
Arga berbaring di atas ranjangnya,kedua telapak tangannya menyatu menjadi bantal dibawah kepalanya. Kedua matanya terpejam rapat mengenang masa kecil bersama sang ibu dikamarnya.
Kedua kelopak matanya yang indah terbuka perlahan menatap langit kamar yang berwarna putih. Kedua tangannya kini bergerak seirama demi merasakan hangatnya ranjang yang selalu menemani di setiap tidurnya dahulu.
Di ranjang ini ia selalu dipeluk bahkan bercanda bersama sang ibu, sudut matanya melirik sebuah foto besar di dinding, foto Arga bersama kedua orang tuanya. Sudut bibirnya terangkat menampakan sebuah senyum ironi.
“Ma.. apa mama tak merindukan Arga? Sudah lama mama tak hadir di mimpi Arga.. Mama tahu? Kini Arga sudah kembali menjadi Arga yang dahulu.” Ucapnya dengan berbaring miring menatap jelas pada foto yang terpampang di dinding.
“Arga sekarang tahu alasan mama sebenarnya meninggalkan Arga dengan sengaja, tapi terap saja Arga merasa tak rela ma…”
Rasa kantuk tiba-tiba saja hadir padanya, hingga ia pun terlelap dengan rasa rindu yang mendalam untuk orang-orang yang paling berarti di hidupnya.
⁂Dalam mimpi
“Arga sayang..” Wanita cantik duduk di belakang tubuhnya yang berbaring dengan mengusap lembut kepalanya.
Panggilan tersebut membuat Arga membalikan tubuhnya dan melihat sang ibu begitu cantik dengan baju putihnya yang terlihat bercahaya.
“Mama Arga kangen mama, jangan pergi… Arga butuh mama. Semua orang yang Arga sayang pergi ma..”
“Mama tak pergi sayang, bahkan oma dan opa juga selalu bersamamu.”
“Dimana oma dan opa ma?” Arga bangun duduk sila berhadapan dengan sang ibu.
“Anak mama udah besar, kamu sudah dewasa sayang.”
“Oma dan Opa ada di sini.” Tutur sang ibu menunjuk dada kiri Arga. “Bahkan mama juga selalu ada di sini.”
“Mama, oma dan opa sayang kamu. Maaf jika kepergian mama membuatmu kecewa, mama mohon ikhlaskan kami sayang.”
“Tidak, semua orang yang Arga sayang pergi meningglakan Arga bahkan dia juga. Arga tak akan rela.”
“Apa kau tak menyayangi kami?”
Kepala Arga menggeleng kuat.
“Jika kau sayang kami maka relakan kepergian kami. Banyak orang yang sayang Arga kenapa Arga hanya terfokus dengan kami? Kau harus lihat orang di sekelilingmu yang selalu memeberikan sayangnya padamu.”
“Belajarklah ikhlas sayang, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ucap sang ibu berdiri meninggalkan Arga dengan berjalan mundur.
“Mama mau kemana?” Tanya Arga bangkit mengejarnya namun tiba-tiba saja sang ibu menghilang dari pandangannya dan ia melihat beberapa foto yang ia satukan menjadi satu frame tergeletak di atas ranjang.
Foto orang yang selalu ia sayangi, sang ibu, nenek dan kakek serta wanita yang selalu mengisi hatinya yaitu Raina.
Arga terbangun dengan keringat yang mengucur dikeningnya. Ia menyekanya dan merasakan matanya sedikit basah.
Matanya menatap jendela yang menampakan hari sudah gelap di luar sana, ia bangkit dari atas ranjang menuju jendela kamarnya untuk menutup tirai dan memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.
Di depan cermin Arga merenung kata-kata terakhir ibunya.
‘BELAJARLAH IKHLAS SAYANG, MAKA ALLAH AKAN MENGGANTINYA DENGAN YANG LEBIH BAIK.’
Arga akan ihklas ma, semoga mama bahagia di sisi Allah. Batin Arga.
Siang tadi ia menyempatkan diri untuk megunjungi rumah Abi dan Nisa, bahkan ia membawa hadiah untuk mereka sebagai bentuk penyemangat serta apresiasi untuk mereka karena mendapatkan nilai yang terbaik namun ia harus kecewa dengan perkataan mereka.
Arga keluar dari kamarnya dan turun ke bawah untuk menemui keluarganya, saat kakinya menginjakan kaki di lantai dasar ia tak melihat ada orang satupun, ia melihat jam besar dan waktu menunjukan pukul 22.20.
Pantas saja ia tak melihat siapapun ternyata sudah begitu malam, perutnya yang sudah berdemo membuat Arga masuk ke dalam dapur. Ia melihat begitu banyak makanan di kulkas Namun terlalu malas untuk menghangatkannya hingga ia melihat ada apel segar dengan cheese cake, ia mengeluarkannya dan membawanya ke ruang televisi.
