
Nadine duduk sendiri di cafe dalam mall, saat pelayan menyajikan pesanannya lagi-lagi ia melihat Arga yang sedang bersama teman-temanya. Sesekali ia melirik ke arah Arga dan menatap kembali pada ponselnya dimana ia sedang melihat foto Arga.
“Jadi bener itu pacarnya si Rain, ganteng juga..” Ucapnya dengan senyum tipis.
“Sindy…” Gumamnya ketika ia melihat Sindy menghampiri meja Arga.
“Jangan bilang mereka berhubungan? Bukannya dia pacaran sama si Rangga? Lalu perutnya? Dia hamil?” Kagetnya sendiri.
Nadine kembali melihat kapan terakhir Raina memposting foto Arga di ponselnya, dan kembali ia melihat pada perut Sindy yang sudah membesar. Tak mungkin kan mereka selingkuh dari Raina? Pikirnya.
Nadine terus saja mengamati Sindy dan juga Arga dari mejanya, setelah mereka bubar ia pun segera menghabiskan pesanannya dan beranjak pergi.
***
“Raina udah pergi mbak?” Tanya Nadine pada mbak Ana.
“Kapan mbak?” Tanyanya lagi.
“Aku lupa non, pokoknya udah beberapa hari.” Ucap Mbak Ana memegang sapu lidi karena sedang menyapu daun kering di taman kecil rumah Raina.
“Ohh.. ya udah makasih ya.” Nadine pamit dan berlalu pergi. Tujuannya kali ini adalah rumah Rangga, karena ia ingin tahu hubungan Rangga dengan Sindy, seingatnya sbulan lalu mereka masih bersama bahkan karena Sindy pula ia sudah tak bisa bersama Rangga lagi. Rasa sesalnya datang ketika ia menyadari jika Rangga ternyata tak mencintainya, Rangga hanya ingin main-main dengannya.
“Gue gak akan biarin hidup lo bahagia Rangga. Gara-gara lo persahabatan gue dengan Raina ancur.” Gumam Nadine mencengkram kemudinya.
Dari dalam mobilnya ia melihat motor Rangga keluar, Nadine pun tancap gas segera mengikutinya.
“Tumben dia ke cafe sendiri.” Gumam Nandine memarkirkan mobilnya di area cafe.
“Sindy?” Nadine melihat Sindy datang sendiri masuk ke dalam cafe.
Saat ia ingin keluar dari mobil ia tersadar dengan kejadian dimana ia memergoki Rangga dan Sindy sedang makan dan hal yang terjadi adalah Sindy mempermalukannya di depan umum, ia tak ingin mendapat malu lagi, apalagi jika mereka tahu Nadine mengikutinya bakal besar kepala si Rangga.
“Ada gunanya juga gue beli ini, sorry dek gue pinjem dulu.” Ucap Nadine sendiri memakai topi dan jaket hoody yang sempat ia beli untuk adiknya tadi.
Nandine segera keluar dari mobil dan berjalan cepat seperti berlari kecil, ia masuk dan memilih tempat duduk yang dekat dengan Rangga tepatnya dia duduk di belakangnya.
“Gimana kabar calon suami lo?” Tanya Rangga pada wanita yang sedang makan di hadapannya.
Nadine penasaran siapa sebenarnya Arga buat Sindy dan kenapa Rangga masih bersama Sindy. sebenarnya Rangga menjalin hubungan seperti apa dengan Sindy? apakah mereka berteman? atau mantan atau memang selingkuhan?
“Ya gitu deh.” Jawab Sindy santai.
“Untung juga ya ada yang mau nikahin lo.” Ucap Rangga di barengi seringaian jahat.
“Kalo bukan karena gue yang cerdik, mereka pasti masih bersama.”
“Ya..” Ucap Rangga meminum kopinya sembari memikirkan Raina. “Lo gak kasian sama si Arga?” Tanya nya lagi sembari menyimpan cangkir kopi ke meja.
“Enggak, lagian juga sekarang dia percaya kalo ini anaknya.”
Nadine membulatkan matanya, jadi anak yang di kandung Sindy bukan anaknya Arga? apa anak itu anak nya Rangga? tapi kenapa bukan dia yang menikahinya? kenapa malah Arga? pertanyaan demi pertanyaan hadir dalam pikirannya.
“Emang dasar licik lo.”
“Trus gimana kabar bapaknya tuh bayi?”
