
“Raina?” Tanya lelaki yang kini berdiri di depan Raina sedikit terkejut.
“Ya, kakak siapa ya? Ada apa nyari saya?”
“Kau lupa sama aku? Aku Dhafin yang waktu itu ketemu di acara nenek Mirna.”
“Dhafin?” Ulang Raina berusaha mengingat.
“Sudah lah jika kau lupa, aku tak menyangka jika Raina yang di maksudnya adalah dirimu.”
“Selamat, ini dari kakakmu..”
“Kau kenal kakakku?” Pekik Raina tak percaya.
“Tentu, aku termasuk teman baiknya.” Ujar Dhafin memberikan buket bunga pada Raina.
Tangan Raina terulur ingin mengambil buket bunga tersebut namun ia terkejut ketika ada tangan yang menghempaskan bunga tersebut, ia melihat siapa sang pemilik tangan, betapa terkejutnya Raina melihat Arga menginjak bunganya.
“Jangan berani lo ganggu dia!.” Tegas Arga pada Dhafin.
“Ayo Rain, Gue udah bilang kan, lo jangan deket-deket dia.” Arga memegang tangan Raina dan menariknya pergi.
Namun yang terjadi Raina malah diam di tempatnya, Arga mebalikan tubuhnya dan..
PLLAAKK
Satu tamparan berhasil mendarat di pipinya.
“Atas dasar apa lo ngelarang gue?” Tanya Raina menghempaskan tangan Arga dari tangannya.
“Lo gak ada hak buat ngatur hidup gue, dan berani-beraninya lo injek bunga gue.” Teriak Raina.
Terkejut, ya itu lah yang di rasakan Arga sekarang, ia tak menyangka Raina marah hanya karena bunga dari Dhafin ia injak. Ada hubungan apa dia sama Dhafin? Kenapa banyak sekali lelaki yang mendekatinya?
“Ayo kak, maaf..” Ajak Raina pada Dhafin.
“Lo lebih milih dia?” Tanya Arga mencekal lengan Raina.
“Lepas, bukan urusan lo.”
“Jika lo pergi itu artinya lo pilih dia Raina!.” Ujar Arga ketika Raina melepaskan cekalan tangannya.
“Selangkah lagi lo melangkah gue akan pergi selamanya dan lo akan menyesal.” Tegas Arga menatap punggung Raina menjauh dan mengeratkan kepalan tangannya.
Raina terus melangkah di ikuti oleh Dhafin, ia sama sekali tak menghiraukan Arga yang terus saja berteriak memanggilnya. Amarahnya terlalu tinggi hingga ia menghiraukan perasaannya pada Arga, menyesal? Entahlah.. ia pun masih tak mengetahui perasaanya pada Arga, jika di tanya apakah ia sayang? Jelas, ia selalu nyaman bersamanya. Rasa nyaman yang sama seperti bersama papa dan juga kakaknya.
***
“Ehem.. Rain, kamu ada hubungan apa sama Arga?” Tanya Dhafin menghilangkan kesunyian dalam perjalanan menuju rumah Raina.
“Kau kenal Arga?” Tanya Raina menghadapkan tubuhnya ke Dhafin.
“Tentu saja, Dia adikku.” ujar Dhafin tanpa menoleh.
“Adik?” Ulang Raina.
“Ya..” Dhafin dapat melihat keterkejutan Raina.
“Tapi Arga tak pernah bilang jika dia punya kakak, bahkan di apartemennya saja tak ada foto kalian.”
“Sepertinya kalian sangat dekat ya?” Tanya Dhafin datar.
“Emhh..” Raina hanya berdehem dan membenarkan kembali duduknya.
[non ini ada kiriman bunga dari den Arga. ~ Mbak 09:00]
Jika Dhafin memang kakaknya, kenapa Arga selalu marah? Ada apa sebenarnya antara mereka? kenapa aku merasa bersalah padanya? Batin Raina menatap ponselnya.
sekarang adalah pukul 10.45 berarti Arga mengirim buket bunga sejak mereka masih berkumpul di lapang.
