RAINA

RAINA
Chapter 53



Cuaca pagi hari masih saja mendung serta udara dingin dari AC membuat Raina memeluk erat guling yang begitu menghangatkannya. Kepalanya menyusup pada bawah lengan Arga. Merasa ada yang mengganggu tidurnya Arga mengerjapkan matanya perlahan dan menoleh ke arah kepala yang berada di dada bidangnya. Berkali-kali Arga mengucek matanya dengan satu tangan yang bebas untuk memeperjelas penglihatannya.


Ingatannya menerawang pada mimpinya semalam, dimana Raina datang mengajaknya pulang hingga mereka berciuman. Arga menggeserkan tubuhnya untuk melihat siapa yang berani tidur di ranjangnya. Karena gerakan Arga, tidur Raina terganggu hingga ia menggeliat tanpa membuka matanya.


Raina mengusap-usap guling keras namun menghangatkannya, terlihat ia mengerutkan alis dan matanya seketika terbuka sempurna mendapati ia memeluk tubuh Arga yang setengah telanjang. Raina bangun dengan kedua tangan yang menutup mulutnya. Ia sibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan ia tersenyum lega ketika ia masih mengenakan pakaian semalam. Arga yang melihat Raina panik hanya menahan senyum sembari pura-pura tidur kembali.


Jadi semalam bukan mimpi? Raina datang ke gue dan dia..... Batin Arga menahan senyum kegirangan.


Kedua mata Arga terbuka ketika ia merasakan telapak tangan lembut menyentuh keningnya. Raina gelagapan, dengan cepat Arga menahan tangan Raina.


“kamu ingin pergi?” Tanya Arga melihat tubuh Raina menjauh.


Seakan terhipnotis oleh Netra hitam Arga, Raina menggelengkan kepalanya dengan cepat membuat Arga menarik bibirnya sempurna.


“Kau tak bisa pergi dariku, kau ingat perkataanku kemarin?”


“Kamu.. ” Perkataanya tertahan melihat sebagian tubuh Arga yang polos tak terbungkus pakaian, merasa wajahnya memanas Raina tersadar dan segera melepaskan cekalan tangan Arga berlalu keluar kamar.


Baru saja ia membuka pintu tubuhnya terpaku melihat Cintya, Rizki dan Rico tidur bersama di lantai yang hanya di alasi karpet bulu tipis. Rasa bersalah menyelimuti hatinya hingga ia mengurungkan niatnya untuk memarahi Rico dan Rizki. Ia tahu pasti mereka berdua yang memindahkannya.


“Kenapa masih di sini?” Tanya Arga memeluk Raina dari belakang ketika ia sudah mengenakan kaos putih polos dengan wajah yang masih basah karena terburu-buru.


“Lepas, berani sekali kamu..” Bisik Raina tak ingin mengganggu temannya yang masih tetidur.


“Aku?” Menunjuk dirinya sendiri. “Bukannya kamu yang udah berani menci…” Belum sempat Arga melanjutkan bicara, mulutnya sudah di bekap oleh sebelah tangan Raina.


“Sssttt” Raina menyuruh Arga untuk tak bicara. Raina melepaskan tangannya ketika Arga mengangguk setuju.


“Kamu tak ingat jika semalam kamu yang sudah menciumku duluan?” Tanya Arga keras ketika Raina berlalu.


Tangannya sudah siap untuk melemparkan sandal yang ia pakai ketika Arga tertawa, Rizki dan Cintya terbangun mendengar suara yang berisik dengan bersamaan mereka meregangkan tangannya. Raina memakai kembali sandalnya dan pergi menuju kamar mandi dapur untuk membersihkan wajahnya.


“Lo udah baikan Ga?” Tanya Cintya mengekori langkah Arga dan menyentuh keningnya.


Kepala Arga hanya mengangguk ketika ia sedang meminum air.


“Kenapa kalian bisa di sini?”


