
"Gue gak nyangka cuma karena lo putus sama Rangga lo bisa berubah drastis kayak gini."
"kemarin lo berpenampilan kayak cewek gak bener, sekarang lo berlaku tak sopan. Jika lo kecewa pada Rangga harusnya lo buktiin ke dia lo berubah lebih baik dari sebelumnya bukan malah merusak diri lo sendiri.Gimana perasaan Papa jika tau anak kesayanganya berlaku tak sopan.Gue kecewa sama lo Rain."
Tukas Raka meninggalkan Raina yang sesegukan.
Ini pertama kali Raka marah besar padanya, ia tahu perbuatannya memang salah namun ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya. Raina tak ingin tertipu dengan wajah-wajah munafik orang lain, Dia ingin bisa bersikap acuh agar ia tak di manfaatkan oleh orang lain.
Raina segera berlari menaiki anak tangga menuju rooftop tempat kesukaanya sekarang. Ia duduk melutut setelah sampai dan menangis dengan pearasaan sedih ketika mengingat kata-kata terakhir Raka.
Raina mengutuki kebodohannya, benar kata Raka, seharusnya ia berubah menjadi lebih baik, bukan malah merugikan dirinya sendiri.
Raina menghentikan tangisnya ketika ia melihat sepasang sepatu berdiri tepat di hadapannya, Ia menengadahkan wajahnya, terlihat Arga menyodorkan tisu padanya.
Raina menerimanya,dan menghapus air matanya yang masih tergenang di wajahnya. Ia betanjak berdiri dan membersihkan lututnya yang kotor.
Arga bergeming,kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya, melihat penampilan Raina ketika merasa ada perbedaan dengan hari kemarin. Ia tersenyum, ternyata laki-laki tadi begitu berpengaruh terhadap Raina.
"Gue suka penampilan lo kayak gini" Ucapnya berkomentar.
Raina melayangkan tatapan sinisnya, sebelah sudut bibirnya terangakat.
"Lo suka dengan gue nangis kayak gini?"Seru Raina ketus.
"Seragam lo, lebih menarik sekarang"Tuturnya untuk menghindari kesalah pahaman.
Raina mendudukan tubuhnya, ia terlihat berantakan sekarang, wajahnya sendu, kedua matanya sembab terlihat sekali habis menangis hingga semua perhatian tertuju padanya.
"Lo dari toilet lama banget" seru Rico melihat kedatangan Arga.
Arga tak menanggapi rico, ia membawa tasnya dan pergi begitu saja. Rico dan Rizki Langsung menyambar tas mereka dan berlari mengikuti Arga, mereka sudah terbiasa dengan bolos. Cintya hanya geleng-geleng kepala, karena sekarang mendekati ujian jadi kali ini ia tak ingin mengikuti mereka.
***
"Ga gue tadi liat mata si Rain sembab gitu, kayaknya tuh cewek abis di marahin bu Indri deh" Seru Rizki saat ia sudah berkumpul di rumahnya.
Rumah Rizki adalah basecamp bagi mereka karena dekat dengan sekolah dan karena Rizki hidup sendiri, orang tuanya berada di luar kota jadi mereka bebas melakukan sesuatu termasuk membawa wanita manapun.
"Si Rico kemana?" tanyanya saat ia tak kunjung melihat Rico menghampirinya.
"Biasa lagi *****-***** dia ama ceweknya" Tutur Rizki meminum orange juice nya.
"Kasian banget gue liat wajah sendu si Rain tadi." Tutur Rizki kembali membicarakan Raina.
"Dia di marahi cowoknya, tadi gue liat dia di seret ama cowoknya ke taman trus dia bentak-bentak si Rain di sana." Jelas Arga.
"Kok bisa cowoknya yang datang, biasanyakan guru manggil walinya."
Arga hanya menggedikan bahunya, ia teringat kembali bagaimana Raina tak bisa melawan cowoknya dan hanya bisa menagis sesegukan.