RAINA

RAINA
Chapter 104



Raina segera berlari menuju mobilnya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Mendengar Arga akan bertunangan dadanya begitu sesak, ia terus saja menghirup nafas dalam seakan ia membutuhkan pasokan oksigen yang begitu banyak. Berkali-kali Raina menyeka sudut matanya, entah kenapa buliran kristal bening itu mengalir sangat deras dan tak kunjung surut.


Tanpa arah tujuan mobil Raina melaju begitu saja, ia pun tak mengerti kenapa dirinya begini? Bukankah ia sudah melepaskan Arga? Bukankah ini kemauanya sendiri? Lalu kenapa sekarang seakan ia tersakiti? Kenapa hatinya seakan tak rela?


“AAAAAAaaaa” Dengan keras Raina berteriak saat ia menghentikan mobilnya di jalanan kosong.


Jadi begini kah rasanya patah hati? Sakit.. bahkan sakit di hianati olah Rangga dan Nadine dulu tak sesakit ini. Tapi kenapa sekarang hatinya begitu sakit?


Dalam keheningan malam ia menumpahkan tangisnya dengan penuh sesal, andai saja dulu ia mau mendengarkan Arga, mungkin saat ini yang bersamanya adalah dirinya bukan Jasmine. Berbagai andai ada dalam isi kepala Raina.. menyesal? Ya.. itulah yang Raina rasakan saat ini. Ia begitu menyesali kebodohannya dulu, Raina pikir ia akan baik-baik saja melihat Arga bersama Jasmine namun ternyata saat ia mendengar dengan jelas jika Arga akan bertunangan dengan wanita lain hatinya sungguh-sungguh sakit.


Dua jam Raina menangis di tepi jalan yang sepi, untung saja tak ada orang jahat. Ia melihat jam di pergelangan tangannya. Ternyata sudah pukul 10 malam, ia melirik ponselnya yang terus menyala, terlihat beberapa nama yang menghubunginya.


“Iya kak.” Jawab Raina dengan suara sengau.


“Kamu dimana?” Terdengar nada khawatir dari suaranya.


“Aku lagi di cafe, bentar lagi pulang kok.” Dengan terpaksa Raina berbohong, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


“Ya udah, jangan terlalu malem pulangnya.” Ucap Raka dengan nada lembut, ia tahu saat ini Raina sedang butuh waktu sendiri.


Raina melihat dirinya di kaca spion, terlihat berantakan dengan mata yang begitu sembab, ia pun segera merias dirinya agar tak terlihat jelas habis menangis, dan tanpa menunggu waktu lagi Raina menginjak pedal gas mobilnya, kini ia melajukan dengan kecepatan sedang. Saat sampai didepan rumahnya ia dikejutkan dengan kedatangan lelaki yang tengah berdiri di depan gerbang rumahnya.


“Darrel.”


Raina keluar dari dalam mobil dan segera menghambur kepelukan Darrel, menumpahkan rasa sakit yang ia rasakan sejak tadi, meski sudah mennagis beberapa jam tetap saja rasa sakitnya masih ada. Darrel yang tak mengerti apa-apa hanya merengkuh tubuh Raina kedalam pelukannya.


“Désolé, pourquoi ne pas me faire savoir si c'ést êstre en indonésie?”


“maaf, kenapa tak mengabariku kalau mau ke indonesia?” Tanya Raina tersadar dan segera menyeka air matanya.


“Kejutan.” Ucap Darrel dengan aksen Indonesi, membuat Raina tersenyum merasa lucu jika mendengar Darrel bicara menggunakan bahasa Indonesia.


“Sengaja, ingin menunggumu.” Ucap Darrel setelah menanyakan keberadaan Raina, melihat mata Raina yang sembab sudah di pastikan ia menangis lama.


“Kamu keluar malam dengan pakaian seperti ini?” Tanya Darrel berusaha untuk tak bertanya lebih dalam, namun dia tak habis pikir melihat penampilan Raina yang sedikit terbuka, padahal ini malam hari dan ia keluar sendirian.


“Awalnya aku ingin menghadiri pesta ulang tahun teman, namun ada sedikit masalah jadi aku hanya jalan-jalan saja.” Jawab Raina yang terus saja menghindar dari tatapan Darrel.


Sebenarnya bagaimana pun ia menghindar, tetap saja Darrel sudah melihat mata sembab Raina, dan Darrel hanya bisa terdiam tanpa ingin bertanya lebih, karena sekali saja ia bertanya maka dipastikan Raina tak akan mau bertemu dengannya, karena Raina lebih suka menyimpan sesuatunya sendiri.


“Pasti dingin.” Darrel memakaikan jaket yang tadi dipakainya membuat Raina tertawa.


“Ada yang lucu?”


Raina mengangguk.


“Apa yang lucu?”


“Aku sudah sampai rumah, kenapa kau pakaikan jaket padaku?”


“Ya tidak apa-apa.”


“Ya udah yuk masuk.” Raina berusaha membuka gerbang rumahnya.


“Tunggu Rain.” Cegah Darrel, ia menarik kedua tangan Raina dan mengeluarkan kotak kecil berisi cincin. Dipakaikannya cincin tersebut kejari manis Raina.


“Kamu nangis pasti karena lelaki kan? Kamu tenang saja, Masih ada aku, aku akan selalu ada untukmu.” Darrel kembali merengkuh tubuh Raina kedalam pelukannya, yang dipeluk hanya diam saja sambil memandangi cincin dijari manisnya.


Tanpa mereka sadari ada sosok lelaki yang menyaksikan adegan mereka dari jauh, Arga hanya bisa terdiam melihat Raina bersama Darrel, ia yakin jika itu Darrel karena ia mengingat jelas wajah Darrel.


Melihat kepergian Raina tadi ia begitu cemas hingga ia berusaha mengejar Raina, namun ternyata ia tak bisa menemukan jejak Raina hingga akhirnya ia hanya bisa menunggu Raina di komplek perumahannya, namun disaat ia akan menghampiri Raina, ia dikejutkan dengan Raina yang langsung memeluk Darrel. Selama ini ia kira Darrel dan Raina sudah tak menjalin hubungan, namun ternyata dugaan nya salah. Setelah Raina dan Darrel masuk ia pun pergi ditemani rintik hujan yang mulai turun, seolah tahu dengan kesedihan yang dialami olehnya.