RAINA

RAINA
Chapter 93



“Ki..” Seru Rico setengah berbisik tanpa mengalihkan pandangannya pada layar televisi yang menampakan permainan sepak bola.


“Hmm…” Sahut Rizki dengan gumaman.


“Ki..”


"..."


"Ki.."


“Apaan sih Ko?” Kesal Rizki karena fokusnya terkecoh oleh suara Rico membuat dirinya kalah bermain.


Rico menjeda game play stationnya, sejenak ia menoleh pada Rizki yang kesal dengan kekalahannya, Rizki melanjutkan kembali permainan mereka.


“Mau ngomong apa Ko?” Tanya Rizki memulai permainannya.


“Lo yakin kalo si Rain udah punya cowok?” Tanya Rico dengan mata fokus kembali pada layar.


“Entahlah.. Napa lo nanya gitu?” Tanya Rizki balik tanpa mengalihkan pandangannnya pada layar televisi yang menampilkan dimana kini skor Rizki unggul di banding Rico.


“Tadi waktu balik dari bandara si Rain nelfon gue.”


“WHAT???” Terika Rizki menjatuhkan stik play stationnya, ia menoleh ke arah Rico yang merasa kaget dengan teriakannya.


“Kuping gue bisa budeg woy..anjirrr lo!!” Rico menimpuk kepala Rizki dengan bantal yang ia pakai sebagai penyangga sikunya.


“Gue gak salah denger si Rain nelfon lo?” Rizki benar-benar masih belum percaya.


“Ya waktu di mobil, dia bilang katanya mau balik buat ketemu ama si Arga.”


“Si Arga ke sana buat ketemu, eh balik-balik malah murung. Sekarang si Rain juga mau balik kesini buat ketemu sama si Arga. Ga ngerti gue sama mereka berdua.” Ucap Rizki menghentikan permainannya.


“Sama….”


“Trus dia ngomongin apa lagi?” Tanya Rizki sembari mengambil minum.


“Gak ngomong apa-apa sih, cuma nanya si Arga beneran balik apa engga doang.”


“Dia pake nomor yang dulu?”


“Nomornya baru.”


“Emm.. nomor ini bukan?” Rizki menyerahkan ponselnya dimana ada nomor tak dikenal masuk menghubunginya.


"Iya."


Suara motor terdengar memasuki garasi rumah Rizki membuat mereka langsung bungkam seribu bahasa, terlihat Arga datang membawa 3 bungkus nasi goreng untuk mereka santap bersama.


“Cepet amat lo.” Seru Rico mengambil piring serta sendok untuk mereka gunakan.


“Hmm..” Satu gumaman terdengar ditelinga mereka membuat mereka tak berani bertanya kembali pada Arga.


Mereka menyantap nasi goreng yang biasa mereka beli waktu sekolah dulu sambil membahas musik yang mereka suka. Setelah selesai menghabiskan nasi gorengnya, Rizki mengambil gitar dan memberikannya pada Arga. Malam pun mereka lalui bersama dengan bermain gitar dan bernyanyi ria untuk sejenak melespaskan resah serta masalah dalam diri mereka masing-masing.



***


Pagi pun menjelang membuat 3 pemuda yang tidur tak beraturan di depan televisi terbangun karena silau dari sinar mentari yang masuk menerobos kaca jendela.


Rizki yang melihat Arga ke kamarnya segera menyusul, ia geleng-geleng kepala saat melihat sahabatnya sudah kembali ke alam mimpi. Sedangkan Rico kembali melanjutkan tidurnya di sofa.


“Baangun woy udah jam 10!!” Rizki menimpuk tubuh Arga dengan bantal yang menganggur di sebelahnya. Wangi segar dari parfum yang di pakai Rizki tercium oleh hidung mancung Arga.


“Mau kemana lo?” Tanyanya tanpa membuka mata.


