
Raina POV
Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi, kini aku sendiri di dalam kelas karena murid yang lainnya sudah pulang dari tadi. Rasanya aku enggan sekali untuk melangkahkan kakiku.
Ponselku berdering, ternyata Pak Anton yang menghubungiku, aku membiarkan ponselku terus berdering mengabaikan panggilan telepon dari Pak Anton, mungkin karena ia kelamaan menungguku.
Dan ternyata benar dugaanku, belum jauh aku berjalan keluar dari kelas aku melihat pak Anton sedang berlari menuju kelasku sambil memegang teleponnya.
"Non gak apa-apa?" Tanyanya dengan nafas ngos-ngosan, kasian juga pak Anton mungkin cemas denganku.
Aku hanya menjawab dengan menggelengkan kepala, terlalu malas untuk membuka mulutku. Setelah sampai di parkiran, seperti biasa Pak Anton membukakan pintu mobil untukku, aku naik dan duduk di kursi belakang.
"Pak jangan pulang dulu, aku pengen muter-muter daerah sini."
Tanpa banyak tanya Pak Anton pun menuruti keinginanku, aku menyandarkan punggungku di sandaran kursi dan pandanganku keluar jendela, aku melihat ada taman yang tak begitu ramai.
"Pak stop."
Pak Anton menghentikan laju kendaranya,
"Aku ingin ke taman itu, bisa bapak antar aku ke sana?" Pintaku.
Pak Anton mengangguk dan mulai melajukan kembali kendaraan yang kami tumpangi, dan memarkirkan mobil di parkiran.
Aku turun dari mobil sebelum pak Anton membukakan pintu untukku, aku mengambil selembar uang pecahan 100rb dan memberikannya pada Pak Anton. namun ia menolaknya dengan alasan uang yang dari papa sudah cukup,uangnya kembali ku kantongi dan aku menyuruh pak Anton untuk menungguku.
Ku langkahkan kaki menyusuri taman dan duduk di bangku kosong di bawah pohon rindang, aku mengamati banyak sekali anak sebayaku sedang berduan dengan lawan jenisnya dan ada pula yang nongkrong, namun fokus pandanganku tertuju pada sepasang anak kecil sedang berpelukan, astaga, apa mereka berpacaran? Batinku.
Aku lihat kembali ke arah anak kecil tadi, yang laki-laki memegang Ukulele yang sudah usang dan anak perempuan memegang kecrekan.
jadi mereka pengamen? Gumam Raina.
Mereka menyanyikan Lagu Tegar-Aku yang dulu bukanlah yang sekarang. Aku amati anak perempuan itu, ia sangatlah lesu dan bibirnya terlihat pucat sekali, tangan sebelahnya terus saja memegang perutnya.
Aku memberikan uang yang ingin ku berikan pada pak Anton tadi, mereka terlihat terkejut dan mendongakan wajahnya ke arahku.
"Ambil, ini untuk kalian" Ucapku dengan mengulas senyum.
Anak perempuan tadi langsung menerima dan tersenyum senang, "kak kita bisa makan sekarang, ayo" ajaknya sambil memperlihatkan uang tersebut pada si anak lelaki.
" Terima kasih kak" Ucap si anak lelaki.
"sama-sama, kalian lapar ya?" tanyaku saat melihat si anak perempuan terus menarik tangan si anak lelaki.
Belum sempat mereka meninggalkanku, aku mengajaknya untuk ikut makan bersamaku.
"Ayo, kita makan bersama, aku yang akan mentraktir kalian."
"Tidak usah kak, kami sudah mempunyai uang sendiri." Tolaknya.
"Sama sekali tidak merepotkan, aku akan senang jika kalian ikut makan bersamaku sekarang."
Mereka akhirnya menuruti keinginanku dan berjalan bersamaan menuju parkiran, namun genggaman tangan kecil di tanganku menghentikan langkahku.