RAINA

RAINA
Chapter 88



Dengan langkah semangat Arga keluar dari dalam taxi, senyumnya terpatri di kedua sudut bibirnya yang melengkung ke atas, sejenak ia membenarkan mantel dan menghirup wangi segar dari aroma mawar dan camelia yang sedang ia pegang.


Sebelum sampai ke apartemen matanya tak sengaja melihat toko bunga. Arga turun dari dalam mobil saat ia meminta Raka untuk menurunkannya terlebih dahulu dengan alasan ada keperluan, Raka menuruti kemauannya dan kembali melanjutkan laju kendaraannya meninggalkan Arga seorang diri.


Kring…


Suara lonceng berbunyi tatkala ia membuka pintu kaca, kehadirannya di sambut hangat oleh sang pemilik toko yang sudah berusia lanjut, tangannya tertuju pada kumpulan bunga mawar merah kesukaan Raina, ia mengambil bunga segar tersebut dan segera di serahkan untuk di jadikan buket bunga yang cantik.


“Will apply?” (Akan melamar?) Tanya sang pemilik toko sembari menyerahkan bunga mawar Arga pada wanita muda yang ia yakini sebagai pekerjanya tengah berdiri di sebelah sang pemilik toko.


“No, i just want to meet the woman who is so longing.”


(Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan wanita yang begitu ku rindukan.) Tutur Arga dengan senyum merekah membayangkan pertemuannya dengan Raina hingga senyumnya menular pada kedua wanita di depannya.


“I suggest you deliver pink camelia's.”


(Aku sarankan kamu beli bunga kamelia merah muda.) Ucap wanita pemilik toko menunjukan kumpulan bunga camelia.


“Why?” (kenapa?)


“Don't you miss him?” (Bukankah kamu merindukannya?)


“Pink camelia flower symbolizes someone's longing and is usually given to someone who has been longed for.”


(Bunga kamelia merah muda melambangkan kerinduan seseorang dan biasanya diberikan pada seseorang yang telah lama di rindukan.) Tutur sang pemilik toko menambahkan camelia pink kedalam buket bunga meski Arga belum mengangguk setuju.


Langkah tegapnya berjalan memasuki loby apartemen, Tak butuh waktu lama ia sampai di depan pintu, setelah menekan bel dan menunggu akhirnya Raka keluar bersama Abiela.


“Kami harus keluar sebentar, kamu masuk saja, Raina dan papa ada di dalam.” Ucap Raka menepuk pundak Arga.


Arga masuk kedalam apartemen yang tak begitu luas dan juga tak begitu sempit, ia tak menemukan siapapun hingga samar-samar ia mendengar suara Raina dari arah dapur. Senyum yang selalu mengembang sepanjang jalan harus musnah dan meruntuhkan semangatnya yang menggelora.


Wanita pujaan yang masih ia anggap sebagai kekasihnya sedang bersama pria lain, terlihat jelas Raina berdiri didepan sang pria dengan kedua tangan meremas pinggangnya sedangkan si pria menangkup wajah Raina dengan penuh kelembutan dan wajahnya sedikit miring seperti mereka sedang berciuman.


“Aku akan menyerah jika kamu sudah menemukan kebahagiaanmu.” Arga berbalik tak ingin merusak kebahagian Raina, setelah melihatnya sendiri ia sadar jika dirinya memang tak pantas untuk Raina.


“Om..” Ucap Arga sedikit terkejut karena Adrian sudah berdiri didepannya.


Raina segera melepaskan genggaman tangannya di pinggang Darrel ketika ia mendengar suara yang begitu familiar dan menurutnya tak mungkin ada disini. Darrel melepaskan kedua tangannya dari wajah Raina untuk memegang tangan Raina yang hendak ia pakai untuk mengucek sebelah matanya.


“Rain.. sedang apa kalian?” Tanya Adrian melihat kedekatan anaknya dengan Darrel yang menurutnya tak biasa.


Deg…


Seketika tatapan mereka bertemu ketika Arga berbalik dan mensejajarkan tubuhnya di sebelah Adrian, Raina melihat Arga dari atas hingga bawah tak ada yang berubah dari dirinya hanya saja ia semakin tampan. Begitupun dengan Arga melihat wajah Raina yang semakin cantik dengan polesan make up yang selalu natural.


"Kamu tak berubah Rain, mungkin perasaanmu saja yang telah berubah.” Batin Arga bergeming di tempatnya.


“Siapa dia Rain?” Tanya Darrel setengah berbisik di telinga Raina dengan merangkul bahunya membuat Arga memalingkan wajahnya, terlalu jengah melihat kemesraan mereka.


“Dia..” Jawab Raina tertahan tanpa mengalihkan matanya pada Arga.


“Aku temannya.” Jawab Arga yang sedikit tahu bahasa prancis.


“Hai Rain, lama tak bertemu.” Sapa Arga mendekati Raina dengan mengulurkan tangannya, tak mendapatkan balasan ia pun mengarahkan tangannya pada Darrel.


“Arga.”


“Darrel.” Sahutnya menjabat tangan Arga dengan beradu pandang.


“Darrel bisa antar om ke bawah? Om ingin sekali mampir ke cafe yang di sebrang.” Sahut Adrian mencairkan suasana yang hampir menegang karena kedua pria muda itu tak juga melepaskan tautan tangan mereka.


Dengan terpaksa Darrel mengangguk setuju, padahal hatinya enggan meninggalkan Raina sendiri dengan Arga, pria yang pernah menanamkan luka di hati Raina. setelah mendengar namanya ia tahu jika Arga adalah mantan Raina.