
Baju Kebaya berwarna putih yang dahulu menjadi sejarah antara ibu dan juga ayahnya kini Raina pakai di hari bersejarah untuknya, padahal dia ingin sekali memakai kebaya ini untuk acara nikahnya, namun karena tak sempat membeli kebaya ataupun gaun untuk acara pertunangannya, maka terpaksa ia memakainya sekarang. Bahkan dekorasi rumah pun seadanya, yang terpenting saat ini adalah acara berjalan dengan lancar. Raina duduk di hadapan cermin besar menampilkan wajah cantiknya.
“Sayang..” Adrian dan Raka masuk kedalam kamar Raina.
Raina hanya tersenyum haru menyambut kedua lelaki hebat dalam hidupnya, sebentar lagi ia akan di pinang oleh lelaki yang sudah memberi warna dalam hati dan juga hidupnya, lelaki yang sudah bisa menanamkan cinta dihatinya.
“Papa harap ini pilihan yang tepat nak.” Adrian memeluk Raina dengan erat, ada perasaan berat dalam benaknya.
Mereka bertiga kini saling berpelukan, Raina dan Raka tahu bagaimana perasaan ayahnya saat ini, ia sedang berusaha merelakan anak gadisnya yang ia besarkan sendiri tanpa kehadiran istri di sisinya.
“Pa.. mereka sudah datang.” Abiela datang memberi tahu Adrian.
Mereka pun segera turun tanpa Raina untuk menyambut keluarga mempelai lelaki. Rasa gugup datang pada diri Raina, rasanya lebih gugup di banding dengan ia akan wisuda dahulu. Ia berusaha menenangkan rasa gugupnya dengan terus menarik nafas dalam dan mengeluarkan nya perlahan.
“Onty ayok tulun.” Aksa datang menjemput tantenya.
Dengan hati berdebar Raina keluar dari dalam kamar bersama Aksa, dengan perlahan ia berjalan menuruni anak tangga, Raina melihat seorang lelaki memakai jas berwarna senada, dengan tampannya ia berdiri menatap Raina dari bawah tanpa berkedip bahkan senyuman dari bibirnya terlihat cerah menampakan gigi putihnya. Untuk pertama kalinya Raina melihat sosok itu tersenyum lebar.
Berbagai rentetan acarapun dimulai, dan kini..
“Di persilahkan untuk menyampaikan maksud kedatangannya.” Ujar MC yang mengatur jalan acara lamaran tersebut mempersilahkan calon suami Raina berbicara.
Terdengar tarikan nafas dalam sebelum ia memulai bicara. Sudah di pastikan ia juga merasakan hal yang sama, yaitu gugup.
“Menunggu saat ini aku membutuhkan waktu yang begitu lama, dimana banyak halangan serta rintangan yang silih berdatangan. Tidak mudah memang, tapi aku selalu yakin kesulitan selalu seiring dengan kebahagiaan. Raina Adriana Putri.. Nama yang dari dulu selalu tertulis dalam hati ini, tapi belum tentu tertulis dalam buku nikah, dan sekarang aku ingin namamu tertulis di keduanya. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, mau kah kamu menjadi pendamping hidupku?” Tanya lelaki itu mantap tanpa melepaskan pandangannya terhadap wanita cantik yang kini berdiri di hadapannya.
Wajah Raina bersemu merah di tambah dengan hati yang begitu bergemuruh bak gendang yang saling bertaut, Raina menarik nafas dalam, sungguh hatinya tak bisa ia kondisikan saat ini.
“Aku tahu jika tak ada yang sempurna di dunia ini, begitupun dengan kita. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyanyang, Aku bersedia lahir batin menerima lamaran dari Arga Satya Pratama.”
Tak ada yang dapat menggambarkan betapa bahagianya mereka saat ini, Yulisa datang kehadapan mereka menyerahkan kotak kecil yabg berisi 2 cincin, setalah cincin tersemat di jari, mereka pun saling berpelukan menumpahkan tangis bahagia hingga melupakan rasa malu dari hadapan orang yang hadir disana, karena perasaan bahagia mereka sudah tak bisa lagi dibendung.
