
Topi wisuda bertebaran diatas kerumunan mahasiswa saat mereka usai melakukan ritual wisuda. Terlihat wanita cantik mengenakan baju toga dengan membawa tabung wisuda berjalan menghampiri seorang pria yang selalu menemaninya kala ia susah dan senang.
“Congratulation..” Ucap sang pria merentangkan kedua tangannya agar sang wanita segera menghambur kepelukannya.
“Thank you Rel...” Raina menangis haru dalam pelukan Darrel, seharusnya sang ayah dan kakaknya berada disini tapi keadaan sedang tak kondusif hingga mereka tak bisa menemaninya.
“Heii jangan sedih!!” Darrel menangkup wajah Raina dan mengecup keningnya setelah ia memberikan satu buket bunga mawar merah kesukaanya.
Waktu berjalan tanpa terasa, empat musim Raina lewati begitu saja tanpa terhitung berapa kali jumlahnya ia berada di musim-musim yang ada di negara prancis.
Lima tahun berlalu, kini usai sudah perjuangan Raina menyelesaikan pendidikannya dengan mendapat gelar master di negara yang terkenal dengan keromantisannya.
“Kita jadi ke paris sekarang?” Tanya Darrel saat ia mengemudikan mobilnya.
“Of course.” Jawab Raina dengan senyum lebar.
Darrel menghentikan mobilnya di rest area agar Raina dapat berganti baju dahulu, karena tak mungkin dirinya jalan-jalan mengenakan kebaya yang merupakan baju khas dari negara Indonesia.
Darrel keluar dari mobilnya untuk berjaga diluar, karena Raina ingin mengganti pakaiannya di dalam mobil. Entah apa yang ada di pikiran Raina hingga ia merasa malas untuk keluar dari dalam mobil.
Ketukan di pintu kaca menandakan Raina telah usai berganti pakaian. Darrel segera masuk dan menjalankan kembali mobilnya.
Sampailah mereka di paris, Darrel mengajaknya ke dermaga dan naik kapal berlapis kaca yang akan membawa pada pelayaran selama 1 jam di sepanjang sungai seine. Melewati jembatan indah, mengagumi menara eiffel yang menjulang tinggi, Raina memperhatikan sisi sungai yang di penuhi orang-orang paris yang sedang menikamati suasana semarak.
Selesai naik kapal mereka pun segera pergi ke restoran terapung yang berkonsep kapal terapung di tepi sungai seine untuk mengisi bahan bakar perut yang belum terisi. Masih dengan menatap keindaham sungai seine mereka menyantap kuliner khas prancis di temani secangkir kopi dan teh.
“Kamu yakin akan langsung pulang?”
“Hmm.. Aku sudah merindukan 3 pangeran yang sedang menungguku sekarang.”
“Lalu kamu akan melupakanku?”
“Bagiamana mungkin aku melupakan pangeranku disini?” Ucap Raina mencondongkan tubuhnya kehadapan Darrel.
“Nakal.” Tutur Darrel mencubit hidung Raina membuatnya kesakitan.
“Sakit tau.” Kesal Raina mengusap-usap hidung kesayangannya.
Mereka melanjutkan berjalan kaki untuk lebih menikmati keindahan yang ada, tanpa ketinggalan Darrel selalu membawa kamera kesayangannya.
“Rain.” Panggil Darrel membuat Raina menoleh cepat dan ternyata Darrel mengambil gambarnya.
“Kok gitu?” Tanya Raina merasa de javu dengan yang dilakukan Darrel.
“Yahhh gambarnya goyang. Sekali lagi Rain!!” Titah Darrel yang di ikuti oleh Raina. Dia berpose layaknya model dan anak kecil yang terlihat menggemaskan.
“Mana lihat.” Raina menghampiri Darrel dan merebut kamera dari tangan Darrel begitu saja.
“Kirim segera padaku! karena akan aku unggah di sosial media.”
“Siap laksanakan.” Patuh Darrel memberi hormat pada Raina bagiakan prajurit yang sedang di beri tugas oleh atasannya membuat Raina tertawa bahagia.
***
Berjam-jam Raina di pesawat membuat tubuhnya merasa pegal, karena ingin cepat sampai di tanah kelahiran, Raina memilih kecepatan penerbangan 900km / jam yang membutuhkan waktu penerbangan 13 jam 1 menit. Waktu yang lebih cepat dari waktu ia berangkat dulu ke prancis.
Dengan menarik kopernya Raina menghubungi pak Anton untuk menanyakan keberadaannya. Raina membuka masker serta kaca mata hitamnya supaya pak Anton dapat mengenalinya, karena sudah 5 tahun ia tak menginjakan kaki di tanah kelahirannya.
Matanya mengedar tak melihat keberadaan sang supir pribadinya, ia pun segera keluar barangkali pak Anton menunggunya di luar bandara. Matahari pagi yang bersinar indah menghangatkan seluruh tubuhnya.
