RAINA

RAINA
Chapter 102



"Kalau lo bener ngikutin gue, gue akan membenci lo Arga" Tutur Raina membuat Arga menoleh seketika padanya hingga pandangan mereka terpaut dalam.


Lo masih aja benci gue Rain? Batin Arga bergejolak, hatinya sakit saat mendengar kata benci dari mulut Raina sendiri.


“Gue pinjem HaPe lo dong.” Raina memalingkan wajahnya merasa canggung ditatap dalam oleh Arga.


“Gue gak bawa HaPe.” Raina kembali melirik Arga yang sudah menatap lurus.


“Ckk… masa lo gak bawa HaPe sih?” Tanya Raina merasa tak percaya Arga tak membawa ponselnya, jaman sekarang mana ada yang tak membawa ponsel?.


“Beneran gak bawa, soalnya buru-buru.” kilah Arga.


“Buru-buru kenapa?Ohh.. Pasti nganter Jasmine ya?” Raina bertanya dengan memalingkan wajahnya melihat kaca yang basah dengan tetesan air hujan yang tak deras.


“Enggak, ada perlu aja makanya aku buru-buru.” Tegas Arga.


“Lo gak usah bohong Ga!! Bilang aja kalo abis nganter Jasmine.”


“Gue gak bohong Rain..” Ujar Arga yang sedikit kesal. “Tunggu.. Tunggu… ” Lanjutnya lagi.


“Kenapa?” Raina menoleh pada Arga yang seperti sedang mengendus sesuatu.


“Kamu nyium bau apa gitu??” Arga terus saja mengendus.


“Bau apa emang? Bau mobil aku?”


“Bukan.”


“Terus?”


“Kayak bau sesuatu.”


“Iya apa??” Tanya Raina mulai kesal.


“Bau-bau kecemburuan kayaknya, aku mencium bau orang yang lagi cemburu.”


“Cemburu?”


“Iya, kamu cemburu kan aku sama Jasmine?” Ujarnya dengan menaik-naikan kedua alisnya dengan tersenyum menggelikan.


“Sinting.” Ujar Raina memalingkan wajah dengan mengulum senyum, bisa-bisanya Arga menggoda dirinya.


“Padahal aku bakalan seneng kalo kamu cemburu Rain.” Tutur Arga dengan gumaman kecil, ia sampai menghela nafas dalam seolah kecewa berat.


“Ckk hujannya kenapa lama banget sih?” Raina mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menghindari hatinya yang mulai berdebar tak karuan, mendengar gumaman dari Arga ia menjadi merasa ada yang aneh pada hatinya.


“Bentar lagi juga reda Rain, kamu abis dari Sania ya?”


“Kok kamu tau?” Selidik Raina.


“Ini kan arah jalan kerumah Sandi sama Sania, makanya aku tahu.. emang kamu bukan dari rumah Sania? Kamu dari mana?”


“Gak perlu dijawab juga kan?”


“Udah malem banget ini, gimana aku pulang?” Keluh Raina merasa sudah ingin merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk miliknya.


“Pulang bareng aku, aku bawa jas ujan kok, kamu bisa pake.”


“Emang bawa dua?”


“Bawa satu, cepet pake!!” Arga memberikan jas hujan yang ia bawa didalam ranselnya.


“Trus lo gimana?”


“Kamu mau sampe pagi disini?” Arga memakai jaketnya kembali dan menunggu jawaban dari Raina.


“Ya udah kalo kamu mau tetep disini, aku juga bakal tetep disini.” Arga mengunci kembali pintu bahkan ia mematikan lampu didalam mobil Raina.


“Jangan salahin aku kalo nanti warga tiba-tiba grebek kita, warga pasti bakal mikir kita berbuat mesum disini.” Arga menyandarkan punggungnya dan mulai mencari posisi nyaman agar ia bisa tidur.


“Katanya mau balik?” Raina menyalakan lampunya kembali dan segera memakai jas hujan pemberian Arga.


Bibirnya mengulum senyum melihat Raina sudah siap untuk pulang, ia memasukan barang berharga milik Raina kedalam tas ranselnya dan keluar mengambil motor sport kesayangannya yang sengaja ia parkir di sebrang jalan.


Hujan malam ini tak terlalu deras, hanya butiran-butiran air yang sangat kecil hingga seperti gerimis namun ternyata bisa dengan cepat membasahi apa pun yang terkena olehnya, hawa dingin langsung Arga rasakan saat turun dari dalam mobil, sungguh siapapun yang keluar malam ini pasti akan merasakan dingin yang sama dengan Arga, meski telah memakai jaket.


“Ayok!!”


Melihat Arga yang sudah siap diatas motornya, Raina pun mengambil tas ransel Arga yang berisi barang berharga miliknya, kedua kakinya turun menapaki jalanan aspal yang basah, karena perlindungan dari jas hujan maka ia sama sekali tak merasakan kedinginan.


