
Raina mendongakan wajahnya menatap langit biru yang penuh dengan gumpalan awan putih, teriknya sinar matahari tak membuatnya ingin beranjak dari tempat yang kini ia singgahi. Sudah beberapa hari ini Raina menikmati hari-harinya di cafe yang mana pertama kali ia bertemu dengan teman-temannya, cafe tempat Abi bekerja tentunya.
Satu cup smoothie Alpukat menemani dirinya dalam kesendirian, karena sang matahari terlalu terik membuat lantai 2 cafe terlihat sepi, pengunjung lebih banyak menikmati di lantai bawah.
Matanya melirik pada lampu-lampu menggantung yang bergoyang oleh hembusan angin, seketika senyumnya terbit begitu saja dari bibirnya yang ranum. Tanpa ia sadari sepasang mata terus saja mengawasinya.
Merasa nyaman dengan suasana yang sepi Raina segera mengeluarkan laptopnya, entah apa yang sedang ia kerjakan. Tanpa terasa satu cup smoothie alpukat sudah habis karena terlalu serius dengan laptop dihadapannya hingga ia tak menyadari minumannya telah habis.
Satu cup minuman yang sama kini mendarat dimeja nya, kepalanya mendongak untuk melihat siapa yang sudah memberikan minuman tersebut.
“Ngapain lo disini?” Raina bertanya dengan mengalihkan pandangannya pada laptop dihadapannya.
“Ini tempat umum.” Jawab pria yang kini duduk santai dihadapannya.
“Gue juga tau.” Tukas Raina tak ingin berdebat.
“Terus?”
“Terus???” Kening Raina berkerut dalam, pertanyaan dari pria tersebut berhasil membuat Raina menatap kearahnya.
“Terus kenapa kamu nanya ngapain aku disini?” Tanyanya Santai dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Karena lo duduk di hadapan gue, gak usah repot-repot pesenin minuman, gue bisa pesan sendiri.” Tutur Raina kembali menatap layar laptopnya.
“Siapa juga yang pesenin buat kamu, ini buat aku.” Pria itu menyesap minumannya dari sedotan dengan senyum mengejek.
“Arga…” Geram Raina menahan kesal dan juga malu, wajahnya berubah merah bagikan tomat matang. Arga yang duduk dengan menyesap minumannya hanya terkekeh pelan, ia merindukan kekesalan Raina, bukan hanya itu saja, ia begitu merindukan semua yang ada pada diri Raina.
Raina menjentikan jarinya ketika ada waiters lewat kearahnya, ia segera memesan makanan dan juga minuman yang sama kembali. Setelah selesai memesan, ia menutup laptopnya, mengambil tas slempangnya dan pergi meninggalkan Arga yang hanya diam menatap kearahnya.
Kini Raina duduk dekat pagar pembatas, melihat jalanan yang banyak lalu lalang para pejalan kaki, laptopnya kembali ia buka dan pesanan pun sudah sampai dimeja yang ia duduki sekarang.
Dari mejanya Arga hanya melihat kegiatan Raina, ia penasaran siapa yang menghubunginya, wajah Raina terlihat bahagia ketika menerima panggilan telfon.
“Boleh gabung?” Datang 2 orang pria menghampiri meja Raina, sekilas Raina mendongak namun ia segera memalingkan wajahnya berbicara dengan yang menghubungi lewat ponselnya, karena panggilan belum terputus.
“Sorry, dia bareng gue.” Arga datang dan menarik kursi duduk di hadapan Raina.
“Ohh sorry..” Kedua pria itu kembali pergi menjauhi Raina.
“Ckk..” Raina menaruh ponselnya kedalam tas. Seperti biasa ia menyilangkan tangan didada dan menatap tajam Arga yang mentapnya penuh kelembutan.
"Aku bantuin kamu dari cowok-cowok itu." Kesal Arga karena Raina malah menatapnya tajam.
"Makasih." Ucap Raina pelan.
"Apa? kamu ngomong apa sih?" Goda Arga.
“Arga..” Panggil wanita yang menatap kearah mereka.
Raina menatap Jasmine yang berjalan kearah mejanya, Arga menoleh kebelakang saat namanya di panggil dan segera berdiri menghampiri Jasmine, tanpa pamit pada Raina mereka turun kebawah terkesan buru-buru.
***
“Rain..” Panggil seorang pria dari arah belakang.
Raina yang tengah berjalan hendak keluar dari cafe menolehkan kepalanya kebelakang, untuk melihat siapa yang telah memanggil namanya.
Dengan senyum yang tak pernah pudar Dhafin melangkah mendekati Raina, begitupun Raina tersenyum kearahnya.
“Bagaimana kabarmu? Aku benar-benar tak menyangka akan bertemu lagi denganmu. Kapan pulang?”
“Aku harus jawab yang mana dulu?” Raina bertanya dengan terkekeh pelan mendapat pertanyaan beruntun dari Dhafin.
“Maaf, bagaimana kabarmu?” Tanya Dhafin mengusap tengkuknya.
“Aku baik, kakak?”
“Seperti yang kamu lihat." Ujar Dhafin dengan gayanya. "dengan siapa?” Tanya nya kembali.
“Seperti yang kakak lihat.” Jawab Raina dengan terkekeh pelan, ia berhasil menggoda Dhafin.
“Aahhh sendiri, sama.. mau kemana? Pulang?”
“Hmm.. Aku duluan ya kak.”
“Mau ku antar?” Tawar Dhafin padanya.
“Tak usah, aku membawa mobil.”
Raina berlalu menuju parkiran, sedangkan Dhafin masih berdiri menatap mobil Raina yang menghilang dari pandangannya. Bibirnya terangkat mengulas senyum, benar-benar tak menyangka akan bertemu kembali dengannya.
Jalanan sore semakin padat kendaraan, traffic light menyala merah membuat Raina menghentikan laju kendaraannya, musik dari audio mengalun untuk menghilangkan keheningan.
Kaca mobilnya di ketuk oleh seseorang dari luar, ia membukanya dan segera memberikan uang berwarna biru pada pengamen cilik. Terlihat anak itu begitu bahagia mendapatkannya, setelah mengucapkan terima kasih anak tersebut lari menghampiri anak lainnya.
Raina tersenyum pada anak kecil yang sedang berkerumun, teringat pada pertemuan pertamanya dengan Abi dan juga Nisa. Senyum Raina langsung surut kala ia melihat Arga bersama Jasmine dalam mobil. Terlihat mereka begitu bahagia, Jasmine memegang kamera dan bergelayut manja pada Arga.
“Lama banget sihh?” Keluh Raina melihat traffic light masih setia dengan warna merah.
Tak menunggu lama Raina langsung menancap gas ketika traffic light berubah warna menjadi hijau.