
Raina merasa senang karena niat baiknya di terima oleh Pak Joko dan Bu Wulan, ia menelfon Pak Anton untuk membeli bahan bangungan untuk membuat warung, karena Pak joko berniat untuk membuat warung sembako.
Setelah selesai membeli bahan bangunan Raina pulang bersama pak Anton, tak lupa ia menyuruh pak Anton mencarikan motor buat pak Joko.
Raina pulang tepat sebelum adzan magrib dan di rumah sudah ada Papa Adrrian menunggunya.
"Kenapa sekarang sering pulang sore?" Adrian berdiri di ambang pintu menyambut anak gadisnya pulang.
"Abis main dulu ke rumah temen pa." Raina mencium tangan Adrian dan tak lupa Adrian selalu mencium kening anak gadisnya.
"Papa nunggu kamu dari tadi."
"Emangnya ada apa? Tumben Papa nungguin Rain." Raina mengekori langkah kaki Adrian menuju sofa.
"Papa mau ajak kamu ke acara ulang tahun pernikahan rekan bisnis papa."
"Gak mau ah, nanti di sana membosankan." Raina menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa ketika tubuhnya berhasil duduk dengan sempurna.
"Papa janji di sana gak akan membosankan, lagian semuanya pasti membawa anak dan istrinya, masa papa sendirian? Kamu gak kasian sama papa?" Adrian berusaha membujuk Raina.
"Huuhhhfft." Raina hanya menghela nafasnya, jika sudah begini ia mau tak mau harus menuruti keinginan papanya.
"Gimana?"
"Seharusnya papa nikah lagi biar ada yang nemenin kalo pergi." Raina mengangguk serta menggerutu.
"Emang kamu mau cinta papa sama kamu dan kaka kamu terbagi sama orang lain? Trus nanti papa gak punya waktu buat kalian karena udah punya istri baru."
"Ya enggak lah." Raina menatap Adrian dan mengerucutkan bibirnya.
"Trus kenapa nyuruh papa nikah lagi?"
"Ya kan gak harus gitu juga, pasti papa bisa bagi waktu kok."
"Udah, papa cuma mau ngabisin waktu papa buat kalian, tidak perlu ada orang lain lagi di rumah ini kecuali nanti menantu papa dan cucu-cucu papa." Adrian tersenyum menerawang dengan masa depan anak-anaknya jika sudah menikah kelak.
"Papa isshhh… aku masih sekolah pa." Raina bangkit berdiri, ia mengambil tas ranselnya.
"Kan kak Raka bentar lagi wisuda."
"2 tahun lagi papa." Raina menjawab sambil berjalan.
"Iya-iya.. itu sebentar lagi sayang, udah kamu segera mandi dan bersiap karena nanti jam setengah delapan kita harus segera sampai rumah rekan papa."
"Hemm.. ini juga mau siap-siap papaku sayang" Raina menghentikan langkah kakinya dan menoleh sebentar pada papanya, Adrian hanya tersenyum lembut, setelah membalas senyuman Papanya Raina masuk ke dalam kamarnya.
Sebelum Raina masuk ke dalam kamar mandi, ia melihat ponselnya dan ternyata banyak panggilan tak terjawab dari Arga, Raina membuka salah satu pesan dari Arga.
[Lo gak blobir no gue tapi gue telpon gak lo angkat.]~Mr.Gaje.
Raina melempar ponselnya ke kasur, ia berjalan ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Setelah keluar dari kamar mandi Raina mencari gaun yang pas untuknya, Raina mendengus kesal karena ia di beri tahu mendadak, jika dari siang ia pasti tidak akan pulang telat dan bisa memilih atau mencari gaun yang cocok untuk di pakai agar tidak mempermalukan ayahnya.
Setelah lama mencari akhirnya pilihannya tertuju pada spaghetti strap off-shoulder dress berwarna merah.
Raina menuju meja rias sebelah meja belajarnya, ia menggunakan make-up natural, ia tak memakai bulu mata palsu karena bulu mata aslinya sudah lentik, ia hanya menggunakan maskara dan merapihkan kedua alisnya, tak lupa ia memakai perona pipi dan lipstik berwarna nude.
"Rain ayo sayang." Terdengar suara Adrian memanggil ayahnya dari bawah ketika Raina sedang menggunakan aksesoris Anting senada dengan warna dressnya.
"Iya pa tunggu sebentar lagi." Teriak Raina duduk di tepian ranjang dan sedikit berjongkok karena sedang menggunakan ankle strap heels berwarna hitam senada dengan clutch bag.
Jangan lupa dukungannya kakak Readers.
Like, comment, vote dan rate kakak Readers kesayangan ;)