“Non Rain?” Sahut pria dari belakang yang terlihat ragu untuk memanggilnya.
Raina menoleh kebelakang, terlihat pak Anton tersenyum lebar ke arahnya karena senang dapat bertemu kembali dengan anak majikannya yang tak pernah menyusahkan dirinya, pak Anton pun segera mengambil alih koper dari tangan Raina dengan dobalas senyuman manis dari Raina.
“Cewek..” Terlihat seorang pria mengenakan seragam SMA menggoda dirinya duduk di atas motor sport yang terparkir dibelakang mobil miliknya. Raina memalingkan wajahnya dan hendak masuk.
“Beneran gak mau kenal lagi nih?” Ucap sang pria membuka helm full facenya sebelum Raina benar-benar masuk lebih dalam ke dalam mobil.
“Aaaa.. sakit kak, masa baru ketemu udah dijewer aja.” Ucap Abi mengelus kupingnya yang tak mearsa nyeri sedikitpun, ia hanya pura-pura untuk melihat kakaknya khawatir.
“Aaa maaf-maaf.. Abis kamu berani-beraninya godain kakak.” Dan benar saja Raina langsung khawatir dengan kuping Abi yang terlihat memerah,“kekerasan ya jewernya?” Raina pikir itu ulah dirinya padahal karena Abi terlalu kuat mengusap kupingnya. Abi terkekeh dibuatnya.
“Tadi aja buang muka dan jewer aku, sekarang khawatir.” Abi pura-pura marah dengan mengerucutkan bibirnya. Raina terkekeh kecil melihat sikap Abi yang berubah drastis. Dari yang biasanya irit bicara sekarang ia terlihat seperti Rico, yang selelau berani menggoda wanita.
“Tadi kan belum kenal, Belajar dari siapa kamu berani goda-goda cewek hmm??” Tanya Raina mengeluarkan mode galaknya.
“Hehehe.. Dari kakak-kakak senior dong.” Ucap Abi bangga.
“Kak Naik motor bareng aku aja ya.”
“Emmhh.. Ihh iya, wiihhh motornya keren.” Puji Raina.
“Iya dong, yang punya kan lebih keren.” Narsisnya langsung keluar dipuji sedikit saja, sudah 3 tahun lebih Raina tak pernah video call dengan Abi dan juga Nisa hingga ia merasa pangling melihatnya.
Raina berjalan menghampiri pak Anton untuk bilang jika dirinya akan pulang naik motor baren Abi.
Abi memberikan helm cadangannya dan langsung diterima oleh Raina, ia segera memakainya.
“Udah siap kak?”
“Udah.” Ucap Raina memakai kaca mata hitamnya.
Dalam perjalanan Abi banyak bercerita tentang keluarganya, kini orang tua Abi sudah mempunyai ruko 2 lantai lebih besar di banding warung dan rumahnya dulu.
Lantai bawah di pakai oleh warung sembako, sedangkan lantai atas di pakai untuk mereka tinggal,menurutnya itu lebih layak dibandibg dahulu. Bahkan sekarang Abi mulai bekerja part time.
“Kamu kerja?”
Dijawab anggukan oleh Abi.
“Kerja apa?”
“Jadi pelayan cafe.”
“Trus sekolah kamu gimana? Emang uang buat sekolah kalian kurang?”
Kini dijawab gelengan kepala olehnya.
“Uang dari keluarga kakak gak pernah kurang, sekarang aku kerja untuk pengalaman dan buat biaya kuliah, aku gak mau nyusahin keluarga kakak lagi.”
“Kamu gak nyusahin kakak kok.”
“Kak, 2 tahun lagi Abi bakal lulus, udah disekolahin sampai SMA aja Abi bersyukur banget, jadi kalo Abi udah lulus kakak jangan biaya-in Abi ya, Abi ingin mandiri.”
“Ya, terserah kamu, asalkan kamu serius belajar sehingga nanti dapat kerjaan yang bagus dan bisa mengangkat derajat keluarga.”
“Siap kakakku yang cantik.”
“Wahh udah sampe aja, gak terasa banget.”
Raina turun dan menyerahkan helmnya pada Abi.
“Sekolah yang bener, jangan bikin ulah!!”
“Siippp. Aku berangkat dulu ya kak.”
“Iya, makasih ya Abi.”
“Aku yang harusnya berterima kasih sama kakak, Makasih buat semuanya kak, kalo aja aku gak ketemu kakak..”
“Udah.. Udah.. cepet kesekolah biar gak telat!!” Tutur Raina yang merasa keadaan akan berubah menjadi melow, Abi terkekeh pelan dan kembali melajukan motornya meninggalkan kediaman Adrian papa Raina.
Raina tersenyum, ia menyeka sudut matanya tak menyangka ia mempunyai adik yang begitu pintar dan juga tampan.
Abimana