RAINA

RAINA
Chapter 85



Udara dingin dari AC dalam kamar tak membuat seorang pemuda tampan yang sedang duduk di sofa dekat jendela berniat untuk masuk ke dalam selimutnya, cahaya rembulan masih nampak terlihat meski hari sudah menunjukan pukul 05.30.


Arga terus menghubungi Raina yang jauh dari jangkauannya, tepat pukul 06.00 dirinya mencoba kembali menghubungi Raina yang sedang merayakan tahun barunya. Namun sayang harapannya musnah ketika panggilannya kembali terabaikan.


Dan sekalinya di jawab ia harus kecewa karena mendengar pernyataan cinta dari pria lain. Entah apa tujuan Raina menerima panggilannya saat pria tadi menyatakan cinta, apakah untuk membuat Arga cemburu? Ataukah memang ia sudah menemukan kebahagiaannya?


“Serius amat.” Ujar Rizki ikut mendudukan tubuhnya di sebelah Arga karena ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya.


Sinar mentari pagi masuk ke kamar Arga yang terlihat luas di banding dengan kamar apartemennya, tak juga mendapatkan jawaban dari Arga, Rizki beranjak berdiri untuk membukakan jendela kamar supaya udara dingin dari AC dapat tergantikan dengan udara sejuk yang alami.


BBRaakkkkk


Ponsel yang dari tadi di gengaman Arga kini sudah berpindah ke lantai, entah apa yang membuat Arga tega melemparkan ponselnya. Dan Ini bukanlah pertama kali ia merusak ponselnya membuat Rizki hanya menghela nafas.


Kenapa lagi sih ni anak? Perasaan semalam dia baik-baik aja. Batin Rizki terdiam karena ia tak mau menjadi bahan lampiasan Arga.


Rico yang baru keluar dari kamar mandi menatap Rizki, lewat matanya ia bertanya kenapa ponsel Arga bisa tergeletak di lantai? Sebagai jawaban Rizki hanya bisa mengedikan bahunya kemudian duduk di sofa melihat Arga yang tengah merubah kamarnya.


“Udah Ga, sekarang lo gak tinggal di apartemen, lo harus belajar tenang!” Ucap Rico menenangkan Arga sebelum kamarnya berubah lebih berantakan.


“Lebih baik lo nge-gym, biar emosi lo terkontrol!!” Imbuh Rico memberi saran, karena Rico mulai tahu jika Arga sedang merubah kekesalannya dari marah-marah tak jelas dengan olah raga.


Tanpa berkata Arga segera keluar dari kamarnya, sedangkan Rizki dan Rico harus segera membereskan kamar yang sedikit berantakan karena ulah pemiliknya.


Rizki membenarkan Lampu tidur yang tergeletak di lantai untuk kembali berdiri tegak di atas nakas, sedangkan Rico melipat selimut serta mengembalikan bantal ke tempatnya. Saat tangannya ingin mengambil bantal di lantai ia melihat ponsel Arga yang retak, ia segera mengambil ponsel tersebut, untungnya ponsel Arga masih bisa menyala sehingga ia bisa melihat siapa yang ia hubungi terakhir kali.


“kayaknya gara-gara si Rain deh Ki.” Tutur Rico membaca pesan terakhir Arga.


Perkataan Rico membuat Rizki segera menghampirinya. “Lelaki tadi?” Tanya Rizki penasaran.


“Kayaknya nih si Arga telfon si Rain, trus yang jawab lelaki lain.” Analisa Rico.


“Kan bisa aja yang jawab kakaknya, jangan sampe dia cemburu gak jelas Ko.”


“Mending kita susul dia ke bawah.” Ujar Rico mendapat persetujuan dari Rizki dan mereka segera turun ke bawah.


Saat mereka melewati ruang keluarga terlihat Yulisa dan Bagaskara sedang sarapan bersama tanpa Dhafin di meja makan.


“Ehh.. mau kemana? Sini sarapan bareng dulu.” Ujar Yulisa yang melihat Rizki dan rico melewati meja makan.


“Nanti saja tante, terima kasih.” Jawab Rizki sopan.


“Sudah kalian ikut sarapan dulu aja, biarkan Arga sama Dhafin.” Ucap Bagaskara yang tahu kemana tujuan teman Arga.


