
Liburan sekolah pun tiba, kali ini Raina selalu bermain ke tempat Abi atau hangout bareng Sandi dan Sania.
Raina mengajak Abi dan Nisa untuk menghabiskan waktu di mall. Sesampainya di mall Raina langsung membawa Abi dan Nisa ke area bermain, senyum bahagia terukir jelas di wajah mereka. Raina mengajarkan beberapa permainan dan duduk menunggu.
“Rain..” Raina menegang ketika mendengar suara tersebut.
“Kau benar Raina.” Tutur Nadine duduk di sebelah Raina.
“Tumben kau main ke sini Rain? Dengan siapa”
“Teman.” Sahut Raina datar, ia sama sekali tak berminat untuk berbicara dengan bekas temannya.
Raina tahu Nadine lah yang paling berhianat padanya, karena Nadine dengan sengaja menggoda Rangga waktu itu. Lelaki mana yang menolak di beri kenikmatan secara cuma-cuma? Mungkin laki-laki bodoh pikir Raina.
“Ohh.. Aku bersama Rangga, dia sedang beli minuman dulu.”
Nadine menyangka Raina cemburu ketika Raina bangkit berdiri.
“Rain, gue harap lo jauh-jauh sama Rangga, karena dia milik gue sekarang.”
“Tanpa lo suruh juga udah gue lakuin, tapi kalo Rangga sendiri yang deketin gue gimana?” Tanya Raina tersenyum sinis menatap tajam Nadine.
“Gue gak akan biarkan itu terjadi.”
“Oh ya?? Kita lihat gimana reaksi Rangga ketika melihat gue sekarang.” Raina memberikan senyum menyeringainya, ia melihat Rangga berjalan ke arahnya dari belakang Nadine.
“Rain lo di sini?” Tanya Rangga memberikan minuman untuk Nadine pada Raina.
“Sorry Ga, gue gak suka minuman buat orang lain di kasih ke gue. Oh iya, gue minta lo jangan deket-deket gue karena gue gak mau di tuduh pelakor.” Raina berbalik badan meninggalkan Rangga.
“Lo bilang apa padanya?” Rangga menatap tajam Nadine.
“Gue cuma bilang kalo lo milik gue, apa lo lupa kita udah jadian?”
“Aaarrgghhhhh…” Rangga meninggalkan Nadine dengan kesal, padahal sekarang ia sedang berusaha mendekati Raina lagi.
“Lo kenapa marah sih?? Apa gue salah Ga? Gue cemburu liat lo deket cewek lain, gue gak mau ya di duain.” Tukas Nadine.
“Lo tau kan kalo gue gak pernah bisa hanya pacaran dengan satu cewek, jika lo gak bisa neriman sifat gue ya udah kita putus detik ini juga.”
“Gue gak terima lo perlakuin kayak gini.” Teriak Nadine menjadi pusat perhatian pengunjung. Nadine melihat ke arah Raina yang sedang menyeringai.
“Lo bikin gue malu.” Rangga pergi meninggalkan Nadine sebelum ia lebih malu.
***
Raina bersama Abi dan Nisa menunggu Sandi dan Sania di fast food restaurant, saat mereka sedang menyantap makanannya Rangga menghampiri dan duduk di sebelah Raina.
“Gue kira lo udah pulang.” Rangga menyomot kentang goreng punya Raina.
“Ngapain lo ke sini? Dimana Nadine?” Raina kembali memakan burgernya.
“Rain…” Sandi dan Sania menyapanya, mereka menggabungkan meja lain dan duduk bersama.
“Mereka teman baru lo Rain?” Tanya Rangga.
“San, pesanan lo bungkus aja!!gue udah gak mood di sini.” Raina bediri mengajak Abi dan Nisa keluar.
“Rain, lo kenapa? Bukankah kita akan selalu menjadi teman? kenapa sekarang lo seperti menghindar?”
“Lo jangan pikirin perkataan Nadine, gue udah gak punya hubungan apapun dengannya.”
“Sorry, Ini bukan karena Nadine, tapi karena gue gak mau pacar gue marah karena deket sama lo.”
“Setau gue lo jomblo Rain.” Rangga tersenyum mempesona.
“Lo salah, gue udah punya pacar dan yang pasti dia jauh lebih baik dari lo, jadi gue minta lo jauh-jauh dari gue mulai sekarang!!.”
“Gue gak percaya Rain.”