Lagi-lagi Nadine tercengang, kalau bukan Arga dan Rangga juga bukan lalu siapa? sebenarnya Sindy wanita seperti apa? Nadine hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Entah, gue juga gak tau.”
“Untung gue selalu inget pake pengaman, kalo enggak gue juga pasti kena kelicikan elo.”
“Lo sendiri gimana sama si Rain? Udah lo dapetin?”
“Susah buat dapetin dia Sin, andai gue gak tergoda sama temennya mungkin sekarang gue masih sama dia dan mungkin….”
Brengsekk.. lo yang goda gue duluan bajingan, enak aja gue yang goda lo.. bukannya lo yang selalu datang diam- diam ke gue di saat si Raina gak bisa lo ajak jalan, rayu-rayu gue buat dapetin apa yang lo mau. dan sekarang lo malah ninggalin gue gitu aja. Lagi-lagi Nadine kesal.
“Buaya bisa juga kena getahnya.”
“Dia beda dari cewek lainnya, waktu culun aja dia itu udah menarik apalagi sekarang udah cantik makin menarik dia.”
Untung aja si Raina langsung dapat si Arga, kalo enggak gue gak tahu apa dia bisa jaga diri atau tidak. syukurin lo, lo harus ngerasa gimana rasanya cinta lo bertepuk sebelah tangan. Nadine tersenyum mendengar Raina tak mudah di dekati dengan meminum kopinya.
“Jadi lo cuma ngincer keprawanannya doang?”
“Awalnya, tapi gue sadar kalo gue cinta sama dia, dan gara-gara cowok lo dia ninggalin gue.” Kesal Rangga.
“Sialan lo, lo juga waktu itu sama gue.”
“Gue gak pernah puas sama satu cewek, bukannya lo tau?”
Iya dan sekarang gue sadar kalo lo cuma ngincer lobang buat buaya lo. Astaga gue kesel.. pengen nyiram mukanya dengan kopi panas gue.. Batin Nadine meremas gelas panas di depannya.
“Lo emang rajanya buaya.”
“Dan lo adalah ratunya HaHaHaHa” Rangga tergelak.
Prokk… Prokk.. Prokkk…
“Bagus ya, ternyata benar kan lo yang udah rubah hasil tes itu.”
Nadine kaget dengan suara yang ia dengar, begitu pun dengan Sindy dan Rangga. Mereka tak menyangka Rangga ada di cafe yabg sama.
“Arga? Kenapa kamu di sini?” Kaget Sindy berdiri mendekatinya namun Arga mundur beberapa langkah menjauhinya.
“Kenapa? Ini tempat umum dan siapa pun berhak berada di sini.”
“Dan gue udah denger semuanya, pernikahan kita bisa batal.” Sambung nya lagi. Arga benar-benar muak dengan Sindy, ia tak menyangka sama sekali dengan Sindy.
“Oh ya?” Tanya Sindy duduk kembali dengan santai dan menyesap minumannya.
Arga mengernyit heran.
“Lo mau bilang apa buat batalin semuanya? Yang gue tau bokap lo gak akan pernah setuju.” Sindy memdingak dengan seringaian jahatnya.
“Gue bisa bilang semua yang gue denger.” Ucap Arga tak mau kalah.
“Emang mereka bakal percaya ucapan lo?” Tanya Sindy menantang.
Rangga tersenyum tipis melihat Arga yang langsung terdiam. ia begidik ngeri pada Sindy teman tapi mesranya. Untung saja ia tahu jika Sindy pun sama dengan nya makanya ia tidak bisa terjebak dengan kelicikan wanita yang duduk di hadapannya.
“Sayang banget lo gak bisa buktiin ucapan lo kan?” Tanya Sindy mengambil tasnya dan keluar di ikuti oleh Rangga.
"Lebih baik kita nikah aja dari pada lo di coret dalam daftar warisan keluarga lo, lo gak cinta sama gue juga gak pa-pa karena gue masih bisa dengan laki-laki lain meski menjadi istri lo." Ucap Sindy berbisik pada telinga Arga.
“SHITTT” Umpat Arga melemparkan topinya, kenapa ia tak kepikiran untuk ngerekam ucapan mereka.
“BODOH…” Arga keluar dari cafe dengan persaan kesal, ucapan Sindy benar, akan percuma ia bicara jika tak ada bukti.