
Raka memfokuskan pandangannya pada jalanan karena kaca mobilnya mulai terhalang oleh salju yang turun dengan lebat, sesampainya di parkiran apartemen, Mereka pun turun Raka yang membawa barang belanjaan dan juga koper Adrian sedangakan Abiela hanya mengekor dibelakang dengan membawa cake pesanan Raina.
Sesampainya di loby Raka seperti melihat Raina yang masuk ke dalam lift dengan ditarik oleh seorang pria. Melihat itu Raka mempercepat langkahnya untuk meyakinkan penglihatannya.
“Pa.. aku naik duluan, sepertinya aku melihat Raina di tarik oleh pria.” Tukas Arga dengan langkah yang tergesa-gesa meninggalkan barang belanjaan dan juga kopernya begitu saja.
“Heii.” Teriak Raka ketika melihat seorang wanita yang meronta dalam gendongan seorang pria saat ia berhasil menyusulnya. Tangannya terkepal siap untuk memukul siapa saja yang berani mencelakakan gadis kesayangannya.
Sontak panggilan Raka membuat langkah pria tersebut berhenti. Dan wanita yang dalam gendongannya pun langsung berhenti meronta, ia langsung menelusupkan wajahnya pada dada bidang sang pria.
Dengan langkah tegap Raka mendekat, “Darrel..” Sapa Raka ketika mengenali sosok pria yang masih membelakanginya.
“Aku bilang diam, ketahuan kan kita.” Ucapnya berbisik di telinga sang wanita.
“Rain.” Kaget Raka ketika ia berhasil berdiri di depan Darrel.
Raina dan Darrel hanya tersenyum kecut dan ia pun segera turun dalam gendongan Darrel. Sekilas Raka melihat Darrel yang membawa satu kotak kue tart di tangan kanannya.
"Apa yang...."
“Rain..” Panggil seorang pria dari belakang tubuh mereka membuat perkataan Raka terpotong.
Raina membalikan tubuhnya ketika mendengar suara yang begitu familiar dan ia rindukan. Keterkejutannya begitu terlihat di wajah cantiknya hingga ia menganga tak percaya.
“Papa..” Panggilnya berlari menuju Adrian dengan tangis kerinduan.
“Sayang, Papa merindukanmu.” Adrian memeluk anak gadis kesayangannya.
“Aku juga merindukan papa, kenapa tak bilang mau ke sini?” Tanya Raina saat mengurai pelukannya dengan air mata yang sudah turun begitu saja.
“Karena papa ingin memberikan kejutan sayang.” Adrian mengusap rambut anak gadisnya dengan gemas membuat tangis Raina terhenti karena kesal rambutnya berantakan.
“Siapa dia?” Bisik Adrian melihat Darrel yang sedang menatapnya.
“Dia Darrel, teman kak Raka.” Ucap Raina menuntun Adrian berjalan menuju Darrel dan juga Raka.
“Darrel..” Darrel mengulurkan tangannya yang di sambut hangat oleh Adrian.
“Adrian, Rakana's father and Raina's.”
“Lebih baik kita lanjut di dalam.” Ajak Raka pada semuanya.
Mereka pun masuk ke dalam, gagal sudah niat Raina untuk memberikan kejutan pada kakak tercintanya dimana sekarang adalah hari kelahirannya.
“Sudahlah jangan cemberut!! Itu bukan salahmu telat membeli kue.” Ucap Adrian menenangkan anak gadisnya.
“Hei kenapa kamu menyalahkanku? Aku sudah mengajakmu tapi kamu malah sibuk masak, aku mau pergi sendiri kamu tahan.” Bisik Darrel karena merasa sungkan bicara keras di depan Adrian.
“Sudah-sudah… lebih baik segera hidangkan makanan buatanmu!!” Tutur Raka yang mendengar perdebatan Raina dan Darrel.
“Ya, ayo bantu aku.” Ajak Raina pada Darrel.
Makanan pun tersaji rapi di meja makan kecil, mereka berkumpul bersama untuk menyantap makanan buatan Raina yang selalu enak di lidah papanya.
“Masakanmu enak Rain.” Puji Abiela mencicipi gado-gado mentah (karedok) yang isi sayurannya kol, mentimun, kacang panjang, touge, di baluri dengan bumbu kacang, “Ini seperti salad sayur dengan saus kacang yang bedanya ada tahu.” Sambungnya dengan lahap makan.
Sedangkan Darrel mencicipi soto betawi yang menurutnya berasa aneh. “Sup apa ini?” Tanya Darrel dengan terus mencicipi untuk merasakan kenikmatan dari soto nya.
“Itu namanya soto.” Seru Raka.
“Soto? Rasanya aneh, tapi enak.” Ucapnya dengan menikmati makanan yang baru pertama kali ia temui.
“Kamu masak ini sendiri Rain?” Tanya Adrian.
Raina mengangguk antusias dengan senyum lebar.
“Kapan kamu belanjanya? Apa kamu sering masak di sini?”
“Tidak, ini pertama kalinya aku masak untuk kakak, kalo belanja waktu kakak pergi keluar trus kelupaan beli kuenya, jadi kita gagal bikin kejutan.” Jawab Raina makan soto dengan nasi.
“Jadi ini masakanmu?" Tanya Raka sedikit terkejut, karena biasanya Raina hanya ingin belanja dan soal masak selalu di serahkan pada Raka. Jika pun masak Raina hanya memasak yang instan atau omlete saja.
“Kamu baru tahu adikmu bisa masak?”
Raka mengangguk sedangkan Abiela dan Darrel hanya melirik tak mengerti dengan pembicaraan mereka yang menggunakan bahasa Indonesia.
“Dia bisa masak sebelum lulus sekolah, tiap hari dia masak sebelum akhirnya papa berhenti menyantap masakannya yang enak karena keburu pergi kesini.”
“Waahhh.. aku tak percaya.”
“Sudahlah cepat makannya!!”
Raka terkekeh mendapati gadis kecilnya yang malu. “Ya… aku sungguh terkejut dengan kejutanmu, aku kira kamu membeli masakan dari restoran khas indonesia.” godanya.
Makanan habis tak tersisa, mereka pergi ke ruang tv dan Raina segera membuka kotak kue tart nya, ia menancapkan lilin ke atasnya dan segera menyalakannya.
Raka menegakan duduknya dan segera memejamkan matanya ketika Raina menyodorkan kue tart ke hadapannya, Raka memohon untuk kebahagiaan keluarganya sebelum meniup lilin kecil yang berdiri tegak di atas kue, Abiela segera memberikan pisau dan piring kecil, Raka pun memberikan potongan kue pertamanya untuk Adrian lalu ia berikan pada Raina gadis kecilnya yang selalu ia jaga.
Raka mengira jika Raina lupa karena dari tengah malam sampai pagi hari Raina tak juga mengatakan selamat atau apapun. Raka begitu bahagia karena ia bisa berkumpul bersama di hari kelahirannya.