Ponsel Dahfin berbunyi dan ia segera menjawabnya, belum sempat ia berkata ‘halo’ suara di sebrang sana membuatnya tak bisa berkata dan menghentikan mobilnya mendadak membuat Raina terheran, tak sempat bertanya Dhafin segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
“Maaf Rain, aku harus segera ke rumah sakit sekarang, kau tak apa ikut aku dulu?” Tanya dhafin tanpa menoleh pada Raina.
“Apa ada masalah?.” Ucap Raina was-was, apa terjadi sesuatu dengan Arga? Ia jadi teringat dengan perkataan Arga barusan, apakah ia akan kehilangan Arga selamanya?
“Keluargaku ada yang kecelakaan.”
Perkataan Dhafin membuat pikiran Raina tak jernih, Jari jemari Raina saling terpaut, telapak tangannya terasa dingin, kakinya terus saja tak diam, ia berharap segera sampai di rumah sakit untuk memastikan apa yang terjadi.
semoga saja Arga baik-baik saja itulah batin Raina saat ini.
Mobil yang di kendarai Dhafin berhenti di depan rumah sakit ternama, Raina turun dan menunggu Dhafin memarkirkan mobilnya.
Dhafin datang dengan berlari, Raina mengikuti langkah kaki Dhafin yang membawanya ke ruang ICU.
Langkah Raina tertahan ketika melihat Lelaki yang ia kenal dengan masih menggunakan seragam sama persis dengannya berdiri di depan pintu Ruang ICU.
Arga berdiri dengan kening di tempelkan pada pintu masuk ICU, tetlihat jelas kesedihan di raut wajahnya, bahkan dari kejauhan saja ia melihat sisi wajah Arga basah. Ia bersyukur melihat Arga berdiri di sana, setidaknya bukan Arga yang kecelakaan.
“Gimana keadaan Nenek dan kakek?” Ucap Dhafin menghampiri wanita yang menangis dalam dekapan seorang lelaki paru baya.
“Mereka masih di tangani di dalam.”
“Bagaiman ini semua terjadi pa?”
“Katanya ini kecelakaan tunggal, dan supirnya meninggal di tempat.”
Raina menutup mulutnya dengan kedua tangan, jadi nenek dan kakek Arga kecelakaan? Ia berjalan mengkhampiri Arga namun langkahnya terhenti ketika ia melihat pintu terbuka.
“Bagaimana keadaan nenek dan kakek saya dok?” Tanya Arga dengan panik, semua yang ada di sana mendekati dokter tersebut.
“Maafkan saya.” Ujar Dokter tersebut di barengi gelengan kepala dan menepuk bahu Arga beberapa kali untuk memberikan kekuatan.
Tubuhnya terpaku, seolah tak percaya dengan yang di lihat, Raina dapat melihat tubuh kakek dan neneknya Arga yang tertutupi kain putih.
“Nenek-kakek jangan tinggalin Arga, Aku gak punya siapa-siapa lagi.. Arga lulus dengan nilai hampir sempurna nek,Nenek harus bangun dan peluk Arga seperti biasanya.” Arga meraung dan terus berteriak, jika saja tubuhnya tak di tahan Dhafin mungkin sekarang ia akan berlari menghalangi suster yang akan membawa kedua jenazah nenek dan kakeknya untuk di mandikan.
“Lepasin gue.” Teriak Arga berontak.
Tenaga Arga terlalu kuat hingga Dhafin merasa kewalahan dan terpaksa melepaskan Arga.
“Arga..” Ucap Raina lirih mendekatinya.
Arga berjalan tanpa menghiraukan Raina yang berusaha mendekatinya, ia berlari menuju kamar jenazah.
Raina memegang dadanya yang berdenyut sakit akan sikap Arga yang tak menghiraukannya. Arga benar-benar menepati ucapannya barusan.
Jangan lupa dukungannya..
Jiks suka like, komen, vote dan rate 😁