RAINA

RAINA
Chapter 77



“Arga nya ada pak?” Tanya Anya pada pak Deni yang menjaga gerbang rumah Bagaskara.


"Neng ini siapa ya?" Tanya Deni karena belum pernah bertemu dengan mereka.


"Kami teman sekolahnya Arga pak" Ujar Nadine.


“Oo.. temannya.. Maaf neng, mas Arga sudah lama tinggal di apartemen, jadi dia tidak di sini.”


“Tadi kami sudah ke sana tapi tak ada pak, bahkan nomornya tak aktif.”


“Oh..kalau begitu saya kurang tau, soalnya mas Arga jarang pulang ke sini.”


“Bagaimana ini Nad?” Tanya Anya pada Nadine yang diam di sebelahnya.


“Sudah coba ke rumah Tuan Wijaya?” Tanya Deni memberi saran.


“Sudah pak, sebelum kami ke apartemennya kami ke sana terlebih dahulu.”


“Kira-kira kapan Arga pulang pak?” Tanya Nadine.


“Saya kurang tau.”


TIN… TINN..


Anya dan Nadine di kejutkan dengan suara klakson dari mobil Dhafin, Deni bergegas membuka lebar gerbangnya. sekilas Dhafin melirik pada dua wanita yang kini menatap ke arah mobilnya.


Dhafin keluar dari mobil setelah ia memarkirkan mobilnya dengan sempurna di garasi, ia hendak masuk ke dalam rumah namun Deni segera memberitahukan maksud kedatangan Anya dan Nadine. Dhafin pun terpaksa menemuinya dan kini mereka duduk bersama di bangku taman depan rumahnya.


“Maaf mengganggu waktunya kak, kami berdua teman Arga, saya Anya dan ini Nadine.” Ujar Anya memperkenalkan dirinya karena Dhafin tak bicara sama sekali.


“Oh.. Arga tidak tinggal di sini.” Ucap Dhafin tanpa memperkenalkan diri.


“Kak.. mohon bantu kami bertemu dengan Arga secepatnya.” Tukas Nadine.


“Lebih baik kalian cari di rumah Rizki atau Rico!!”


“Saya sudah menghubunginya tapi mereka mengatakan Arga sedang tak bersamanya.”


“Nomornya tak aktif.”


“Begini saja kak, saya ke sini ingin menitipkan ini. Mohon kakak berikan ini pada Arga dan tolong sampaikan saya mohon maaf pada Raina.”


“Raina?” Dhafin menatap amplop pink dan juga flashdisc di tangan Nadine.


“Iya Raina, ini untuk mereka.” Nadine menyimpan surat beserta plasdisc di meja kecil.


“Baiklah, nanti saya suruh dia pulang.”


“Terima kasih kak, maaf telah mengganggu dan merepotkan.”


“Tak apa.”


“Ya sudah kami permisi.”


“Ya, oh iya.. saya Dhafin kakaknya Arga.” Tutur Dhafin ketika Anya dan Nadine berbalik badan hendak pergi meninggalkannya.


Mereka hanya tersenyum dan mengangguk bersamaan sebelum melanjutkan kembali jalan mereka. Dhafin menatap dua wanita yang meninggalkan rumahnya, sesekali ia melirik pada benda kecil dan juga amplop yang berwarna pink di tangannya.


“Apa itu Dhaf?” Tanya yulisa.


“Bukan apa-apa ma.” Jawab Dhafin cepat berlalu dari hadapan Yulisa untuk segera sampai ke kamarnya, ia terlalu penasaran dengan apa isi dari flashdisc tersebut.


Dhafin segera mengambil laptop dan menghidupkannya, dia segera memainkan laptopnya dan membuka file dalam flashdisc itu. yang ia lihat hanya sebuah rekaman suara dan segera ia mengklik file itu untuk mendengarkan semuanya. Matanya membulat sempurna setelah ia mengetahui kebenarannya.


Tanpa sadar tangannya mengepal, ada kemarahan dari sirat matanya. Entah marah karena apa hanya ia yang tahu semuanya.


“Jika aku ngasih ini ke Arga maka mereka bisa bersama lagi, dan tak akan ada kesempatan buatku mendekati Raina.” Gumam Dhafin memegang dagunya dengan sebelah tangan.


“Lebih baik aku simpan, Arga gak boleh bersama dengannya lagi. Dia udah berani menghina Mama.” Dhafin segera menyimpan flashdisc nya di tempat ia menyimpan barang-barang penting.


Yulisa tersenyum mendengar Arga tak berbohong, ia tahu jika Arga memang berkata jujur, tapi senyum Yulisa surut ketika Dhafin hendak menyimpan kebenaran tersebut. Yulisa segera pergi ketika Dhafin menyadari pintunya sedikit terbuka, ia tak mau ketahuan mengintip.


“Aku harus mendapatkan flashdisc itu, aku harus memberikannya pada Arga.” Ucap Yulisa mantap ketika ia mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang.