RAINA

RAINA
Chapter 101



Dua wanita cantik duduk fokus dengan laptop dihadapan mereka masing-masing, Dua gelas minuman dan juga cemilan senantiasa menemani kesibukan mereka berdua. Sania yang baru pulang dari kuliahnya begitu senang kala Raina mau membantu mengerjakan skripsinya.


Setelah mendapat chat, Raina segera mencari bahan skripsi untuk Sania dan dirasa cukup dirinya segera bergegas menuju rumah Sania tatkala dirinya mendapat telfon dari sang pemilik rumah.


“Aahh... untung ada kamu Rain, aku udah minta tolong Sandi tapi dia sibuk terus dengan pekerjaannya.” Ujar Sania menutup laptopnya.


“Hmmm..” Raina pun menutup laptopnya dengan tersenyum senang bisa membantu pacar dari sahabatnya.


Tinggal Menunggu beberapa bulan lagi untuk Sania wisuda s2.


“Udah malem nihh, aku balik ya..” Raina membereskan semua barangnya dan meminum air yang tinggal setengahnya. Raina pun beranjak berdiri dan diantar oleh Sania sampai teras rumahnya.


“Thanks ya Rain.” Ucap Sania.


“Ya..” Raina berlalu keluar rumah Sania, satu telapak tangannya ia gunakan untuk melindungi kepalanya dari terpaan air hujan yang jatuhnya tak terlalu deras. Sampai didalam mobil Raina melambaikan tangan dan memberi klakson tanda pamit.


Sania balas melambai dan tersenyum melihat mobil Raina yang melaju keluar dari pekarangan rumahnya.


Dalam perjalanan Raina tak melihat satu kendaraan pun, terlihat begitu sepi bahkan senyap menyelimuti dengan kegelapan malam tanpa bintang.


“Sepi banget.” Ujar Raina pada dirinya sendiri melihat jalan yang ia lewati begitu sepi.


“Yahh.. kok mati sih?” Ujarnya dengan terus memutar kunci mencoba menghidupkan kembali mesin mobilnya, Raina tak menyadari jika mobilnya kehabisan bahan bakar.


“Siaalll..” Umpatnya kesal melihat speedometer yang menunjukan bahan bakarnya habis.


Dari dalam mobil Raina melirik ke kiri dan kanan, “Padahal baru jam 9 ini, tumben gak ada bapak-bapak nongkrong di pos.” Ucapnya melihat pos yang sepi. Untuk balik lagi ke rumah Sania juga tanggung karena sudah setengah perjalanan, sudah terlalu jauh jika ia harus jalan kaki dan hujan belum juga reda.


“Yahh HaPe gue.” kesalnya lagi saat panggilannya pada Raka langsung terhenti karena ponselnya mati seketika kehabisan batery.


Sempurna sudah kesialan pada dirinya, disaat seperti ini ia tak bisa minta tolong pada siapapun, sekedar untuk menghubungi kakaknya saja ia tak bisa. Raina menyandarkan tubuhnya, menutup kedua matanya dengan satu tangan. Putus asa sudah, ia hanya bisa pasrah dan berdo'a semoga ada seseorang yang mau menolongnya.


TOK.. TOKK.. TOK..


Belum berapa lama ia memejamkan matanya, terdengar suara ketukan dari luar, hal itu membuat Raina terperanjat bangun serta kaget melihat seseorang mengetuk kaca mobilnya dengan keras, matanya memicing untuk mengenali siapa orang yang telah mengagetkannya, Raina benar-benar tak mnegenali karena wajahnya terhalang oleh helm full face yang dikenakannya, bahkan dengan ia menyelidiki dari penampilannya pun ia tak dapat mengenali.


“Buka Rain!!” Perintahnya membuat Raina hanya diam saja dan berusaha mencari barang yang bisa ia gunakan untuk melindungi dirinya, ia jadi teringat dengan Rangga yang dulu pernah ingin memper***anya.


“Buka!!” Teriaknya dari luar membuatnya menjadi ketakutan.