“Pegangan yang kuat!!” Perintah Arga menghidupkan kembali motornya.


Awalnya canggung saat Arga menarik kedua tangannya untuk memeluk tubuh tegap pria yang selalu Raina rindukan selama ini, setelah Arga menjalankan motornya, Raina pun segera menarik kedua tangan yang melingkari perut Arga, sungguh ia menjadi penakut sekarang.


Tanpa Raina sadar ada Arga yang kecewa karena ia enggan memeluknya, Arga menambah kecepatannya, tak ada cara lain agar Raina mau memeluknya, dan itu berhasil karena sekarang Raina memeluknya erat bahkan ia membenamkan wajahnya dibahu Arga.


Sungguh ini adalah momen yang Arga tunggu-tunggu, setelah sekian purnama ia tak bisa berdekatan dengan Raina, kini sama sekali tak ada jarak yang memisahkan mereka berdua.


Wajah Arga berseri, hawa dingin yang menerpa tubuh serta kulit kedua tangannya begitu tak terasa karena sudah terselimuti kebahagiaan yang tak terkira.


Dua puluh menit waktu yang begitu singkat menurut Arga, bahkan terlalu singkat menurutnya, ia menjadi berharap jika jarak rumah Raina begitu jauh agar ia bisa berlama-lama boncengan dengannya.


“Udah sampe Rain.” Bahu kirinya ia goncangkan untuk menyadarkan Raina.


Raina mulai tersadar, ia segera turun dan membuka jas hujan milik Arga didepannya, Arga yang melihatnya hanya diam saja dengan kepalanya ia sandarkan dikedua tangan yang menumpu di stang motor, kedua bola matanya bergerak mengikuti apa yang Raina kerjakan, dan satu yang ia lihat ternyata wajah Raina begitu masam seperti ditekuk.


“Marah?” Tanya Arga dengan menyeringai.


“Menurut lo?” Tanya balik Raina.


“Kenapa?”


“Menurut lo kenapa gue bisa marah?”


“Ya aku gak tau lah.” Jawab Arga mengedikan kedua bahunya hingga tubuhnya berdiri tegak diatas motor.


“Bisakan lo gak usah ngebut tadi?”


“Ohh… karena itu” Jawab Arga dengan santai membuat kesal Raina.


“Sorry… kamu tau kan aku hanya pake jaket tipis? Aku gak mau terlalu lama dijalanan karena nanti tubuhku bisa masuk angin kedinginan.”


Oh jadi karena itu? karena lo gak mau lama bareng gue? Kini batin Raina yang kecewa.


“Nih jas ujan milik lo, udah malem mending pulang.” Usir Raina tapi ia tak beranjak dari tempatnya.


Mereka sama-sama bergemimg, Arga tak ingin pulang sebelum Raina masuk kedalam dan begitupun dengan Raina yang tak ingin masuk duluan sebelum melihat Arga pergi.


“Udah dianterin tapi gak mau bilang makasih gitu?” Jawab Arga pura-pura membereskan jas hujannya.


“Terima kasih.” Ucap Raina dengan ragu, sungguh hatinya sangat berterima kasih sekali pada Arga yang sudah rela mengantarkannya sampai rumah, namun bibirnya begitu kelu saat ia ingin mengucapkan dua kata itu..


Arga bersiap menyalakan motornya.


“Lo gak mau pake helm?” Tanya Raina melihat helm Arga di pergelangan tangannya.


“Nanti aja.”


“Ehh sini dulu Rain!! itu ada apa diwajahmu??” Arga menyuruh Raina segera mendekat.


Bukannya berjalan mendekati Arga, ia malah membersihkan semua area wajahnya termasuk kedua matanya, ia membersihkan sudut matanya karena takut ada belek yang bersarang disana.


“Bukan disana, sini cepet!!” Perintahnya lagi.


“Ada apa sih?? Gak ada belek kok? Emang muka gue kenapa?” Jawab Raina dengan berjalan mendekati Arga, kedua tangannya masih sibuk berusaha membuang kotoran diwajahnya.


“Bukan di wajah, tapi disana.” Tunjuk Arga pada bahu kanan Raina.


Melihat Arga menunjuk bahunya ia pun menoleh, melihat ada apa dibahunya, namun tenyata tak ada apa-apa disana.


CUP..


Satu kecupan berhasil mendarat di pipi kiri Raina, Kedua mata Raina membulat sempurna, tubuhnya mematung, pikirannya melayang entah kemana merasa kaget dengan kelakuan Arga. Gila.. ini sungguh gila menurutnya.


“AAARRGGAA!!!!” Teriak Raina yang tersadar jika ia telah di bodohi oleh Arga.


“Sorry Rain..” Jawab Arga yang langsung menancap gas meninggalkan Raina.