
“Kita hanya pura-pura Arga, bosen gue ngingetin lo. sekarang udah gak ada orang, jadi gak usah kayak pacar beneran.” Raina menutup resleting tasnya, Arga menghalangi langkah Raina saat ia hendak melewatinya.
“Kita udah sepakat Rain, di depan semua orang termasuk yang gak di kenal. kita mesti kayak pacar sungguhan.”
“Kapan gue bilang gitu?”
“Gue bilang sekarang. Dan lo harus nurut apa permintaan pacar lo.”
“Enggak, kita cukup pura-pura di depan Anya, Rangga dan temannya.”
“Gak bisa.” Arga mendekati Raina dengan senyum jahilnya, Raina memundurkan langkahnya dan ia melihat ke sekeliling kelas yang sudah kosong bahkan di luarpun terlihat sudah sepi.
“Minggir!!” Raina menghalangi tubuh Arga yang mendekat dengan tangannya, ia sudah tidak bisa kemana-mana karena Arga mengungkung tubuhnya.
“Gue gak akan minggir sebelum lo setuju dengan apa mau gue.”
“Lo maksa banget sihh.” Kesal Raina.
“Oke-oke gue terima.”Jawab Raina ketika Arga mendekatkan wajahnya dengan senyum jahil.
Arga melepas kungkungannya membuat Raina menghela nafas panjang. Arga menarik tangan Raina dan mereka berjalan menuju parkiran. Rico dan rizki sudah menunggu mereka bahkan Cintya pun ada dengan wajah muramnya.
“Abis ngapain aja kalian di kelas? Lama banget.” Ketus Cintya.
Arga kembali mengacuhkannya dan menaiki kendaraan mereka masing-masing pergi dari area parkir sekolah, Raina hanya bisa nurut ketika Arga memintanya untuk mampir ke rumah Rizki terlebih dahulu.
Raina turun dari motornya dan ikut masuk ke dalam rumah dengan gaya minimalis, Raina berdiri melihat ke sekeliling dan rumahnya terlihat sangat sepi, hanya ada ibu paruh baya yang selalu tersenyum menyapa Rizki dan yang lainnya.
Arga dan Yang lainnya langsung menuju tempat favoritnya yaitu area dekat kolam renang yang terhubung dengan ruang keluarga di sana ada sofa leter L dan karpet menggelar di lantainya, Arga duduk di lantai bersama Cintya dan yang lain hanya duduk di sofa, Raina mendudukan tubuhnya di sofa.
[Sebenarnya apa tujuan lo ngajak gue kesini?] ~Miss Arrogant
Arga hanya menaikan kedua sudut bibirnya ketika melihat chat dari Raina, ponselnya ia letakan dengan asal dan ia pun memainkan kembali gitarnya.
Raina termenung mendengar suara merdu Arga yang menyanyikan lagu it's you dari Ali Gatie. Selama menyanyikan lagu tersebut mata Arga tak lepas memandang Raina seolah ia sedang menyatakan isi hatinya lewat lagu tersebut.
Lemon tea, soft drink dan beberapa cemilan datang di bawa oleh Cintya, ia segera menyimpan nampan ke hadapan temannya dan memberikan soft drink pada Arga terlebih dahulu, Membuat Raina merasa ada sesuatu yang janggal dari tatapan Cintya pada Arga.
***
“Besok gue jemput.” Arga menutup kaca helmnya dan pergi meninggalkan Raina yang berdiri di depan gerbang rumahnya.
“Apa yang lo lakukan di sini?” Tanya Raina ketika Rangga tiba-tiba datang di hadapannya.
Raina hendak menutup pintu gerbangnya namun Rangga menahannya.
“Apaan sih lo?” Dengus Raina kesal.
“Jadi bener lo sama dia? Rain gue akui salah tapi kenapa lo gak ngasih kesempatan kedua pada gue?”
“Gak ada kesempatan kedua buat cowok kayak lo, kita cukup berteman dan gue harap kita gak terlalu deket karena gue gak mau pasangan kita pada salah paham.”
“Bukannya lo sendiri yang bilang hanya ingin berteman?? Gue udah maafin semua perbuatan lo dulu dan gue mohon kali ini jangan ganggu gue.” Lanjut Raina mempertegas.