Semua yang hadir disana pun ikut tersenyum haru, apalagi orang yang tahu betul lika-liku perjalanan Arga untuk mendapatkan kembali hati Raina. Termasuk Darrel, yang kini menyaksikan secara langsung ditemani oleh wanita yang telah ia lamar seminggu yang lalu.
3 hari sebelum acara lamaran berlangsung.
“Bentar.” Raina menghentikan langkahnya, lagi-lagi ia melihat cincin yang bersemat di jari manisnya, ditatapnya darrel dengan tajam.
“Oke.. oke..” Darrel segera melepaskan cincin itu, dan kembali memasukannya kedalam kotak.
Bugh..
“Aww, sakit Rain.” Ucap Darrel dengan membungkuk karena benar saja Raina meninju perutnya dengan sangat keras.
“Kau tahu? Aku kaget sampai tak bisa mencerna semuanya.” Kesal Raina melipat kedua tangannya didada.
“Kenapa kau kaget?”
“Darrell..” Teriak Raina membuat Darrel angkat tangan. “Kau sebentar lagi melamar Anesa, tapi kenapa kau membuat ulah seperti tadi? Jika ada yang salah paham gimana? Bagaimana jika Raka ataupun papaku melihatnya tadi? Mereka akan salah paham.”
Darrel tersenyum gemas melihat reaksi Raina, ia tahu sebentar lagi akan melamar kekasihnya di Bali, namun ia puas waktu melihat Arga pergi begitu saja tadi, Darrel yang mengetahui Raina tak pernah dekat dengan lelaki lain pun bertindak untuk membuat pelajaran pada Arga karena telah berani membuat Raina menangis.
Kini Arga tak pernah menampakan dirinya lagi kehadapan Raina dan waktu pertunangan Darrel pun tiba, mereka semua pergi ke Bali, namun selama mereka di Bali Raina masih saja murung, Hingga akhirnya Darrel pun membuat keputusan dengan mendatangi Arga.
“Arga..”
Arga terkejut mendapati Darrel mengunjunginya di cafe. Ia pun mempersilahkan Darrel duduk dan kini mereka saling berhadapan.
Hening..
Diantara mereka tak ada yang memulai percakapan, sampai datanglah Abi menyodorkan 2 cangkir kopi kehadapan 2 lelaki yang hanya bergeming dengan pikiran mereka masing-masing.
“Apa sebenarnya tujuanmu?” Tanya Arga memulai pembicaraan, ia sungguh tak mengerti dengan maksud Darrel yang datang tiba-tiba tanpa bicara sama sekali.
“Aku hanya tidak ingin ada kesalah pahaman antara kita.” Darrel bangkit dan memberikan selembar kertas undangan pada Arga.
Arga mengambil kertas itu, dan mengamatinya, tertulis jelas nama Darrel disana namun bukan Raina mempelai wanitanya.
“Raina..” Gumam Arga ingin segera menghampiri Raina.
Belum juga Arga melajukan motornya, ia melihat Raina sedang duduk dekat kaca di lantai dua.
Raina tersentak saat Arga duduk di depannya dengan memberikan selembar kertas undangan padanya, wajahnya seakan meminta penjelasan.
“Kenapa harus ketemu lagi sih?” Kesal Raina dengan gumaman namun ternyata didengar jelas oleh Arga.
Ucapan Arga sontak membuat Raina membulatkan matanya, bagaimana mungkin?
“Enggak percaya?” Tanya Arga melihat raut wajah Raina, namun kembali dengan sifat Raina yang dulu, ia tak menanggapi.
“Apa maksudnya ini?” Tanya Arga menunjuk kertas undangan yang tergeletak dimeja.
Lagi-lagi Raina mengernyitkan keningnya.
“Astaga Rain, please jawab ini jangan buat aku bingung. Jadi selama ini kamu tidak menjalin hubungan dengan cowok itu?”
“Raina aku sedang bertanya padamu.” Geram Arga karena Raina tak kunjung menjawab pertanyaannya, Arga mengambil paksa ponsel Raina dari genggamannya.
“Balikin hape gue Ga.”
“Jawab dulu pertanyaanku, apakah benar kamu gak menjalain hubungan dengan dia?” Arga menekankan kata Dia, rasanya ia malas menyebut nama Darrel.