“Kenapa lo gak percaya? Gue pacar Raina dan gue harap lo jauhin cewek gue!!!” Arga datang begitu saja dengan merangkul pinggang Raina di hadapan Rangga, dan ia mencium pipi Raina dengan mesra membuat Sandi dan Sania menutup mata Abi dan Nisa.
“Ayo honey, maaf ya aku telat jemput kamu.”
Mereka berlalu meninggalkan Rangga yang menahan kesal, Arga membukakan pintu mobilnya dan Raina masuk di ikuti Abi dan Nisa. Sedangkan Sandi dan Sania mengikuti mereka dari belakang.
“Mobil pacar kakak keren banget.” Ujar Nisa memuji mobil sport Arga.
“Kak nanti kalau kau sudah besar beli mobil yang seperti ini ya, kayak di tv-tv yang mobilnya bisa di buka atasnya.” Nisa berkata dengan memohon pada Abi.
“Kau suka? Aku bisa membuka atapnya, lihatlah.” Arga menekan tombol untuk membuka otomatis atap mobilnya.
“Aku suka.. ”
“Kau harus rajin belajar dan bekerja, nanti juga kalian bisa mempunyai apa yang kalian inginkan.” Raina menoleh ke belakang melihat tingkah Nisa yang ceria.
“Kau belok kiri setelah ini, kita harus mengantarkan mereka.” Raina memberi petunjuk arah rumah Abi.
Rangga membelokan mobilnya dan tak lama mereka sampai di depan gang rumah Abi.
“Maaf ya jalan-jalan kita tak sesuai rencana, nanti kita main lagi. Hati-hati sayang…” Raina mengusap pucuk kepala Nisa dan mereka pun berlari untuk pulang.
“Ayo.” Arga kembali membukakan pintu mobilnya untuk Raina, namun Raina hanya berdiri dan menyilangkan tanganya di dada.
“Kau tak ingin pulang?” Arga menutup kembali dan menghampiri Raina yang masih bergeming di tempatnya.
“Apa yang lo lakukan tadi?”
“Apa?”
“Ayolah Arga, jangan pura-pura bodoh!!”
“Gue berusaha menyelamatkan harga diri lo, bukankah perkataan cowok tadi benar?”
“Maksud lo?”
“Ayolah Rain, jangan pura-pura bodoh.” Arga terkekeh menirukan perkataan Raina..
“Arga gue serius.”
“Gue juga serius, lo jomblo dan gue jomblo oke fix kita sekarang jadian, gue gak suka penolakan.”
“Haha.. hahaha… Lo pikir gue Anya? Sorry, gue lebih baik jomblo dari pada harus pacaran sama lo.”
“Lo yakin?”
“Yakin lah…”
“Baiklah, gue akan katakan sama cowok tadi kalo lo hanya pura-pura biar dia ganggu lo terus.”
“Sekarang naik, gue akan antar lo pulang!!” perintah Arga membukakan kembali pintu mobilnya.Raina pun terpaksa naik dan Arga tersenyum menyeringai ia merasa menang.
“mau mampir kemana hon?”
Dalam perjalanan Arga dan Raina membuat kesepakatan dengan menjadi pacar pura-pura selama sekolah. Raina menyutujuinya karena menurutnya Rangga dan Nadine tak kan bisa mengganggunya dan soal Anya? itu urusan Arga pikirnya.
“Jijik banget.” Raina mencebikan bibirnya.
“Hahha.. hahha…” Arga tertawa terbahak-bahak mengejek Raina.
“Lo jangan nyari kesempatan ya, gue gak suka lo cium-cium atau peluk gue.”
“hmmm.”
“Ingat kita hanya pura-pura, dan kita sama-sama untung.”
“Okey honey.”
“Jangan panggil gue honey kalo lagi berdua!!!”
Arga tertawa terbahak-bahak mengerjai Raina, Raina memalingkan wajahnya, jika saja ia tak berpacaran dengan Rangga mungkin jalan ceritanya takkan seperti ini, selama ia menjauhi mereka Rangga muncul kembali dan Nadine pasti akan terus mengganggunya, Raina tahu sifat Nadine, dia tak akan tinggal diam orang yang di sukainya di dekati orang lain, buktinya dia berani menikung temannya sendiri. sekarang Raina merasa lega dan senang bisa mengetahui mana teman yang tulus dan teman yang hanya memanfaatkan.
Jangan lupa dukungannya kakak readers.
Jika suka like, komen, vote dan rate ya ;)