Raina menutup pintu gerbang rumah meninggalkan Rangga yang terpaku di tempatnya. Raina membuka tas ranselnya dan melihat panggilan tak terjawab dari Arga sebanyak 50 lebih. Ponselnya kembali berdering ketika ia hendak melemparnya.
“Apa sih??” Tanya Raina ketus.
“Gue cuma mau ngabarin kalo gue udah sampe.” Jawab Arga tak kalah ketus.
Gak jelas banget sih si Arga, ngeselin banget... hubungannya sama gue apa coba kalo dia udah sampe? Awas aja kalo nelfon lagi gak bakalan gue angkat. Batin Raina kesal karena Arga memutuskan panggilannya begitu saja.
Ngeselin banget jadi cewek, gue telfon dari tadi gak di angkat, sekalinya di angkat malah ketus. bilangnya aja gak mau ketemu si brengsek lagi tapi malah mau di ajak ngobrol. Sabar Arga, lo harus yakin buat taklukin hatinya. Batin Arga dan senyumnya menyeringai menakutkan.
Raina merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kakinya ia biarkan menjuntai menapaki karpet berbulu, ponselnya masih dalam genggaman. Raina kembali mendengus kesal ketika ponselnya berdering lagi.
“Apa lagi?” Sentak Raina tanpa melihat siapa yang menelfonnya.
Raina mengecek ponselnya dan ia melihat nama Raka disana.
“Hallo Rain.. Rain…” Raka terus memanggil Raina.
“Iya, ada apa? Gue kira si gaje yang nelfon gue.”
“Siapa si gaje?”
“Gak penting”
“Gimana kabar di rumah??”
"Baik.. "
“Syukur deh, salam buat papa.”
“Iya.. miss you kak..”
“Miss you too more gadis kecil gue.”
Ponselnya kembali ia letakan di sebelah tubuhnya setelah memutuskan panggilan telfon dari kakaknya.
Matanya menatap lampu yang menggantung indah di langit kamarnya, pikirannya kembali pada perasaan yang selalu mengahangat jika berda di samping Arga, apa ia menyukainya? Tak mungkin, jelas ia selalu kesal dengannya. Apa ia nyaman dengannya? Nyaman dari mananya?
"Gue berharap segera ujian". Gumam Raina menutup matanya.
***
Selama sebulan lebih Raina dan Arga berhasil berakting sebagai pacar, bahkan para guru pun mengetahuinya. Raina tak ambil pusing dengan pujian ataupun cibiran orang, dia hanya fokus pada sekolahnya sekarang. Arga?? Dia hanya pacar pura-pura dan sama sekali tak mengagnggu masa belajarnya.
“Lo ngapain sih diem di sini terus?” Tanya Arga berbisik di sebelah Raina.
Raina yang sedang membaca buku bisnisnya kesal karena Arga selalu mengganggu waktu istirahatnya, ia menutup bukunya dan memberikan senyum terpaksa.
“Bisa kan lo gak ganggu waktu istirahat gue?? Lo tuh kayak cowok gue beneran aja, tiap hari nempel terus kayak cicak di dinding.” Dengus Raina membuang muka.
“kita emang pacaran kan?.”
“Arga, please okey kita pura-pura.”
“Lo gak suka sama gue?”
“Enggak.”
“Masa?”
“Iyalah”
“Gue punya pertanyaan buat lo, apa bahasa inggrisnya aku cinta kamu?”
“Anak SD juga tahu kali Ga..”
“Udah jawab aja! buruan! kalo engga gue bakal nempel terus kayak gini.” bisik Arga di telinga Raina membuatnya merasa tak karuan.
“I love you Arga, masa lo gak tau sih.” kesal Raina hingga ia meninggikan suaranya, Raina menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan ketika ia tersadar sedang berada di perpustakaan.
“I love you too honey. Fix kita jadian beneran, barusan lo nembak gue.” Bisik Arga tersenyum dengan kemenangannya dan berlalu melewati setiap mata yang memperhatikan mereka.
Raina nyengir kuda memohon maaf pada murid lainnya, ia segera membuka bukunya lagi mengumpat Arga yang sudah membuatnya kesal.
Jangan lupa dukungannya kakak readers.
Jika suka like, komem, vote dan rate ya ;)