“Udah lah Arga.. itu gak penting, ngapain kamu urusin?” Jawab Raina santai merebut paksa ponselnya.
“Gak penting katamu?” Bentak Arga, Jujur Raina kaget serta takut.
“Rain..” Arga melembutkan kembali suaranya saat ia menyadari kesalahannya.
“5 tahun aku menahan semua rasa ku padamu.. dan setelah itu kamu hadir kembali membuat aku susah untuk menahannya namun disaat aku ingin kembali berusaha, cowok itu kembali datang padamu, aku kira malam itu kamu benar-benar sudah jadi miliknya Rain...” kesal Arga yang sudah tak bisa ditahannya lagi.
“Dan kini dia datang padaku memberikan ini.” Sambung Arga menunjukan kertas undangan dari Darrel.
Hening…
Hening…
“Apa penting jika aku jelaskan padamu disaat kamu juga sudah bersama yang lain Arga?” Tanya Raina lirih saat Arga bangkit dari duduknya.
“Aku tak ingin menjadi perusak hubunganmu dengan Jasmine, kalian sudah cukup lama bersama.” Sambungnya sebelum Arga menjawab.
“Kamu salah paham Rain.” Jelas Arga.
Raina tersenyum samar.
“Salah paham katamu? Mungkin memang awalnya aku salah paham padamu, namun saat aku melihat dan mendengar dengan jelas malam itu, itu bukanlah salah paham Arga.” lirih Raina menunduk dalam.
“Rain, demi apapun… itu adalah salah paham.” Jelas Arga mendekati Raina.
“Udah Arga, aku rela jika kamu…”
“Aku yang gak rela.” potong Arga membuat Raina berhenti bicara.
“Malam itu adalah malam dimana Jasmine berulang tahun, aku ada disana karena keluargaku di undang semua. Dan ternyata kedua orang tua kita membuat perjodohan, kau tau siapa yang akan di jodohkan oleh papa waktu itu?”
Raina diam menatap Arga, kali ini ia akan mendengarkan semua penjelasan dari mulut lelaki ini.
“Dhafin.”
“Kak Dhafin?” Ulang Raina tak percaya.
“Iya, papa berniat menjodohkan Dhafin pada Jasmine, namun ternyata keluarga mereka salah paham, mereka beranggapan bahwa aku yang akan dijodohkan dengannya. Aku tahu Jasmine menyukaiku, namun aku tidak bisa membalasnya. Karena hatiku sudah ada dirimu Rain, dari dulu sampai sekarang tak pernah bisa berubah.”
"Lalu kedekatan kalian selama ini apa?"
"Aku hanya berteman gak lebih. Aku mohon percaya padaku." Ucap Arga memelas menarik kedua tangan Raina.
Raina tahu kesalahannya adalah tak mau mendengar penjelasan dari orang lain maupun dari orang yang bersangkutan dengannya, dan itu membuatnya terjebak dalam pikirannya sendiri. Namun kini ia bisa bernafas lega karena bisa kembali dengan lelaki yang sering membuatnya jengkel namun ternyata sifat Arga itulah yang bisa membuat hatinya terbuka. Dan Arga, dengan pongahnya dulu ia berkata akan menaklukan Raina, namun ternyata malah dirinya yang ditaklukan oleh Raina. lelaki itu bisa setia menunggu Raina 5 tahun, padahal dahulu ia terkenal suka gonta-ganti wanita.
Ini bukanlah akhir dari perjalan hidup dan cinta Raina, namun disinilah kisah mereka akan kembali dimulai, dimana sebentar lagi mereka akan hidup seatap untuk selamanya, ya…. semoga saja selamanya.
TAMAT.
🍃Kesalah pahaman bisa membuat suatu hubungan merenggang. Cobalah untuk mencari kejelasan yang lebih jelas dan terang sebelum kalian memutuskan sesuatu yang bisa saja merugikan diri kalian sendiri.
TERIMA KASIH YANG SUDAH BERKENAN MEMBACA DAN KASIH LIKE SERTA KOMEN NOVEL SAYA.
SALAM HANGAT😊
SEMOGA KALIAN SUKA DENGAN KARYA SAYA.