
Pak Anton pergi setelah Raina menghilang dari pandangannya, Raina menyusuri jalan gang kecil yang terlihat sepi.
"Kak Raina." Terdengar suara yang sangat familiar memanggil namanya, Raina membalikan tubuhnya dan ia melihat Nisa dan Abi berlarian menghampirinya.
"Capek ya." Raina mengusap keringat di dahi Nisa yang sedang ngos-ngosan.
"Kalian habis ngamen?" Raina bertanya ketika ia baru sadar Abi dan Nisa membawa alat mengamennya.
Nisa dan Abi hanya mengangguk, "Kami bosan di rumah kak, lagian udah pada ngerjain PR kok." Ujar Nisa menampilkan wajah imutnya.
Raina tersenyum dan menggandeng tangan kecil di sampingnya sedangkan Abi mengekori dari belakang, sepanjang perjalanan Nisa begitu semangat menceritakan kegiatan di sekolahnya.
"Kak Rain kok gak bilang mau main sih? Untung kita udah pulang kalau tidakRaina berjalan beriringan dan senyumnya tak pernah pudar mendengar kebahagiaan Nisa yang selalu mendapat nilai bagus di kelasnya, bahkan ia sudah tidak sabar untuk ujian akhir biar cepat naik kelas katanya.
Raina hanya geleng-geleng kepala dengan cerita Nisa yang mengatakan bahwa Abi tadi di goda oleh anak wanita di taman, ya ampun anak sekecil ini.
"Kalian harus belajar yang benar!"
"Tentu saja, kami pasti belajar dengan benar biar bisa kerja kantoran, nanti dapat gaji gede terus bisa buat rumah." Ucap Nisa antusias.
"Kami tak akan mengecewakan kakak." Abi berucap dengan sungguh-sungguh sampai menghentikan langkahnya.
Raina mengusap kepala Nisa dan melanjutkan langkah mereka, sesampainya di rumah Abi, Raina melihat ibunya Abi sedang menidurkan Anaknya yang bungsu.
"Assalamualaikum bu.." Nisa,Abi dan Raina mengucapkan salam saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam.. Ehh ada non Raina juga."
Raina mencium punggung tangan ibunya Abi setelah Abi dan Nisa tentunya, Raina duduk beralaskan tikar.
"Maaf ya non cuma bisa air putih." Wulan menyodorkan air putih di depan Raina.
"Gak papa bu, saya minum ya bu." Raina meminum air putih dalam gelas tersebut hingga habis karena kehausan.
"Oh iya Nisa, ini kakak bawain susu buat adek dan juga makanan ringan buat kalian." Nisa memberikan makanan ringan dalam kantong kresek tersebut pada Nisa dan di sambut senang oleh Nisa.
"Makasih kakak."
"Sama-sama."
"Sama-sama bu."
"Oh iya, ibu masih kerja di rumah orang?"
"masih non, kenapa?"
"Begini bu, maaf bukannya saya gimana,.."
Bu Wulan mengerutkan keningnya karena Raina tak memeruskan perkataannya.
"Assalamualaikum.." Joko ayah dari Abi dan Nisa masuk setelah ia membereskan dus dan botol bekasnya.
"Waalaikumsalam.." Jawab Wulan menyambut suaminya di luar
"Ada siapa bu?" Tanya Joko melihat ada sepatu bagus di luar rumahnya.
"Non Raina pak."
Joko dan Wulan masuk ke dalam, ia melihat Raina sedang menemani Sania adik dari Nisa dan Abi.
"Siang Pak.." Sapa Raina.
"Maaf ya pak, bu.. Raina sering main ke sini."
"Tak apa Non, saya seneng Non mau main ke rumah kami yang seperti ini." Ujar Joko.
"Begini pak, saya sebenarnya ingin merenovasi rumah bapak, namun waktu itu bapak menolaknya kan, jadi saya bawa uangnya untuk modal bapak dan ibu usaha biar di rumah saja tidak perlu mencari barang bekas dan juga ibu tak perlu kerja di rumah orang lain."
"Ya ampun Non, saya kan sudah bilang tak perlu repot-repot bantu kami terus.. Anak saya udah di tanggung sekolahnya saja saya udah senang, saya tidak tau harus gantinya bagaimana." Joko merasa terharu karena kebaikan Raina.
"Gak perlu di ganti pak ini saya kasih, beneran.. saya tidak mau Abi dan Nisa mengamen, saya mau mereka fokus sekolah dan ibu bisa mengurus anak ibu, sedangkan bapak bisa berjualan dengan uang ini." Raina menyerahkan Amplop coklatnya berisi uang.
"Bapak jangan tolak niat baik saya ya, saya minta maaf jika sudah menyinggung perasaan bapak dan ibu.."
Jangan lupa dukungannya kakak Readers.
Kasih like, comment, vote dan rate ya kakak ;)