
Raina menghentikan mobilnya ketika sampai di daerah pemakaman, melihat ke sekeliling begitu sepi serta penerangan yang remang, hujan yang begitu lebat dari sore tak juga reda hingga menyempurnakan rasa takut pada dirinya namun kekhawatirannya pada Arga membuat rasa takut itu sirna.
Di bawah lindungan payung Raina berjalan menapaki jalan setapak yang ia soroti dengan senter dari ponselnya untuk sampai ke pusara Nenek Mirna.
“Arga…” Teriak Raina melihat Arga tergolek lemah di atas pusara ibunya.
Payung yang di pegangnya terjatuh begitu saja dan ponselnya ia simpan begitu saja hingga terkena air hujan.
“Arga bangun..Arga aku mohon bangun..” Raina memangku kepala Arga mencoba membangunkannya dan segera mengecek denyut nadi dan juga nafas Arga, Raina merasakan kulit tubuh Arga yang begitu panas.
Raina menyambar ponselnya, ia segera menghubungi Rizki untuk segera ke pemakaman. dengan perlahan Raina menampar pipi Arga supaya tersadar.
“Ibu..” Lirih Arga pelan.
“Arga, syukur lo sadar.” Ucap Raina senang.
“Ibu jangan tinggalin aku, aku mohon jangan pergi..” Racau Arga dengan mata yang masih terpejam.
“Arga ini aku Raina, ku mohon sadarlah.”
“Raina??” Ulang Arga.
“Iya aku Raina.. aku mohon bangun, ayo kita pulang.” Raina berusaha membangkitkan tubuh Arga namun sayang tenaganya tak bisa mengangkatnya.
“Gak ada yang sayang gue Rain, buat apa gue pulang?” Racau Arga kembali.
“Keluarga kamu nyariin.” Sentak Raina kesal.
“Mereka tak pernah peduli, sekalipun gue mati.” Ucap Arga terkekeh lemas.
“Kamu ngomong apa sih?”
"Gak ada yang sayang gue Rain.”
“Aku sayang kamu.”
“Lo bohong.”
“Aku gak bohong, aku mohon bangunlah agar kita bisa berteduh.” Ajak Raina.
“Lo bohh....”
Di bawah rintik hujan Raina mencium bibir Arga, entah apa yang membuatnya berani melakukan hal itu, ini adalah pertama kalinya ia mencium laki-laki. Tak ada pergerakan, ia hanya menempelkan bibirnya pada bibir Arga. Di bawah alam sadarnya Arga menyambut bibir Raina sedikit menghisap dan ******* bibir ranum tersebut.
“Gue sayang lo Raina.” Lirih Arga sebelum kembali tak sadarkan diri.
“Arga bangun.. aku mohon bangun..”
“Seseorang tolong.. ” Teriak Raina histeris meminta tolong siapa tau ada penjaga makam yang lewat.
Raina menangis tersedu sembari memeluk tubuh Arga yang panas meski terguyur oleh air hujan yang begitu deras, untuk pertama kalinya Raina merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, entah itu rasa cinta dan sayang yang begitu mendalam hingga ia merasa takut untuk kehilangan.
“Aku mohon bangunlah Arga…”
“Rizki,Rico tolong aku mohon siapapun di sana tolong aku.” Teriak Raina ketika melihat lampu mobil yang bergerak mendekati mobilnya.
“Aku mohon tolong kami..” Raina kembali berteriak.
“Rain..” Teriak Rizki dan Rico.
“Kenapa Arga?” Tanya Rico “Astaga badannya panas sekali.” sambungnya.
“Gue Anter lo pulang.” Ujar Rico ketika ia berhasil memasukan Arga ke dalam mobil Rizki.
“Gue ikut kalian.”
“Gue akan pulang ke apartemen Arga Rain.”
“Kenapa apartemen? Kita bawa dia ke rumah sakit.” Ujar Raina.
“Dia akan ngamuk kalo kita bawa ke rumah sakit.”
“Ya udah gue ikut.”
“ya udah gue bawa mobil lo, lo mau sama gue apa ikut ke mobil Rizki?.” Tanya Rico mengambil kunci mobil Raina.
Raina mendekati mobil Rizki dan ia duduk di kursi belakang memangku kepala Arga, tubuhnya menggigil serta bibirnya memucat, padahal Rizki sudah mematikan AC dalam mobilnya. Rico segera naik ke dalam mobil Raina dan ia mengikuti mobil Rizki.
“Lo tahan ya Rain, gue lupa bawa jaket. Sebentar lagi kita sampe.” Ujar Rizki.
“Gue gak apa-apa ki, lo bisa cepet gak? Kasian Arga.”
Rizki mengangguk dan mempercepat laju kendaraannya di ikuti oleh Rico, setelah sampai ia melihat Cintya sudah berdiri menyender di depan pintu apartemen Arga dengan membawa paper bag.
“Password nya ganti, gue gak bisa masuk.” Ujar Cintya menyilangkan tangannya.
“Masa?” Tanya Rico mencoba menekan passwprd yang ia tahu.
“Gue udah coba dari tanggal lahir dia, ibunya bahkan nenek dan kakeknya tapi tetep gak bisa.”
“Rain, lo pasti tau.” Tutur Rico menyerah.
Raina menakan tombol password dan pintu terbuka. Ia segera membuka pintunya menyuruh Rico dan Rizki membawa Arga tetlebih dahulu.
Raina segera pergi ke kamar mandi luar yang dekat dengan dapur setelah ia menerima baju ganti dari Cintya, sedangkan Rico dan Rizki memgurus Arga yang masih tak sadarkan diri.
“Nih teh anget.” Cintya menyodorkan teh hangat pada Raina ketika melihatnya keluar dari kamar mandi.
“Thanks Sin.”
“Your welcome Rain, emh Rain..”
“Ya..”
“Sorry..”
“Untuk?”
“Untuk semuanya, gue udah judes sama lo dan...”
“Gue udah maafin, gue ngerti kok kenapa lo bersikap kayak gitu, Sin gue minta air anget buat ngompres Arga.” Kata Raina menyela perkataan Cintya.
“Lo istirahat aja, biar mereka yang urus Arga.”
“Gak usah biar gue aja.” Raina mengambil wadah yang berisi air hangat berjalan menuju kamar Arga bersama Cintya.
Jangan lupa dukungannya..
jika suka Like, komen, vote dan rate ya😁