
"Lo sakit Ga?" Tanya Cintya pada Arga sembari menempelkan telapak tangannya pada kening Arga.
"Enggak." Arga terus saja tersenyum melihat ponselnya, Rizki dan Rico sangat penasaran dengan apa yang membuatnya senyum-senyum sendiri seperti orang gila, begitu pun dengan Cintya.
Setiap Cintya berusaha mengintip Arga terus saja menjauhkan ponselnya dari jangkauan matanya.
“kita kan lagi kumpul, bisa gak sih lo gak main hape dulu.” Ujar Cintya menghempaskan tubuhnya di sofa dengan kesal karena terabaikan oleh Arga dan yang lainnya.
Seketika mereka menoleh pada Cintya, Rizki yang sedang memetik gitar langsung menyimpan gitarnya dan mendekati Cintya, sedangkan Arga dan Rico sibuk dengan ponsel mereka.
"Arga, Rico..." Teriak Cintya.
"Ckk.." Arga hanya berdecak kesal, ia menyimpan ponselnya begitu saja dan Cintya melihat foto wanita tidur sebagai wallpaper ponsel Arga.
***
"Non ada den Rangga di bawah." Mbak Ana mengetuk pintu kamar Raina.
"Suruh dia pulang, aku gak mau ketemu sama dia." Ujar Raina berteriak dari dalam kamarnya.
"Udah mbak suruh, tapi dia kekeuh gak mau pulang sebelum ketemu sama non katanya." Sahut mbak Ana.
Raina membuka pintu kamarnya, turun ke bawah menemui Rangga dengan muka kesal. Rangga yang melihat Raina turun berusaha tersenyum meski bibirnya masih sakit, ia melihat Raina begitu cantik memakai hotpants dan kaos longgar, rambut di cepol asal dan kaca mata bertengger di hidung mancungnya, Rangga berpikir pasti Raina sedang belajar.
"Sorry ganggu waktu lo Rain." Rangga bangkit ketika Raina berdiri tak jauh darinya.
"Gue gak punya banyak waktu, cepetan ada lo kemari?" Ketus Raina.
"Gue mau minta maaf, dan thanks lo gak bawa masalah kemarin ke polisi.. gue lakukan semua itu karena gue terlalu cinta sama lo, gue ingin miliki lo selamanya, gue gak mau ada cowok lain yang deketin lo Rain." Lirih Rangga.
"Dan sekarang gue sadar kalo perbuatan gue kemarin akan membuat kita semakin menjauh, gue harap lo maafin gue dan tak menjauhi gue Rain, gue mau kita bersama meski tak menjadi pasangan, kita bisa berteman bukan? Dan maafin gue.."
"Gue udah maafin lo, sekarang lo bisa pulang."
"Beneran Rain?" Rangga berusaha mendekati Raina.
"Hmm." Raina mundur dan menatap wajah Rangga yang biasanya tampan sekarang banyak lebam akibat pukulan Arga, ia menjadi kasihan padanya, tapi tetap saja ia masih kesal.
"Ya udah gue pulang, besok gue bakal antar jemput lo sekolah sebagai tanda permintaan maaf gue, gue beneran Rain, gue gak bakal ngulangin yang kemarin, gue janji." Ujar Rangga semangat.
"Asal jangan ada yang labrak, nanti gara-gara lo jemput gue." Ujar Raina, ia mencoba untuk percaya pada Rangga.
"Oh iya, ini bunga buat lo, dan itu ada brownis kukus kesukaan lo, gue beli di tempat biasa." Rangga memberikan bunga dan dan sekotak brownis pada Raina dan ia berlalu keluar.
Raina menyimpan pemberian Rangga di meja dan pergi ke kamarnya lagi, ia kembali mengerjakan tugasnya.
***
Sesuai janjinya Rangga sudah standby di depan gerbang rumah Raina, Raina segera menghampiri Rangga setelah di beri tahu oleh mang Didi, ia naik ke atas motor Rangga.
