di depan apa?”
“Udah deh gak usah modus.”
“Rain..” Tangan Rico bergerak di punggung Raina.
“Hmm..”
“Lo mesti denger penjelasan dia.”
“Gue belum selesai nulisnya Rain.” Ujar Rico ketika tiba-tiba Raina membalikan tubuhnya.
“Gue tau lo juga sayang kan sama dia?” Ujar Rico ketika Raina berusaha menghindar.
“Gue tau kalian saling sayang, yang lo denger belum semuanya Rain.” Tukas Rico seketika membuat langkah Raina berhenti.
“Gue yakin lo belum denger semuanya kan Rain?” Tanya Cintya menghampirinya bersama Rizki.
“Rain gue mohon lo dengerin gue.”Tukas Cintya ketika Raina berlalu begitu saja.
“Rain lo gak tau kata mohon?” Teriak Cintya yang melihat Raina terus saja melangkah dan seketika membuat siswa lainnya menatap ke arah mereka.
“Emang mereka taruhan tapi Arga menolaknya dan awalnya dia hanya ingin membuat perhitungan sama lo, namun yang terjadi malah dia duluan yang di permainkan oleh cinta. Dia serius sayang sama lo, gue kenal dia lama dan gue sadar kalo sayang gue sama dia cuma karena gue gak mau kehilangan perhatiannya.” Ujar Cintya saat Raina berhenti berjalan.
“Gue gak mau orang yang dulu selalu ada buat gue ninggalin gue karena mendapatkan kebahagiaannya, dan yang gue lakukan salah, harusnya gue dukung dia sama siapapun itu. Dia bener-bener sayang sama lo, dan gue yakin lo juga ngerasaain hal yang sama.”
Raina kembali berjalan meninggalkan mereka dengan hati yang galau, Raina akui jika ia sayang sama Arga, semalam saja ia tak bisa terlelap dengan nyenyak karena memekirkan perasaanya dan Arga terus menghubunginya, tak segan Arga berdiri dari sore sampai malam di luar rumahnya hanya karena ingin bertemu dengannya.
“Rain ada cowok yang ingin ketemu sama kamu di bawah.” Ujar Sandi.
“Siapa? Rangga?” Tanya Raina dengan kening mengkerut.
“Bukan, aku juga gak tau siapa.” Tukas Sandi mengedikan bahunya.
Sandi mengekori langkah Raina dari belakang, Rico, Rizki dan Cintya melihat siapa yang menunggu Raina dan mereka terkejut melihat laki-laki yang berdiri di lapangan sedang memegang sebuket bunga mawar merah.
“Gue gak salah liat kan?” Tanya Rico mengucek matanya.
Jangan lupa dukungannya..
Jika suka like, komen, vote dan rate ya 😁