
Ujian tengah semesterpun berlangsung, semua murid tampak serius dengan lembaran kertas ujian mereka, termasuk Raina.
Karena Raina merupakan murid pintar bukan hal yang sulit untuk mengerjakan semua soal ujiannya, ia selalu pulang lebih dulu di bandingkan dengan teman yang lainnya.
Ujian pun terlaksanakan selama seminggu tanpa hambatan, nilai murid pun telah terpampang di papan pengumuman. sebagian murid bernafas lega dengan nilai mereka yang memuaskan dan ada pula murid yang lemas karena harus mengulang kembali.
Raina melihat nilainya dan ia tersenyum ketika nilainya begitu sempurna, tanpa sadar manik matanya melihat nama Arga, ia segera melihat semua nilai Arga dan semua nilainya di bawah rata-rata.
“Nilai kamu sempurna Rain.” Ujar Sandi yang berdiri di sampingnya.
“Nilai kamu juga mendekati sempurna San.”
Sandi dan Raina membalikan badan, Raina terpaku melihat Arga sudah ada di hadapannya, jadi dari tadi Arga di sini?
“Selamat ya Rain, nilai kamu sempurna.”
“Makasih Rico.” Raina tersenyum pada Rico dan berjalan melewati Arga.
“Gue gak salah denger kan ki? Dia bilang makasih…” Heboh Rico.
“Baru segitu aja lo udah seneng Ko."
"Bilang aja lo cemburu." cibir Rico pada Arga.
Arga berlalu meninggalkan teman-temannya ia pergi menuju rooftop, entah apa yang membuat kakinya menuntun tempat Raina selalu menyendiri.
Arga mengedarkan pandangannya, ia pun duduk memeluk lututnya dan menegadahkan wajahnya hingga tersengat panasnya matahari, ia memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin yang seakan membelai sisi wajahnya. pikirannya melayang ketika ia melihat Raina bersama dengan Rangga, entah mengapa ia menjadi marah, apakah ia menyukai Raina? jelas-jelas ia hanya ingin memainkan hati wanita sombong itu.
Arga memutar sebagian tubuhnya saat ia mendengar ada yang mendekatinya, dan ia melihat Cintya tersenyum ke arahnya.
Arga hanya membalas senyuman Cintya, Cintya memberikan sekaleng soft drink pada Arga dan Arga menerimannya.
“Tidak biasanya lo di sini.” Ujar Cintya ikut duduk di sebelah Arga.
Arga hanya menenggak minumannya.
“Mereka menunggu lo, apa lo akan di sini terus?”
“Gue kira lo bakal mesum di sini juga.” Raina tertawa sinis.
“Apa maksud lo?” Tanya Cintya geram.
“Bukankah temen lo sering mesum di sekolah? Dulu di tangga, terus seminggu yang lalu kalo gak salah di belakang sekolah deh.. dan gue kira kalian bakal mesum di sini juga.”
Arga membuat gestur supaya Cintya tak menimpali perkataan Raina, Arga berjalan mendekati Raina ia berhenti sejenak menatap manik mata yang terlihat indah dan melanjutkan kembali langkahnya. Cintya menatap sinis Raina dan berlalu pergi dengan mengumpat Raina.
Raina kembali duduk di tempat biasanya, ia menegadahkan wajahnya mencoba mencari kehangatan dari sinar matahari yang begitu menyengat.
“Rain..” Anya datang dengan suara melengkingnya.
Raina menoleh dan segera berdiri.
“Semua gara-gara lo.” Anya melayangkan tangannya hendak menampar namun segera di tahan oleh Raina.
“Jika saja waktu itu kita gak ketemu lo, Arga gak bakal berubah lagi.” Anya menarik tangannya yang di pegang erat oleh Raina.
“Gue hampir saja jadian sama dia kalo lo gak ganggu waktu gue.” Anya terus saja meracau.
Raina kembali terdiam, hanya mimik wajahnya saja yang selalu berubah seolah bertanya apa maksud petkataan Anya.
“Dan sekarang ia semakin menjauh dari gue, aaakkhhhhh semua gara-gara lo Raina sialan.”
“Gue hanya menyampaikan pesan neneknya, selebihnya gue gak tau, kenapa lo marah ke gue?" Raina menyilangkan tangannya di dada.
"Dan Gue sama sekali gak ada urusan dengan cowok kesayangan lo” Timpal Raina segera pergi meninggalkan Anya.
“Raina……. Gue belum selesai ngomong.” Teriak Anya yang melihat punggung Raina hilang menjauh.
Raina tersenyum masam, kenapa Anya selalu menyalahkannya? jelas sekarang ia sama sekali tak dekat dengan Arga.
Jangan lupa dukungannya kakak readers.
Jika suka like, komen, vote dan rate ya ;)