
Masih bergeming ditempat, tanganya gemetar hebat rasanya ingin sekali ia menjambak rambut Nadine, berkata kasar dan meneriaki mereka.
Merasa tak tahan menyaksikan perbuatan keji mereka, Raina hanya bisa menenangkan hati dan fikirannya, dipejamkan matanya dengan menarik nafas dalam dan ia hembuskan perlahan, dengan berat hati Raina masuk lebih dalam dan mematikan audio musik yang menggemakan suara bising.
Rangga membuka matanya perlahan karena merasa aneh dengan musik yang tiba-tiba mati, sontak ia kaget saat melihat Raina berdiri di kaki ranjang dengan mensedekapkan tangannya, Rangga berusaha mendorong tubuh Nadine dan ia memperbaiki pakaian Nadine yang sudah terbuka setengahnya, Nadine tak sadar dengan apa yang Rangga lakukan, ia tetap saja meneruskan aktifitasnya, merasa kesal dengan Nadine yang tak mengerti kode darinya Rangga mendorong tubuh Nadine dengan kuat, ia beranjak berdiri dengan senjatanya yang masih dalam keadaan On, ia langsung memperbaiki celananya.
"Aku bisa jelasin Honey." Ucap Rangga memohon pada Raina dengan menresletingkan celananya.
"Lo apa-apa an sih Rang? Gue kan belum.." Ucapnya kesal namun dengan nada manja, ia kira Rangga berkata padanya.
Rangga memberi kode pada Nadine, Dengan bibir manyun karena ia masih kaget bercampur kesal pada Rangga langsung membalikan tubuhnya, Sontak kekagetannya bertambah saat melihat Raina berdiri dibelakang tubuhnya.
"Menjijikan." Raina melangkah ke rak buku Nadine dan mengambil buku bilogi yang ia cari-cari.
"Honey." Rayu Rangga berusaha memegang tangan Raina.
"Jauh-jauh dari gue!!" Ujar Raina dengan nada geram.
"Lo ternyata lagi santai kan? mending tugas lo kerjakan sendiri." Tutur Raina dengan sinis dan keluar dari kamar Nadine, langkahnya ia percepat karena Rangga mengikutinya bahkan ia langsung berlari menuju mobilnya setelah sampai di teras rumah Nadine.
"Astaga, mata suci gue ternodai." Pekik Raina membuka kaca matanya dan mengusap genangan air yang sudah berkumpul dipelupuk matanya.
"Dan kenapa gue malah liatin mereka sih? harusnya tadi gue pukul tuh si Rangga dan jambak juga rambut si Nadine." Gerutu Raina didalam mobil.
Sebagai supir pak Anton tak berani bertanya, ia hanya diam dan fokus pada jalanan didepannya.
"AAAAAAAAAA" Teriak Raina melampiaskan amarahnya hingga ia menangis menumpahkan semua air mata yang sudah tak bisa lagi ia bendung.
Pak Anton terus melirik ke arah kaca spion, ia melihat Rangga yang ia ketahui sebagai pacar dari Nona majikannya mengejar mobil yang mereka tumpangi dengan motor sportnya.
"Maaf non, itu den Rangga kayaknya ngejar kita non." Ucap Pak Anton karena Rangga berhasil menyalipnya.
"Udah jalan aja, gak usah hiraukan cowok brengs*k kayak dia." Tuturnya tanpa menghiraukan Rangga yang sudah menepikan motornya untuk menghadang mobil Raina.
Rangga yang gagal menghadang mobil Raina langsung naik keatas motormya dan mulai mengejar kembali mobil Raina, sungguh ia harus minta maaf meski tak tahu apakah dihatinya terbersit rasa menyesal atau tidak.
Sesampainya dirumah Raina menyuruh mang Didi untuk segera menutup pintu gerbang rumahnya, namun sayang Rangga berhasil menyusulnya.
"Rain aku bisa jelasin dulu." Ujarnya dengan tergesa-gesa turun dari motor.
"Mbak jangan biarin siapapun ganggu aku." Teriak Raina melihat mbak Ana yang keluar dari arah dapur dan hendak membukakan pintu saat ia sedang berlari menuju kamarnya.