“Arga lagi sama Dhafin Om?” Tanya Rico menarik kursi sebelah Bagaskara untuk ia duduki, Rizki pun Akhirnya ikut duduk sebelah Rico untuk menikmati sarapan dengan orang tua Arga.


“Iya, tadi mereka pergi bersama ke ruang gym.”


“Terima kasih tante.” Ucap Rizki ketika Yulisa mengambilkan nasi goreng untuk Rizki dan Rico.


“Makasih tan.” Ujar Rico.


“Sama-sama.”


Jika ada yang bertanya kenapa mereka bisa ada di rumah Arga? Jawabannya karena setiap merayakan tahun baru mereka akan bersama dan pulang pun bersama ke apartemen Arga. Dikarenakan sekarang apartemen Arga di sewakan maka mereka ikut pulang ke rumah Arga.


“Uhuuukk..” Rizki terbatuk mendapat pertanyaan dari Bagaskara.


“Maaf Om, abisnya tiap tahun baru kita suka lupa waktu.” Ujar Rico yang lebih santai.


Disaat mereka masuk ke dalam rumah, saat itu pula Bagaskara terbangun, ia keluar dari dalam kamarnya untuk mengambil minum karena Yulisa masih terlelap, Bagaskara melihat jam dinding yang terpajang dan waktu menunjukan sudah pukul 04.30 pagi.


“Dari mana saja kalian?” Tanya Bagaskara mengintimidasi.


“Kami hanya kumpul-kumpul biasa Om.” kembali Rico yang menjawab.


“Apa kalian dari club malam?”


Hening..


“Sepertinya benar.”


“Kami tak banyak minum kok Om.” Jawab Rizki membenarkan asumsi Bagaskara.


“Jadi kalian benar pergi kesana?”


Rizki meringis saat Rico menendang kakinya.


“Om tak akan marah pada kalian, tapi Om minta kalian bisa menjaga diri, bukankah kalian tahu jika kemarin Arga sempat mendapat fitnah dari Sindy, jangan sampai kalian juga menerima fitnah yang sama karena kalian mabuk.”


“Kami bisa menjaga diri kok Om, kami tak banyak minum dan juga tak bergabung bersama wanita, kami hanya kumpul bertiga jika di club.” Ujar Rico.


“Ya.. Om tahu, karena jika kalian banyak minum kalian akan mabuk berat dan tak mungkin ada di sini. Kalian tau penyebab Arga marah?”


Rizki dan Rico saling tatap mendapat pertanyaan dari Bagaskara yang terlihat khawatir sekali dengan Arga.


“Kenapa Om bertanya seperti itu?” Tanya Rizki.


“Maaf Om, alangkah baiknya Om tanyakan sendiri pada Arga.” Ujar Rico.


“Om tak berani bertanya, kalian tau sendiri bagaimana sikapnya jika sedang marah bukan? Ia tak akan pernah menjawab pertanyaan dari siapapun. Dan yang ada nanti malah Om yang kena marahnya.”


“Ini hanya masalah dengan pacarnya Om.” Ujar Rico.


“Om, Tante terima kasih atas sarapan paginya yang enak, maaf kami permisi duluan karena ingin menghampiri Arga.” Pamit Rizki di ikuti oleh Rico setelah mendapat Anggukan dari Bagaskara dan Yulisa.


Mereka melihat Arga yang sedang berlatih boxing dengan Dhafin, terlihat sekali jika Dhafin berusaha menahan pukulan-pukulan kuat yang di berikan Arga.


Baju yang dikenakan mereka nampak basah karena keringat. Spertinya mereka berlatih dengan sangat serius.


“Udah-Udah.. gue mau istirahat.” Ujar Dhafin menyerah mengangkat tangannya.


Arga yang melihat wajah lelah Dhafin segera meninggalkannya dan kembali meninju samsak yang berdiri tegak, lelahnya tak begitu dirasakan untuk melampiaskan amarahnya.


Dhafin menenggak air mineralnya di sebelah Rizki dan Rico yang sedang melakukan pemanasan. Dan saat mereka akan naik ke atas treadmil terlihat Arga merebahkan tubuhnya di lantai dengan dada yang terus naik turun karena kecapek-an.


“Tumbang juga dia.” Gumam Dhafin menyeka keringatnya.


Jangan lupa dukungannya😁