RAINA

RAINA
Chapter 31



Selama beberapa hari Raina sudah terbiasa berangkat sendiri dengan mengendarai mobilnya.


"Non bibi udah orderin gojek, bentar lagi nyampe." Tutur Mbak Ana di sela Raina memakan roti isi selai coklatnya.


Raina hanya manggut-manggut sambil menghabiskan roti dan segelas susunya.


"Kalo bapak tahu non naik gojek bapak bisa marah nanti." Mbak Ana membereskan piring dan gelas bekas majikannya.


"Ya jangan tau dong mbak, ini juga karena darurat, semalam aku ngerjain tugas ampe malem jadinya kesiangan." Raina memperbaiki tali sepatunya.


"Non itu gojeknya udah dateng." Ujar Mbak Ana.


"Aku berangkat dulu ya mbak, hati-hati di rumah jangan pacaran mulu sama mang diki."


Goda Raina berjalan keluar rumahnya.


"Non isshhh..." Mbak Ana tampak malu-malu karena ketahuan sering mojok bersama mang diki tukang kebun majikannya.


Raina sampai di depan sekolahnya tepat sebelum satpam menutup pintu gerbangnya dengan sempurna.


Raina berlari ke arah kelasnya karena bel sudah berbunyi dan terlihat siswa lainnya sudah pada masuk kelas. Saat ia berbelok di tangga tanpa sengaja ia melihat Arga berhadapan dengan salah satu siswi, dan ternyata ia sedang berciuman dengan Anya hal itu membuatnya menghentikan langkah.


Anya berdiri di satu anak tangga sedangkan Arga di bawahnya,Anya mengalungkan kedua tangannya di leher Arga, anak tangga membuatnya bisa sejajar dengan tubuh Arga, Arga hanya diam saja dengan kedua tangannya dimasukan kedalam saku celananya.


Anya menyadari keberadaan Raina, ia semakin dalam mencium bibir Arga yang selalu di dambanya, Raina mengepalkan kedua tangannya bisa-bisanya mereka berciuman di sekolah.


"Kalian kalo mau ciuman bisa kan nyari tempat sepi lainnya, gak do tangga juga kali.. ngalangin jalan aja." Raina menyilangkan kedua tanganya di dada, sungguh ia jengah dengan situasi seperti ini.


Ciuman merekapun terhenti ketika Arga mendorong bahu Anya dan menyeka bibirnya, Anya mencebikan bibirnya kesal karena Raina sudah mengganggu waktu romantisnya bersama Arga.


"Minggir..!! " Raina berjalan melewati Arga dan sebelah bahunya sedikit mendorong bahu Arga agar menggeser tubuhnya.


Arga menatap dingin Anya, Anya yang sadar ia sudah melakukan kesalahan hanya bisa menundukan wajahnya karena nyalinya menciut jika di tatap tajam oleh Arga.


"Murahan banget lo." Arga berlalu meninggalkan Anya.


Anya tersenyum meski perkataan Arga sedikit melukai harga dirinya, namun ia senang karena berhasil mencium bibir Arga, untung saja ke pura-puraan nya terjatuh di depan Arga membuahkan hasil yang sanagt maximal karena tanpa sengaja bibirnya menempel begitu saja bahkan Arga tak menolak ia hanya diam saja.


Arga berlari masuk ke dalam kelas, ia melihat Raina sedang menulis sesuatu dan kini di sebelahnya ada Sandi yang menjadi temannya.


"Rain, dari tadi si Arga liatin kamu terur." Tutur Sandi berbisik pada Raina.


Raina tak bergeming, ia tetap saja melanjutkan menulisnya.


"Ga nanti sore ada balapan di tempat biasa, lo ikutan gak?" Rico membalikan tubuhnya agar bisa mengobrol dengan Arga.


"Ya.. lo yang urus semuanya."


"Beres." Rico cengengesan.


"Ohh iya, kemarin si Sindi nyariin lo ke rumah gue."


"Biarin aja" ujar Arga cuek.


"Lo udah putus beneran sama dia?" Timpal Cintya.


"Hmm." Arga mengangguk.


"Trus sekarang cewek lo siapa?" Cintya bertanya penuh harap agar Arga jomblo.


"Gue free."


Cintya tersenyum, akhirnya ia punya kesempatan untuk menjadi pacar Arga.


"Kalo ada cewek yang nembak lo, bakal di terima gak?" Tanya Cintya berharap.


"Gak." Ujar Arga singkat.


"Kenapa? Bukannya biasanya lo gak pernah free." Cintya menyurutkan senyumnya,Rizki yang melihatnya hanya menghela nafas.


"Gue udah punya calon." Arga tersenyum menoleh ke arah Raina.


"Jangan bilang.." Rico tak meneruskan perkataannya dan ia mengelengkan kepalanya.


"Udah, relain aja, lagian kan lo udah punya cewek." Ujar Rizki menepuk-nepuk bahu Rico.


Rico menyeringai menatap Raina, semua yang melihatnya mengangkat sebelah alisnya.


"Gue yakin 1000% Ga, Elo gak bakal dapetin dia." Ujar Rico menyeringai.


"Kenapa?" Tanya Rizki berbisik begitu penasaran.


"Dia paling benci dengan cowok macam kita, gue dapat info katanya ia pindah ke sini gara-gara putus sama cowoknya, lo tau kan cowok yang waktu itu berantem di depan gerbang sekolah?" Ujar Rico menurunkan nada suaranya agar tak terdengar oleh Raina, dan ia menoleh ke Arga.


"Dan bukannya dia juga udah punya cowok yang waktu itu jemput dia ya?" Tukas Cintya mengingatkan Arga bahwa Raina sudah memiliki kekasih.


"Gue gak peduli." Ujar Arga keluar dari kelas.


"Kebiasaan banget mereka suka bolos di jam pelajaran." Sandi berkata saat Arga dan temannya keluar kelas.


"Biarin aja, mereka tak ingin pintar mungkin." Raina terus mencatat.


"Kamu gak tau Rain, si Arga tuh waktu SMP terkenal pintar."


"Kok kamu bisa tahu?"


"Kan aku dulu satu sekolah waktu SMP."


"Ohh.."


***


"Rain pulang bareng aku aja." Sandi menawarkan diri saat menuju parkiran.


"Gak usah, tuhh cewek kamu nungguin." Tunjuk Raina dengan dagunya ketika melihat wanita berdiri dekat motor Sandi.


"Dia bukan cewek aku Rain." Sandi mendelik kesal karena tiap hari harus berangkat bareng dengan anak tetangganya.


"Ya udah, aku pulang duluan ya." Sandi meninggalkan Raina.


Raina menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam, namun saat ia berjalan melewati lapangan tiba-tiba saja bola basket hampir mengenai tubuhnya.


"Lo gak papa Rain?" Teriak Rico.


Raina hanya diam karena terlalu kaget, Arga mengambil bolanya dan ia tersenyum pada Raina. Raina hanya membuang muka dan melanjutkan jalannya.


Jangan lupa dukungannya kakak Readers.


Jika suka like, comment, vote dan rate ya kakak ;)