Didalam Kamar Raina mengurung diri, ia mngunci kamarnya dan tak memperbolehkan siapapun masuk, bahkan papanya pun ia larang masuk, perutnya yang lapar tak ia hiraukan karena masih banyak snak dan minuman didalam kamarnya. Malam pun tiba, ia sama sekali tak membukakan pintu kamarnya hingga menjelang pagi.
Ke esokan harinya, Raina berangkat sekolah seperti biasa dengan mata sembab habis meluapkan emosi, bahkan ia tak menghiraukan Rangga yang sudah menunggunya di depan rumah, untuk pertama kalinya ia pergi sekolah tanpa Rangga.
Raina duduk di kursinya, matanya melirik tajam pada pria yang sedang berdiri dipintu masuk kelas, untung Raina pintar hingga Rangga tak berani lagi mengganggunya. Terlihat Nadine masuk, Raina tersenyum melihat Nadine yang nersikap biasa saja pada Rangga seolah tak ada apa-apa kemarin. Dengan santainya ia duduk disamping Raina tak ada raut rasa bersalah, jangankan penyesalan minta maaf saja ia tidak padahal Raina sangat berharap Nadine akan memohon maaf padanya.
"Rain lo marah ama gue?" Tanya Nadine santai hingga tak ditanggapi oleh Raina.
"Sorry deh sorry,.. Lo coba deh liat diri lo sendiri, lo udah nyenengin Rangga belum?" Nadine terkekeh pelan seolah mengejek Raina.
"Ciuman aja lo belum pernah kan? lagian bukan salah gue juga kalo Rangga ngelakuain ama gue, salah diri lo sendiri." Sambungnya, Nadine menatap Raina yang sedang fokus pada buku yang dipegangnya.
"Penampilan lo tuh mendekati kata culun, gue kan udah pernah bilang rubah penampilan lo!! Biar Rangga gak sama cewek lain, nih dari kacamata,.lo buka!! trus pake baju yang ketat dikit, roknya lo potong biar di atas lutut, biar modis. gue jamin kalo aja dari dulu lo ngelakuin apa kata gue pasti Rangga gak bakalan selingkuh dari lo." Sambungnya tanpa bersalah perkataanya sungguh sudah menyakiti hati Raina sangat dalam.
Flashback off
Buliran bening yang tanpa sengaja keluar dari kelopak matanya ia hapus dengan kasar, Raina menepuk-nepuk pipinya dengan keras supaya tersadar dengan apa yang telah ia lakukan.
"Gak guna banget gue nangisin mereka." Gumamnya tersenyum sinis untuk menutupi luka yang masih bersemayam dihatinya. padahal sudah sebulan lebih tapi tetap saja ia tak bisa melupakan kejadian itu.
Raina menjadi kesal sendiri saat ia mengingat perkataan Nadine, kenapa ia harus punya sahabat seperti Nadine? bukannya minta maaf dan merasa menyesal ia sama sekali tak mempermasalhkannya seolah itu bukanlah masalah besar menurutnya. Raina sungguh bodoh telah berteman baik dengan Nadine.
Kini Raina mencoba untuk merubah diri, merubah penampilan hingga sikapnya, ia tak boleh lagi salah berteman, ia tak mau di manfaatkan ataupun di rendahkan oleh orang lagi, sekarang ia harus lebih berani. pikirnya.
Raina turun menuju kantin karena sekarang cacing di dalam perutnya berdemo minta di isi. Raina membeli jus alpukat kesukaannya dan Roti karena ia tak punya banyak waktu untuk makan makanan yang lainnya karena sebentar lagi bel masuk kelas akan berbunyi.
Raina memilih bangku kosong, kedua tangannya membawa satu cup jus dan satu roti, saat menikmati jus alpukatnya dengan tenang ia harus terganggu dengan kehadiran siswi dari kelas sebelah.
"Lo yang anak baru itu ya?" Tanyanya dengan duduk di depan Raina tanpa permisi.
Anya nama yang tertera di tag name nya. Raina hanya melirik sekilas dan kembali menikmati Roti dan jus alpukatnya.
"Heh anak baru, lo di tanya!!." Tutur Bella yang Raina pikir mungkin dayangnya Anya.
Raina menghabiskan makanannya tanpa menghiraukan Anya dan para dayang-dayangnya. karena menurutnya itu sangatlah tak penting.