“Panjang ceritanya, syukur lo udah baikan.” Tutur Rizki meminum air putih dari Cintya.


“Kalian?” Tanya Arga melihat Cintya yang perhatian pada Rizki, karena ia tak pernah melihat Cintya perhatian pada yang lainya kecuali pada dirinya.


Cintya mengangguk dengan mengulum senyum, membuat Arga tertawa dan ia segera memeluk Cintya dan mengecup pucuk kepala Cintya.


“Bahagiakan dia oke!.” Titah Arga pada Cintya.


“Kok gue? Harusnya lo ngomong ke dia.” Tukas Cintya memberengut.


“Gue udah yakin kalo dia bakal bahagiain elo..” Tutur Arga mengacak rambut Cintya.


Melihat kemesraan Arga pada Cintya membuat hatinya terasa di remas dengan keras.


“Eehemm..” Raina berdehem untuk menghilangkan kecanggungan.


“Rain, pasakan lo semalem enak.” Ujar Rizki mengulas senyum.


“Tuh kan marah, elo sih maen makan aja.” Ujar Cintya pada Rizki menuju ruang tv.


“Kok gue? Si Rico yang makan.”


“Bangun lo…” Rico langsung terbangun karena Rizki menendang kakinya dengan kuat.


"Brengsek" Rico melempar bantalnya ke arah Rizki.


“Apa dia cemburu ya tadi lo peluk gue?” Tanya Cintya pada Arga yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Siapa yang cemburu?" Tanya Rico menguap dan mengucek matanya.


“Mau kemana lo?” Tanya Arga menahan tubuh Raina yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Dengan cepat Arga mendorong tubuh Raina untuk kembali masuk ke dalam kamar.


“Arga.. kamu apaan sih?” Tanya Raina melihat Arga mengantongi kuncinya setelah ia mengunci pintu kamarnya dari dalam.


“Aku udah bilangkan kan kalo aku gak akan biarin kamu pergi.”


Langkah kakinya terhenti di ujung Ranjang, Arga pun menghentikan langkahnya di depan Raina. Kedua tangannya menangkup kedua lengan Raina.


“Arga kamu mau ngapain?” Tanya Raina lirih dengan jantungnya yang bergemuruh karena tatapan Arga yang tajam dan sulit di artikan.


Kedua sudut bibir Arga terangkat sebelum ia mengecup bibir Raina sekilas.


“Kamu..” Suara Raina tercekat seakan tenggorokannya terasa kering.


“Kamu jangan cemburu, Cintya bukan siapa aku. Dia udah jadian sama Rizki.” Tutur Arga mengembangkan senyum cemerlangnya.


“Siapa yang cemburu?” kedua alis Raina mengkerut.


“Kamu..”


“Aku?” Tanya Raina menunjuk dirinya.


“Iya kamu.. kalo gak cemburu kenapa kamu kayak marah dan buru-buru pulang?.”


“Hahahaha… Aku cemburu?” Ulangnya kembali sembari tertawa.


“Aku hanya kesal. Pasti mereka yang sudah memindahkanku ke ranjang. Berani-beraninya mereka.” Ucap Raina geram menahan kesal.


“Karena itu?” Raina mengangguk, “Jadi bukan karena kamu cemburu?” Raina menggeleng.


“Menurutmu karena aku cemburu? Yang benar saja? Aku hanya takut tiba-tiba keluargamu datang ke sini dan melihatku tidur di ranjangmu. Pasti mereka berfikir yang macam-macam.”


“Mereka takkan pernah kesini, Kau tunggu di luar aku mandi dulu.” Ujar Arga memberikan kunci kamarnya.


“Jangan pulang sebelum aku selesai mandi!” Tukas Arga berlalu le kamar mandi.


Raina menggenggam kunci kamar dan termenung melihat perubahan wajah Arga ketika ia mengungkit keluarganya.


Jangan lupa dukungannya..


Jika suka like, komen, vote dan rate ya😁