“Kuliah lah.. gue ada kelas jam 11 nanti. Cepetam lo bangun!! tuh si Rico aja udah standby di meja makan.” Ucapnya dengan masih berusaha membangunkan Arga.


“Iya bawel, makin kesini makin kayak cewek lo tau gak?.” Kesal Arga bangun dari ranjang dan segera pergi ke kamar mandi.


“Mana si Arga?” Tanya Rico pada Rizki yang baru kembali tanpa Arga, ia sudah tak sabar ingin segera menyantap semua makanan yang tersaji di meja makan.


Rico memakan buah apel terlebih dahulu untuk mendiamkan cacing dalam perutnya yang terus saja berdemo.


“Nagapain dia disini?” Tanya Arga melihat ada Jasmine yang sudah duduk bergabung di meja makan.


“Dia bareng gue kesini.” Ucap Cintya mengambilkan makan untuk Rizki.


“Gue bisa sendiri.” Tutur Arga menolak piring berisi nasi yang diberikan oleh Jasmine.


“Udah buat gue aja kalo lo gak mau.” Rico mengambil piring dari tangan Jasmine.


Arga tak mengambil makan, ia hanya minum jus alpukat saja. Semenjak tak bisa lagi bersama Raina ia jadi menyukai jus alpukat yang biasa Raina minum dimanapun ia berada.


Melihat penolakan Arga membuat senyum Jasmine pudar, meski sakit dengan sikap Arga yang terang-terangan menolak kehadirannya tak membuat dirinya mundur untuk bisa lebih dekat dengan pria setampan Arga.


“Arga kita kan mau ke kampus, cuma lo doang yang free. Bisa gak lo anter Jasmine ke mall, soalnya dia mau nyari buku buat mata kuliahnya nanti sore.” Ucap Cintya disela makannya.


“Dia kan bisa sendiri Sin? Emang dia gak bisa jalan? Atau gak punya duit? Gue rasa dia punya duit buat naik taxi doang mah.” Ucap Arga menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celana.


“Ckk.. Lo tuh semenjak..”


“Udah Sin gak pa-pa gue bisa sendiri kok.” Sela Jasmine dalam perdebatan mereka.


“Iya.. iya gue anterin.” Tutur Arga melihat mata tajam Cintya siap untuk mengomel seperti emak-emak kos yang nagih uang bulanan pada anak-anak kos-nya.


“Gitu dong, harus move on.” Ucap Cintya tanpa suara, hanya Arga yang tahu apa yang dikatan olehnya.


“Ya udah kita barengan brangkatnya.” Lanjut Cintya.


Arga langsung masuk begitu saja saat Rico sedang memanaskan mesin mobilnya membuat Cintya menahan kesal.


“Arga kalo lo bareng kita, gimana dengan Jasmine?” Kesal Cintya yang sudah duduk di belakang.


“Ckk… ” Arga segera keluar dengan membanting keras pintu mobil Rico memuat Rico hanya menahan sedih takut mobilnya rusak.


“Naik!!” Titah Arga yang sudah mengambil alih motor Rizki untuk dipakai olehnya.


“Oo.. okey.” Ucap Jasmine dengan mengulum senyum, ini harapannya meski bukan dengan motor kesayangan Arga. Ia selalu berharap bisa di bonceng oleh Arga.


Tanpa menunggu lama Arga menarik gas dan melajukan motornya dengan kencang membuat kedua tangan Jasmine melingkar sempurna memeluk tubuhnya erat.


“Bisa gak lo jangan peluk gue?” Kata Arga saat melambatkan laju kendaraannya, membuat kedua tangan Jasmine langsung terlepas dari tubuhnya.


Sesulit apapun aku mendapatkanmu, aku akan terus berusaha untuk lebih dekat denganmu. Arga Satya Pratama tak lama lagi kamu akan bertekuk lutut di hadapanku. Batin Jasmine tersenyum di balik helmnya.