
Satu per satu keluarga serta kerabat dari keluarga Alm Mirna dan Alm Wijaya dan teman Arga meninggalkan area pemakaman, Arga duduk berlutut di sebelah pusara neneknya, ia menunduk dengan tangannya yang tak pernah lepas dari nisan.
Semua sahabatnya berjongkok dan mengusap punggung Arga mengucapkan belasungkawa dan mencoba menguatkan sahabatnya. Raina hanya diam berdiri di belakang mereka, sang ayah sudah pergi meninggalkannya.
Pandangannya beradu dengan Cintya, mereka hanya saling diam dengan perasaan sedih. Cintya, Rico dan Rizki beranjak pergi meninggalkan Arga sendiri karena ia tahu Arga membutuhkan waktu sendiri.
Raina tak bergeming ketika mereka berpapasan, Rizki dan Rico berjalan terlebih dahulu. Cintya diam sejenak di sebelah Raina, pandangannya lurus tanpa menoleh.
“Jadilah obat penawar untuknya!” Ucap Cintya lirih.
Raina mematung, apakah ia bisa menjadi obat untuk Arga? Apakah mereka bisa seperti kemarin-kemarin? kini tinggalah Raina yang bersama Arga.
[Apa masih lama? Aku lihat teman Arga yang lain sudah pulang. ~Dhafin.]
Sebuah chat WA dari Dhafin masuk, Raina segera membalasnya, ia masih ingin menemani Arga.
[Kakak bisa pulang dulu, aku ada urusan sebentar dengan Arga. ~Raina.]
Dhafin yang melihat balasan dari Raina hanya menarik nafas kasar, tubuhnya ia sandarkan pada kursi mobil, menoleh sebentar pada dua manusia yang sedang menatap 2 pusara bersamaan.
***
“Nenek-Kakek maafin Arga.” Tubuhnya bergetar menandakan Arga menangis, namun Raina tak mendengar suara tangisnya.
“Arga udah gak punya siapa-siapa sekarang. Dulu ibu dengan sengaja ninggalin Arga dan sekarang kenapa harus kalian juga?” Tangannya meremas tanah yang masih basah, terlihat baju koko putihnya kotor karena Arga membantu proses pemakamannya.
“Pulanglah, dia nungguin lo.” Arga berucap ketika mendengar langkah kaki mendekatinya, ia tahu pasti Raina karena ia melihat sekilas mobil Dhafin masih di sana.
Sontak Raina menoleh kebelakang, dan jelas saja mobil Dhafin masih terparkir di sana. Bukankah ia sudah menyuruhnya pulang duluan? Kenapa Dhafin masih menunghunya? Pikir Raina.
“Apa kau tak ingin pulang juga?” Tanya Raina berdiri di belakang Arga dengan memayunginya.
Arga tersenyum miris,“Untuk apa? Udah gak ada lagi yang ngarepin gue pulang.”
Raina tersenyum ketika ia mendengar Arga sudah tak menggunakan sebutan Aku-kamu, rasanya aneh, dan hatinya terasa sakit, sebenci itukah ia padanya? Hingga ia tak mau lagi menggunakan sebutan yang biasanya.
“keluargamu pasti menginginkanmu pulang, buktinya kakakmu masih menunggu di sana.”
“Dia nungguin lo, bukan gue.” Ucap Arga masih memunggunginya.
Apa benar Dhafin menunggunya? Bukankah Arga adiknya? Kenapa ia tak mengajaknya pulang? Ada apa diantara mereka sebenarnya? Rasa penasarannya begitu menyeruak.
“Segala sesuatu yang bernyawa sudah Allah tetapkan batas waktunya Arga, maka bersabarlah atas kejadian yang menimpamu.”
Raina senang mendengar Arga menyebutnya kamu, namun perkataan tersebut sungguh menusuk hatinya.
“Aku tak tahu apa yang kurasakan saat ini untukmu, entah itu rasa kasihan atau rasa sayang. Jujur aku ingin menemanimu sekarang.”
“Gue butuh waktu sendiri.”
“Aku tak akan mengganggumu, anggap saja aku tak ada.” kekeuh Raina.
“Kasian dia nungguin lo, dia pacar lo kan sekarang?” Arga kembali meremas tanah, hatinya sakit saat mengingat senyuman Bagaskara yang bangga karena Dhafin membawa wanita kemarin, padahal kemarin adalah hari kematian Nenek dan kakeknya. Arga benci melihatnya.
Raina mematung, kenapa Arga berpikiran sempit? Tanpa alasan kemarin ia marah dan sekarang ia bilang Raina pacarnya Dhafin.
“Jujur aku tak mengerti dengan apa yang ada di fikiranmu. Jika kau benci padaku jangan bawa Dhafin di sini, kemarin kau salah paham, bunga itu…” belum sempat Raina menjelaskan Arga sudah memotong perkataanya.
“Salah paham? Gue bahkan denger dan lihat jelas jika lo milih dia.”
“Arga…” lirih Raina.
“Tinggalin gue sendiri.”
“Tapi Ga..”
“Oh iya, soal hadiah.. gue mau ganti jadi lo gak usah sama-sama gue nanti. bisa gue minta sekarang Raina?” Kini Arga menoleh ia melihat Raina yang begitu cantik dengan balutan hijab putih serta kaca mata hitam yang bertengger di hidung macungnya. Raina mengangguk.
“Tinggalin gue dan gak usah muncul di depan gue lagi, karena jika lo muncul sekali aja gue gak bakal biarin lo pergi lagi.” Ucap Arga tegas, melalui kaca mata hitamnya Raina bisa melihat netra Arga yang membendung telaga bening, sekali saja ia berkedip telaga bening itu akan mengalir membasahi pipinya.
Tak ada kata yang bisa Raina ucapkan sekarang, air matanya tiba-tiba saja jatuh begitu saja, entah karena apa ia menangis, bukankah ia juga kesal dengan Arga yang mempermainkan persaannya? Tapi kenapa saat ia diminta untuk pergi hatinya berkata enggan? sebenarnya siapa yang salah di sini?
“Akan aku usahakan.” Ucapnya parau.
Langkah Raina terlihat gontai, Dhafin segera keluar dari mobil dan menghampirinya, Raina membalas senyuman Dhafin yang membukakan pintu untuknya, Raina masuk dengan terus menatap Arga yang masih duduk di tempatnya.
Seketika Dhafin menjalankan mobilnya meninggalkan area pemakaman. Jadi benar perkataan Arga jika Dhafin menunggunya bukan Arga, kenapa Dhafin tega meninggalkannya?
Arga menoleh ketika mobil Dhafin menjauh, sudut bibirnya terangkat sebelah. Hidupnya begitu miris setelah ibunya pergi.
Jangan lupa dukungannya..
Jika suka, like, komen, vote dan rate ya😁