
Raina bangkit berdiri ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur dan ia masukan ke dalam cluth bag nya.
Adrian menunggu di sofa sambil melihat email di ponselnya, Raina menghampiri Papanya dan ia berdiri di samping Adrian.
"Ayo pa.." Ajak Raina.
Adrian menatap penampilan anak gadisnya, ahh anak gadisnya sudah besar, ia terlihat cantik dan dewasa dengan penampilan seperti ini.
"Kenapa pa? Menor ya?" Raina mengusap pipinya karena Adrian terus menatap dirinya.
"Putri papa sudah besar, papa gak nyangka." Adrian memeluk anak gadisnya dan ia mencium puncak kepala Raina.
"Papa nanti kemalaman." Rengek Raina karena Adrian tak melepas pelukannya.
"Ahh iya, ayo.. kamu belum makan Rain." Adrian tersadar kalo Raina dari pulang belum menyantap makanan.
"Emhh Rain ambil roti dulu, papa tunggu di mobil." Raina berjalan menuju meja makan dan ia mengambil selembar roti dan memakannya sambil berjalan.
Adrian mengelengkan kepala dengan kelakuan anaknya, ia tersenyum saat Raina masuk kedalam mobil.
Mobil yang di kendarai Adrian dan Raina berhenti di perumahan kawasan elit jakarta pusat.
Raina turun dari mobil setelah pak Anton membukakan pintu untuknya.
Adrian menyuruh Raina untuk menggandeng tangannya,Raina hanya menurutinya dan ia masuk bersama Adrian ke dalam rumah yang begitu megah bak istana.
Terlihat sekali banyak orang yang sudah berumur berkumpul, entah mereka sedang membicarakan apa Raina hanya mengikuti langkah Papanya menghampiri pasangan yang sudah berumur.
"Selamat malam Tuan dan nyonya." Sapa Adrian pada pemilik acara.
"Ahh Adrian, terima kasih sudah datang." Lelaki berumur yang di jabat tangan oleh Adrian menyambutnya.
"Terima kasih sudah datang." Kini wanita yang sepertinya pasangan lelaki tersebut membalas jabatan tangan Adrian.
"Siapa ini?" Tanyanya saat ia melihat Raina hanya berdiri di sebelah Adrian.
"Ini anak saya, Raina Nyonya." Adrian memperkenalkan anaknya.
"Raina." Raina menyalami mereka dengan mencium punghung tangannya.
"Cantik sekali, saya Mirna dan ini Wijaya suami saya,panggil aku nenek oke!!"
Raina menoleh pada Adrian dan Adrian mengangguk untuk menyutujui kemauan Nenek Mirna dan Kakek Wijaya.
"Baik nek." Raina tersenyum, ia merasa dekat dengan neneknya.
"Iya nek." Raina menjawab tanpa melepaskan senyuman manisnya.
"Aku juga mempunyai cucu lelaki, sepertinya seumuran denganmu." Ujar Nenek Mirna pada Raina.
"Ahh itu dia datang." Nenek Mirna tersenyum dan berjalan meninggalkan Raina untuk menyambut cucu kesayangannya.
Terlihat Arga berjalan mengenakan jas semi formal berwarna biru dongker memeluk Nenek Mirna dan ia memberikan kotak beludru berwarna merah pada Nenek Mirna.
"Kenalkan ini cucu kesayangan saya." Nenek Mirna memperkenalkan Arga pada Adrian dan Raina.
Adrian menyambut uluran tangan Arga sedangkan Raina hanya menatap Adrian tanda tidak percaya, Raina tersadar ketika Adrian mengusap lembut lengan atasnya yang terbuka.
Arga tersenyum menatap Raina, Raina pun tersenyum manis membalas Arga, Arga melihat keterpaksaan di senyuman Raina dan ia menyukainya.
"Aku sudah mengenalnya oma." Arga berkata pada Nenek Mirna
"Benarkah?" Nenek mirna terkejut seakan tak percaya.
"Dia teman sekelasku, dia itu sangat.."
"Ah..semuanya, Rain permisi keluar sebentar karena ada yang menelfon." Tutur Raina memotong petkataan Arga karena takut Arga berkata yang tidak-tidak tentangnya.
Arga tersenyum, Raina hanya mentapnya sengit ia pura-pura menerima telepon dan bergegas keluar dari dalam ruangan menuju kolam renang dekat dengan taman di samping rumah Nenek Mirna.
Raina duduk di kursi ayunan panjang yang terbuat dari kayu jati dan ia memasukan kembali ponselnya ke dalam tas, Raina menatap bulan yang begitu penuh menampakan cahayanya dan ia tersenyum.
"Ternyata lo cantik jika senyum." Arga duduk di sebelah Raina.
Raina tak menyahuti perkataan Arga, ia hanya diam menatap langit malam. Hening, Arga hanya diam dan melakukan apa yang di lakukan oleh Raina.
Kruuucccuukk.
Raina menutup perut yang berbunyi dengan kedua tangannya, wajahnya memanas dan pastinya memerah karena malu.
Arga menahan tawanya saat mendengar cacing di dalam perut Raina berdemo ria, ia bangkit berdiri meninggalkan Raina.
"Keterlaluan." Raina menggerutu kesal dengan Arga yang menertawakannya.
Jangan lupa dukungannya kakak Readers.
jika suka like, komen, vote dan rate ya kakak readers kesayangan ;)