RAINA

RAINA
Chapter 72



Hari ini adalah hari pertama Raina masuk kuliah, ia berangkat bersama kakaknya dan juga Darrel yang ternyata tinggal satu apartemen dengan Raka. Raina duduk di belakang menatap jalanan yang terasa sedikit lenggang tak seperti di negaranya.


“Rain, kalo ada apa-apa kamu hubungi aku aja.” Ucap Darrel melirik Raina lewat kaca spion.


“Hmmm.” Jawab Raina dengan gumaman.


Darrel tersenyum dengan sikap Raina yang ternyata susah untuk di dekati, bukan Darrel namanya jika ia tak bisa memenangkan Raina.


Raina turun dari mobil dan menunggu kakaknya keluar, ia melihat banyak wanita cantik yang menatap ke arahnya. ketika Darrel dan juga Raka keluar dari mobil seketika Wanita yang menatap ke arahnya tersipu malu dengan saling berbisik dan ternyata mereka adalah penggemar Darrel.


Raina memalingkan wajahnya ketika tatapannya tak sengaja bertemu dengan Darrel, saat para wanita genit itu melambai dan tersenyum Darrel pun membalas dan melambaikan tangan ke arahnya, Raina langsung menggandeng tangan kakaknya membuat para wanita yang melihatnya menunjukan ketidak sukaanya seketika.


“Kenapa mereka pada bisik-bisik? Penampilan aku aneh?”


Raka menghentikan langkahnya, ia melihat penampilan gadis kecilnya dari atas sampai bawah yang menurutnya gak ada masalah. “Enggak.” Jawabnya.


“Hati-hati nanti ada yang labrak gara-gara nempel terus sama kakakmu.” Sahut Darrel dari belakang.


“Yang ada juga kalo kamu deket aku.” Timpal Raina tak suka.


Sepanjang jalan Raina menatap pandangan aneh dari mata yang ia temui. Namun ia tak peduli ia malah lebih bergelayut manja pada kakaknya membuat Darrel gemas sendiri.


“Hai Rell..” Sapa seorang wanita dari arah samping kanan menyapanya.


“Haii biel..” Sahut Dareel.


“Raina?” Tebak Abiela pada Raina.


Raina melepaskan tangannya dari Raka tersenyum pada Abiela, mereka pun berpelukan, ya wanita yang sedang bercipika-cipiki dengan Raina adalah Abiela yang ia tahu adalah kekasih dari kakaknya. Darrel hanya melongo ia kira mereka belum saling mengenal.


"Kalian udah saling kenal?" Tanyanya.


Di jawab anggukan oleh Abiela.


“Kapan kamu ke sini?” Tanya Abiela pada Raina


“Udah beberapa hari sih.”


“Kenapa kamu tak pernah ikut bersama Raka?”


“Dia malas untuk keluar biel.” Sahut Raka.


“Oh, aku harus masuk sekarang. Nanti kita ngobrol lagi oke.”


“Siip.” Jawab Raina menunjukan jempolnya.


Abiela tersenyum dan berlalu meninggalkan mereka.


“Aku juga harus masuk nih, duluan ya.” Ujar Darrel mengacak rambut Raina sebelum pergi.


“Darrell..” Kesal Raina, bibirnya terangkat mengingat Arga selalu melakukan hal tersebut jika berpamitan.


“Emhh Ayo.”


Hatinya selalu berdebar jika ia mengingat Arga, kenapa ia harus mengingatnya? Padahal sudah beberapa hari ini ia tak pernah berhubungan dengan teman-temannya.


***


Begitu pun Arga dan yang lainnya yang telah sah menjadi mahasiswa sekarang, kebersamaan mereka semakin terjalin, bahkan para senior selalu iri karena wajah-wajah tampan mereka. Apalagi senior wanita nya, ada yang tak tahu malu mengutarakan perasaannya pada Arga dan Rico ada pula yang hanya diam-diam mengaguminya.


Arga melihat ke arah wanita yang tengah menunggunya, ia segera menghampirinya.


"Lama? sorry tadi masih ada kelas." Ucap Arga pada Sindy membuat yang melihat begitu iri dengan perhatian Arga pada wanitanya.


Kini Arga dan Sindy kembali dekat, perkataan Cintya waktu itu ada benarnya hingga ia memutuskan untuk berdamai dengan Sindy agar mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Enggak kok, aku mau ke salon udah lama gak creambath"


"Ya udah" Ajak Arga membukakan pintu mobil untuk Sindy, sekarang ia lebih sering menggunakan mobil di banding dengan motor ke sayangannya, karena motor itu hanya boleh di naiki oleh wanita nya Raina.


Sesampainya di salon Arga dengan sabar menunggu Sindy, padahal dalam hatinya ia begitu malas jika harus menunggu di tempat yang menurutnya tak menyenangkan. Sindy berbeda sekali dengan Raina, tiap minggu ia harus mengantarnya shoping baju, sepatu ataupun tas. ini yang selalu membuat Arga merasa tak nyaman dengan Sindy dulu, berbeda hal nya waktu ia bersama Raina. Raina tak pernah menyulitkan nya.


Raina tak pernah manja berlebihan pada Arga, menurut Arga Raina wanita paling perfect di banding wanita manapun.


“Masih lama?” Tanya Arga pada Sindy yang sedang di creambath di salah satu salon yang ada di mall.


“Bentar lagi sayang.”


“Nanti telfon aja ya kalo udah selesai.” Ujar Arga berlalu meninggalkan Sindy keluar dari salon.


“Aawwww” Pekik seorang wanita karena tak sengaja tertabrak oleh Arga ketika ia melintas di depan salon.


“Maaf.” Ujar Arga membantu memungut barang belanjaannya yang terjatuh.


“Gak apa-apa.” Ucap wanita tersebut.


Wajahnya menatap Arga yang masih membantunya, ia memalingkan wajah ketika Arga balas menatap ke arahnya.


“sekali lagi saya minta maaf.”


“Iya.. saya juga minta maaf karena tak melihat kamu keluar tadi.” Wanita tersebut tersenyum menatap manusia yang menurutnya memdekati sempurna.


“Nadine..” Ucapnya mengulurkan tangan mengajak berkenalan.


“Maaf, saya harus segera pergi.” Arga berlalu sembari mengangkat ponselnya karena mendapat telfon dari Rizki yang mengatakan sudah menunggunya di cafe bersama yang lainnya.


Nadine berpikir sejenak sembari menatap punggung Arga yang menjauh, ia merasa pernah melihat Arga sebelumnya.


“Gue ngerasa pernah liat, tapi dimana ya?” Gumamnya menoleh sebentar sebelum melanjutkan jalannya.


“Raina...” Ucapnya ketika ia mengingat pernah melihat Arga di instagramnya Raina.