
Dengan telaten Raina mengompres dahi Arga. Sesekali telapak tangannya mengecek apakah panasnya sudah turun atau belum, Hujan yang semakin deras mengguyur malamnya ibukota membuat Raina malas untuk pulang namun jika ia tak pulang papa nya bisa marah.
“Rain ponsel lo bunyi terus.” Ujar Cintya menghampiri Raina yang sedang duduk di tepi ranjang.
Raina menerima ponsel dari tangan Cintya dan ia segera menjauh dari Cintya, baru saja ia teringat pulang, papa nya sudah menelfon membuat Raina mengambil nafas dalam siap untuk di marahi. Sekilas ia melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 21.55.
“Hallo pa..” Sahut Raina dengan lirih takut di marahi.
“Kamu dimana sayang? ini sudah malam.” Terdengar suara Adrian begitu mencemaskan anak gadisnya di sebrang sana.
“Rain lagi di rumah temen pa, dia lagi sakit.”
“Siapa nak?”
"Ya udah kamu temenin aja teman kamu, ini sudah hampir larut malam mana di luar ujan nya deres banget." Belum sempat Raina menjawab siapa temannya Adrian langsung menyela nya.
“Gak pa-pa gitu Raina nginep?”
“Iya gak pa-pa, kamu jaga diri jangan ngerepotin orang tua temen kamu!”
“Iya pa..”
"Ya udah papa tutup ya"
Sambungan telfon pun terputus, Raina mengerutkan alisnya seperti berpikir. Kenapa papa bisa langsung ngizinin? biasanya juga selalu tanya sama siapa aja? mungkin papa mikor aku lagi nginep di rumah temenku yang cewek.
“Lo gak pa-pa Rain?” Tanya Cintya melihat bibir Raina yang pucat. Cintya menempelkan telapak tangannya di dahi Raina.
“Lo demam Rain, lo makan dulu abis itu minum obat penurun demam, gue udah bikinin bubur.” Ujar Cintya mengajak Raina duduk di sofa dekat jendela kamar Arga.
“Udah lo istirahat ya. Bentar gue keluar dulu.”
“Rain...” Rizki mengusap bahu Raina yang sedang meringkuk di sofa kecil yang hanya muat untuk 2 orang, bubur hangat dan juga segelas air di nampan ia simpan di atas nakas.
“Rain..” Rizki mencoba membangunkan Raina namun ternyata Raina sudah terlelap ke alam mimpi.
“Tidur dia.” Ujar Rizki pada Cintya dan Rico yang memasuki kamar.
“Kasian banget dia, tidurnya kayak gak nyaman.”
“kan sofa nya kecil Ko.” Ujar Cintya.
“Tidurin di ranjang aja.”
“Kan ada Arga Ricooo..” Ujar Cintya dan rizki bersamaan.
“Emang kenapa? Kan cuma tidur.”
“Kalo si Rain bangun gimana?” Timpal Rizki.
“Kalo bangun mah ya bangun, itu tandanya dia idup.” Ucap Rico menggendong tubuh Raina untuk di pindahkan ke ranjang.
“Gue gak ikutan.” Ucap Rizki dan Cintya barengan keluar kamar.
“Ckk, cuma gini aja lo kayak takut.” Sungut Rico membawa kembali nampan keluar dari kamar Arga.
“Makanan siapa itu?” Tanya Rizki pada Rico yang baru saja menutup pintu kamar, ia duduk melihat makanan yang sudah tersaji di meja depan tv.
“Si Rain.” Ucap Rico datar memakan makanan Raina.
“Wah lo kurang ajar banget, milik orang itu.” Rizki ikut makan di sebelah Rico.
“Dari pada basi mending di makan kan, biar gak mubazir.”
“Hmmeehh” Rizki hanya manggut-manggut sambil lahap memakan pasakan Raina.
"Sayang Ko kalo gak dimakan." Kilah Rizki.
Cintya menelan salivanya melihat Rizki dan Rico yang begitu lahap ia segera mengambil piring dan ikut makan bersama, beberapa kali Rizki dan Rico memuji masakan Raina.
Setelah kenyang mereka langsung merebahkan setengah tubuh bersama di sofa, sedangkan piring bekas masih tergeletak di atas meja.
“Sin lo kan cewek, beresin gih..” Tukas Rico merasa risih melihat piring kotor.
“Ckk..” Cintya berdecak namun ia pun segera membereskannya dan membawa ke dapur untuk ia cuci besok.
“Gue bantuin.” Ujar Rizki membantu Cintya.
“Gak sekalian di cuci?” Tanya Rizki melihat Cintya yang hendak pergi dari dapur.
“Ngantuk gue.”
“Ya udah gue aja.” Rizki membuang sisa makanan ke tempat sampah dan ia segera mencuci satu persatu piring serta gelas.
Melihat Rizki mencuci piring membuat Cintya merasa tak enak hingga ia pun ikut membantu.
“Sin..”
“Hmm..”
“Lo gak apa si Rain deket ama si Arga lagi?”
“kenapa emang?” Tanya balik Cintya.
“lo kan cinta banget sama dia, lo yakin gak pa-pa?”
“Gue..” Cintya berhenti sejenak menghela nafas kasar. “Jujur sakit Ki liat Arga ama cewek lain, tapi gue gak mau dia jadi jauh sama gue Ki. Gue gak mau persahabatan yang kita jalin dari dulu pecah hanya karena ke egoisan gue.” Sambungnya sembari meletakan piring bersih ke tempatnya.
“Gue yakin sakit lo akan segera sembuh Sin.” Ujar Rizki mengelap tangannya yang basah.
“Ki..” Tegur Cintya ketika Rizki mengambil sofdrink di kulkas.
“Hmm..” Rizki berdehem karena ia sedang minum.
“Lo mau gak nyembuhin luka di hati gue?” Pertanyaan Cintya membuat Rizki tersedak hingga terbatuk-batuk.
"Lo kenapa gak hati-hati sih minumnya." Ucap Cintya membantu menepuk-nepuk punggung Rizki.
“Lo yakin Sin?” Tanya Rizki tak percaya.
“Emmh..”
“Gue mau Sin, gue udah sayang dan cinta sama lo sejak dulu.” Tutur Rizki mencakup kedua lengan Cintya dan mencium bibir mungil Cintya dengan dalam untuk menyalurkan hasrat yang ia pendam dari dulu.
“Eehheemmm…” Rico berdehem membuat Rizki dan Cintya melepaskan pagutan bibir mereka.
“Lo nyari tempat yang gak ada orang dong, gue kan gak ada pasangannya.” Tutur Rico tanpa merasa bersalah mengambil sofdrink di kulkas dan meminumnya.
Rizki dan Cintya hanya tersenyum malu di sertai canggung, bagaiman tidak dari sahabat menjadi pacar? Pasti ada kecanggungan.
“Oh iya, besok gue tunggu Pajak Jadian nya.” Timpal Rico tersenyum menyeringai pada sahabatnya dan kembali mengambil snak.
Cintya hanya mendelik dan melengos begitu saja ketika Rico masih saja diam,
"Ganggu banget sih lo." Ujar Cintya menoyor kepala Rico dan berlalu.
Jangan lupa dukungannya…
Jika suka, like, komen, vote dan rate ya😁