“Arga..” Gumam Raina melihat Arga yang membuka helm full facenya.


“Ngapain dia disini?” Tanyanya dengan heran namun hatinya menjadi damai seakan ia mendapatkan perlindungan.


“Buka Rain!! Kamu gak apa-apa kan?” Tanya Arga terlihat khawatir.


Raina membuka kunci, pintu langsung terbuka dari luar, Raina bergeser ke kursi penumpang sedangkan Arga langsung masuk duduk di tempat kemudi dan membuka jaketnya yang sedikit basah.


“Kenapa?” Tanya Arga melihat Raina yang celingukan entah mencari apa.


Raina masih mencari keberadaan motor Arga yang tak terlihat oleh pandangan matanya, sore tadi Raina melihat Arga mengendarai mobil tapi kenapa ia memakai motor sekarang? pikirnya.


“Di sebrang, aku simpan di pos sana.”


“Bukannya lo pergi bareng Jasmine? Mana dia?” Inilah alasan sebenarnya ia mencari kendaraan Arga, ia hanya ingin tahu dimana Jasmine sekarang, ia tak ingin disebut pelakor karena berani dekat dengan pria yang telah punya pasangan.


“Udah pulang.”


“Pulang? Bukannya lo tadi pake mobil waktu bareng Jasmine? Kenapa sekarang pake motor?”


“Dari tadi aku pake motor Rain.” Ujar Arga kini menatap Raina.


Apa gue salah liat ya? padahal bener deh mereka tadi berdua dalam mobil waktu gue mau kerumah Sania. Batin Raina.


Berarti yang gue liat tadi bener itu lo Rain. Kenapa lo mesti ngebut tadi? Lo gak tau apa seberapa cemasnya gue liat lo bawa mobil sambil ngebut, gue takut lo kenapa-napa . Batin Arga masih dengan menatap Raina yang sedang cemas entah kenapa.


“Lo ikutin gue Ga?” Tanya Raina menatap lurus jalanan sepi membuat Arga sedikit terkejut.


Gimana dia bisa tahu? Batinnya.


Ya.. semenjak ia mengetahui Raina pulang dari prancis, Arga sama sekali tak pernah berhenti mencemaskan Raina. Karena apa? Tentu saja karena Raina mulai berani berkendara sendiri tanpa supir, bahkan ia sering pulang malam.


Hal itu lah yang membuat Arga berani mengikuti kemana pun Raina pergi, ia tak ingin Raina kenapa-kenapa seperti waktu ia hampir saja diper**sa oleh Rangga dulu.


“Tingkat ke-PeDe-an kamu masih tinggi aja ya? Ngapain coba aku ikutin kamu?” Jawabnya terkekeh pelan menghindari keterkejutannya.


“Ya kali aja lo ikutin gue, tapi gak mungkin juga..” Tutur Raina ikut terkekeh pelan.


Hening... untuk beberapa saat. Tatapan mata lurus dengan pikiran mereka masing-masing.


“Rain..”


“Hm..” Raina menyahut tanpa mengarahkan pandangan matanya.


“Kalo bener aku ikutin kamu gimana?”


“Jadi bener lo ikutin gue?”


“Ya enggak lah, kan aku nanya KALO alias KALAU.”


Gue seneng lo gak kayak dulu lagi, dulu lo sangat terkenal bad boy disekolah, tapi sekarang lo bener-bener udah berubah, sekarang gue gak pernah denger lo deket cewek-cewek lain selain Jasmine. Gue suka lo yang setia sama satu cewek, meski sebenarnya gue sakit liat lo sama Jasmine. Gue harap lo gak balik ke Arga yang dulu lagi. Batin Raina tersenyum samar menoleh pada Arga.


Apa lo akan marah kalo gue jujur Rain?? Gue hanya takut terjadi sesuatu sama lo, karena sekarang Darrel gak ada disini buat jagain lo. Batin Arga.


"Kalau lo bener ngikutin gue, gue akan membenci lo Arga" Tutur Raina membuat Arga menoleh seketika padanya hingga pandangan mereka terpaut dalam.