
Arga termenung di dalam kamarnya yang gelap, meski mentari sudah menampakan sinarnya tapi tak membuat manusia yang sedang galau ini berniat untuk melihatnya.
Entah karena apa Arga tak tidur semenjak pulang dari bandara, rasa kantuknya seolah tak ingin menghampirinya hingga mata elangnya terus saja terbuka.
Arga menatap ponsel dalam genggamannya, melihat akun sosial medianya Raina, sesekali ia tersenyum dan sesekali senyum itu luntur. Orang yang ia cintai pergi meninggalkannya.
"Kenapa orang yang gue sayang pergi?" Gumam Arga membanting ponselnya dengan keras.
Arga tau Raina pergi bukan untuk selamanya, tapi sayang meski ia ada di dunia ini Arga tak bisa menggapainya. Cintanya telah pergi, Raina berbiat untuk melupakannya.
Mendengar ada barang jatuh Rizki dan Rico terbangun dari tidurnya, mata mereka mengerjap bersamaan dan melihat ruangan yang gelap dengan sedikit cahaya dari sinar mentari yang masuk melalui celah tirai gorden.
Rizki turun dari ranjang dan segera membuka tirainya hingga sinar mentari yang menghangatkan bumi masuk ke dalam menyinari kamar yang mereka tempati. Rizki merenggangkan tangannya ke atas dengan menguap, melihat Arga hanya diam saja ia segera mengecek ponselnya, sedangkan Rico malah menutup wajahnya dengan bantal karena merasa silau dari sinar mentari pagi.
Rizki segera masuk ke kamar mandi langkahnya terhenti melihat ponsel Arga yang tergeletak di lantai sudah tak berbentuk. tubuhnya membungkuk mengambil ponsel yang retak dan menyimpannya di atas nakas setelah itu berlalu untuk membersihkan diri.
Sedangkan Rico masih setia dengan melanjutkan mimpinya, Arga hanya terdiam duduk di tepi ranjang meski sebenarnya ia kesal dengan kehadiran kedua sahabatnya, entahlah kesal karena apa.
Rizki keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, sedangkan kedua tangannya sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Ia membuka lemari Arga dan mengambil T-shirt yang hanya berwarna hitam, putih dan juga abu-abu. Mereka bersahabat sejak SMP jadi ia tak perlu sungkan untuk meminjam barang milik sahabatnya.
***
“Kemana si Arga?” Tanya Cintya pada Rizki sembari mengeluarkan makanan yang ia beli tadi di resto dekat apartemen.
“Di kamar, gak tidur dia.” Ujar Rizki.
Cintya menghentikan aktifitasnya, ia mberjalan menuju kamar Arga dan melihat Arga yang hanya duduk dengan sedikit membungkuk.
“Ga..” Panggil Cintya.
Cintya menghembuskan nafas kasar. ia mengambil remote AC dan menaikan suhunya hingga terasa panas membuat Rico menghempaskan selimutnya.
“Percuma Sin, semuanya udah terlambat.”
“Gak ada yang terlambat, lo juga belum nikah ama si Sindy, mendingan sekarang lo deketin si Sindy siapa tau dapat sesuatu buat ngumpulin bukti kalo bukan lo kan?.”
“Bener tuh Ga, mendingan lo deketin dia.. tadi juga gue udah mau ngomong itu.” Timpal Rico bangun dari tidurnya karena ke usilan Cintya.
“Nyamber aja lo, bantu bersihin nih.” Ujar Cintya memungut sampah snak ringan yang habis mereka makan.
“Laper Sin, lo bawa makanan gak?” Tanya Rico manja dengan mengerucutkan bibirnya pada Cintya.
“Najis banget muka lo.” Cintya pergi membawa sampah keluar.
Rico menurunkan kedua kakinya dan beranjak pergi menyusul Cintya meninggalkan Arga sendiri. Biarkan saja Arga sendiri, semalam ia sudah lelah menemani Arga mabuk. niat hati mereka ingin mencegah Arga malah mereka sendiri yang mabuk hingga tubuhnya tumbang di atas ranjang Arga.
“Wihh enak nih.” Ucap Rico memakan makanan milik Rizki.
“Ihhh Rico lo tuh kalo makan cuci muka dulu, cuci tangan juga, muka bantal lo menjijikan tau gak.” Teriak Cintya kesal karena ulah Rico yang main makan aja makanan orang.
“Ckkk.. Nih Ki lanjutin, gue mandi dulu.” Rico menyimpan kembali makanan yang sedang di makan Rizki di meja dan berlalu.
“Nyebelin banget ishhh..”
“Udah dong Ay biarain aja, kamu kayak baru kenal dia aja.” Sahut Rizki.
Cintya yang masih kesal tak sadar jika ia sedang makan milik Rizki yaitu bekas Rico. Rizki hanya diam menahan senyum.
Happy Reading
Jangan lupa dukungannya😁