Setelah sampai di depan sekolah Raina melihat Sandi masuk membonceng Sania, ia mengejar Sandi dan pergi begitu saja meninggalkan Rangga.
Arga yang sudah berada di parkiran sekolah mengepalkan tangannya ketika melihat Raina di antar oleh cowok yang kemarin sempat melecehkannya, bahkan Rico dan Rizki sempat melongo melihat Raina bersama kembali dengan cowok itu.
"Ayo Ga." Cintya bergelayut manja pada lengan Arga.
Arga segera pergi menuju kelasnya melewati Raina yang sedang bersama Sandi dan juga Sania, kini Sania terlihat mulai menerima kedekatan Sandi dan Raina.
"Rain sorry ya, gue kemarin gak suka liat lo deket sama Sandi."
"Ya, gue juga sorry ngerebut temen lo." Raina tertawa melihat Sania mencebikan bibirnya.
"Gue gal bakal rebut calon pacar lo, tenang aja.. gue dukung kalian okey." Raina mengerlingkan matanya pada Sania.
"Tadi pacar lo Rain?"
"Bukan, dia cuma temen gue."
"Padahal cakep, gue kira pacar lo."
Sandi duduk di ikuti Raina, Raina melirik pada Arga yang sedang sibuk mengobrol bersama teman-temannya.
"Selamat pagi.." Sapa Bu Indri memasuki kelas.
"Pagi.." Jawab semua murid.
"Buka buku pelajaran kalian, dan kerjakan halaman 50, jika sudah kalian kumpulkan dan antar ke ruanagn ibu."
"Arga, ada yang mencarimu, ibu tunggu di ruang kepala sekolah sekarang." Bu Indri keluar dari kelasnya.
Arga segera pergi ke luar kelas sedangkan teman-temannya merasa cemas karena pasti akan ada sesuatu hal terjadi.
Semua murid segera mengerjakan tugas dari bu Indri dan setelah selesai mereka mengumpulkannya di meja guru. Randi sebagai ketua kelas hendak mengantarkan semua buku pada bu Indri karena jam pelajarannya telah usai.
"Rain, bisa minta tolong." Ujar Randi saat berpapasan dengan Raina dari arah toilet.
"Ya.."
"Tolong anterin ini ke ruang bu Indri, gue kebelet."
"Ohh okey.." Raina mengambil buku tersebut dan berjalan ke ruang bu Indri.
"Permisi." Raina masuk ke ruang guru yang terhubung dengan ruang kepala sekolah.
"Maaf, anda tak berhak mengurus hidup saya." Terdengar suara Arga begitu lantang dari dalam ruang kepala sekolah.
"Mau jadi apa kau?" Tanya seorang pria yang terdengar lebih tua dari Arga.
"Anda tak perlu tahu."
"Arga.."
"Kau seharusnya mencontoh kakakmu."
"Maaf, saya tak pernah mempunyai kakak."
"Arga, papa belum selesai bicara."
Raina melihat Arga keluar, dari wajahnya ia melihat Arga menahan amarah, rahangnya mengeras bahkan ia melihat tangannya terkepal kuat.
Arga sejenak menghentikan langkahnya ketika melihat Raina ada di hadapannya, namun ia segera pergi meninggalkan papanya yang terus menggerutu.
"Maafkan atas sikap anak saya pak, dan terima kasih atas tempat dan waktunya."
Raina melihat seorang lelaki paruh baya keluar dari ruang kepsek, ia pergi melewati guru lainnya.
"Rain, bisa ibu minta tolong." Ujar Bu Indri ketika ia hendak pergi dari ruang guru.
Raina mendudukan tubuhnya di kursi menghadap bu Indri, ia mendengar dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut bu Indri.
Jangan lupa dukungannya kakak Readers.
jika suka like, komen, vote dan rate ya ;)