“Ngapain lo?” Tanya Dhafin ikut mendudukan tubuhnya di sebelah Arga yang sedang memakan cheese cake miliknya.
“Itu cake milik gue Ga.” Ucapnya ingin mengambil sisa cake seakan tak rela cake kesukaanya di makan oleh Arga.
“Minta dikit.” Ucapnya dengan bibir penuh sambil menjauhkan cake dari jangkauan tangan Dhafin.
“Ehh kayaknya udah abis deh, soalnya waktu gue ngambil udah abis.” Sambungnya dengan menyuapkan sisa cake di atas piringnya.
“Sialan lo. Gue laper.” Ucap Dhafin beranjak.
Arga hanya tersenyum melihat Dhafin yang kesal dengan ulahnya, ia tahu jika tiap malam Dhafin selalu makan cake kesukaanya, apalah daya perutnya yang minta di isi membuat ia harus memakan cake milik Dhafin.
“Wihhh malem gini makan mie instan emang enak, wanginya.. beuhhhhh” Ucap Dhafin datang membawa semangkuk mie instan.
“Dhaf kayaknya gue lupa deh?”
“Apa?”
“Gak peduli, gue udah punya mie pedas mantap dan hot.” Jelasnya meniup mie panas untuk segera di makan.
“Lo makan tapi gak ambil minum, gimana sih lo.” Ucap Arga meminum sisa airnya.
“Ehh iya, gue lupa..” Ucap Dhafin bangkit mengambil minumnya.
Arga yang melihat Dhafin pergi segera memakan mie yang begitu mennggiurkan mata, Dhafin yang melihat tingkah adiknya hanya geleng-geleng kepala menahan kesal dan ia pun segera balik lagi.
Dhafin tahu jika Arga juga kelaparan karena ia tak melihat Arga makan bersama tadi, makanya ia masak mie dua, dan benar dugaannya jika Arga akan mengambil mie miliknya.
“Lo makan milik orang, gak jijik lo?” Tanyanya dengan memakan mie nya.
Arga hanya menggelengkan kepala sembari menyuruput mie yang hampir habis.
“Ahh kenyang gue..” Arga menyimpan mangkuk bekas dan ia segera merebahkan tubuhnya di sandaran sofa sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan.
Tak ada yang berbicara selama Dhafin memakan mienya, hanya suara dari tv yang membuat suasana merasa tak hening.
“Kenapa lo?” Tanya Dahfin ketika ia berhasil menghabiskan mienya.
“Raina?” Tebak Dhafin karena Arga hanya diam saja.
“Tadi siang gue main ke rumah Abi.”
“Terus?”
“Dan mereka bilang..”
“Apa?” Potong Dhafin begitu penasaran dengan yang membuat Arga tidur dari sore sampai malam begini.
“Ck.. gue mau cerita lo potong.”
“Sorry, penasaran gue.”
“Ckk.. cepetan cerita.” Dahfin berdecak sembari menimpuk Arga dengan bantal sofa karena Arga tak kunjung melanjutkan ceritanya.
“Mereka bilang gue gak usah datangi Raina.”
“Kok mereka bilang gitu?”
“Ckkk…” Arga berdecak kesal, tangannya terangakat ingin menimpuk kakaknya.
“Iya.. iya..”
“Raina yang nyuruh, gue dan mereka berencana ingin mengunjungi Raina, dan Raina mengetahui rencana kita, trus dia bilang katanya ‘Kalian gak usah ke sini bersama kak Arga, nanti saja ikutnya jika papa kakak ke sini.’ ” Arga menggela nafas kasar setelah ia memperagakan Nisa berbicara.
“Terus rencana lo sekarang?”
“Ya gue gak mungkin ke sana, secara gue gak tau dia tinggal di kota mana. tadinya gue pengen minta alamat Raina lewat mereka tapi ternyata Abi malah keceplosan bilang mau kesana bareng gue.”
“Oke.. gimana kalo lo minta tolong ke om Adrian. Siapa tahu dia mau ngasih tahu?”
“Hmm.. nanti gue coba, gue kangen dia Dhaf..”
“Ya lo telfon lah!! Napa lo bilang ke gue?”
“Gue takut Raina gak angkat telfon gue Dhaf.”
“Kenapa lo bilang gitu?”
“Soalnya gue baru dapet nomornya dari Abi, siang tadi gue udah coba tapi gak di angkat malah di riject.”
“Coba lagi!! Jangan nyerah gitu aja.”
Arga mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, ia pun segera menghubungi nomor yang di berikan Nisa tadi. Benda pipih itu setia menempel di telinganya sebelum ada yang menjawab.
“Hallo” Ucapnya dari sebrang sana membuat senyum Arga pupus, Dhafin menautkan kedua alisnya bertanya kenapa.
Jangan lupa dukungannya.
Terima kasih yang sudah mau baca karyaku yang recehhh ini😁