RAINA

RAINA
Chapter 32



Raina berdiri menunggu taxi online nya, ia melihat lelaki mengendarai motor menghampirinya. Pantas saja Raina merasa sangat familiar, ternyata dia adalah Rangga.


Raina berdecak dan memutar kedua bola matanya saat Rangga memberikan senyum manis padanya, kini Raina tak tertarik dengan laki-laki yang seperti Rangga.


"Nunggu jemputan Rain? Pulang bareng gue aja." Ajak Rangga.


Raina hanya memainkan ponselnya, mengecek taxi onlinenya dan sialnya orderannya di cancel membuatnya berdecak kesal.


"Udahlah Rain pulang bareng gue, gue gak bakalan maksa lo buat denger penjelasan atau apa, gue cuma bakalan nganter lo pulang udah gitu aja." Rayu Rangga.


Raina melihat semua murid sudah pada pulang kecuali siswa yang sedang main basket, Raina melihat Arga, gak mungkin juga kan dia ngajak Arga pulang bareng?


"Nganter doang, Lo gak boleh ngomong ama gue!!."


"Iya."


Raina mendekati Rangga dan ia naik di bonceng oleh Rangga, tak ada pelukan dan Raina menyimpan tas ranselnya di depan, ia gak mau mengingat masa-masa dulu bersamanya.


Arga mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih ketika motor yang membawa Raina meninggalkan area sekolah. Rico melihat ke arah Arga memandang namun ia tak melihat apapun, ia menepuk pundak Arga.


"Lo liat apa sih?" Tanya Rico mengelap keringatnya.


"Gue cabut duluan." Arga pergi begitu saja meninggalkan teman-temannya.


Cintya memanggil dan mengejar Arga dan membawa sebotol air mineral, namun sayangnya Arga tak memperdulikannya.


***


"Kok kita ke sini sih?" Tanya Raina karena jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju rumahnya.


"Kita ambil jalan tikus."


"Kita lewati jalan biasa aja." Jawab Raina merasa cemas, namun ia berusaha bersikap tenang.


"Udah tanggung Rain." Rangga hanya tersenyum menyeringai tanpa terlihat oleh Raina.


Rangga berhenti di jalanan sepi, Raina melihat ke sekeliling hanya rumah penduduk yang sudah tak berpenghuni dan tidak ada satu orang pun yang melewati jalan tersebut.


"Aku kebelet Rain." Ujar Rangga.


Raina turun dari motor di ikuti oleh Rangga, namun tanpa di duga Rangga mencengkram lengan atas Raina membuatnya semakin ketakutan.


"Kamu kenapa Rain?" Tanya Rangga santai sedikit menaikan sudut bibirnya.


"Enggak, udah kamu cepetan sana kalo kebelet." Ujar Raina menghempaskan tangan Rangga dari lengannya.


Rangga menatap mata Raina, ia jelas melihat ketakutan di mata indah itu, jemari tangan Rangga terangkat menyentuh pipi Raina dan segera di tepis ole Raina.


Rangga kembali mencengkram lengan Raina dan mendorong tubuh Raina ke tembok kotor, ia mencengkram kuat sehingga Raina tak bisa berontak.


"Lo tau kan Rain, gue begitu sayang dan cinta banget sama lo sampe gue gak mau nyentuh lo, tapi lo malah pergi ninggalin gue begitu aja."


Rangga berucap dengan mendekatkan bibirnya pada wajah Raina hingga harum nafas mintnya tercium oleh Raina.


"Lo yang udah hianati gue." Raina berteriak menutupi ketakutannya, ia sungguh takut Rangga akan berbuat yang tidak-tidak.


"Gue gak cinta sama dia, yang gue cinta cuma lo baby." Rangga hendak mencium bibir Raina.


"Lepas Ga!!" Raina memalingkan wajahnya dan berusaha melepaskan dirinya.


"Lo gak bakalan dengerin gue kalo gak gini, selama gue pacaran sama lo, gue selalu nahan diri agar tidak menyentuh lo." Ucap Rangga sedikit menaikan nada suaranya.


"Rangga ini sakit." Tanpa sadar Rangga mencengkram terlalu kuat membuat Raina meringis.


Raina hendak kabur saat Rangga melonggarkan cengkraman tangannya namun usahanya gagal karena Rangga langsung menghimpit tubuhnya, bahkan kini kedua tangannya terkunci di atas kepalanya.


"Rangga gue mohon lepasin gue, ini sakit." Lirih Raina.


"Gak bakal sakit kok baby, lo bakal menikmatinya nanti."


Rangga mencium leher putih Raina, tangan yang satunya di pakai untuk membuka kancing baju seragam Raina. Karena merasa tidak sabar ia menarik paksa hingga semua kancing bajunya terlepas. Arga menyeringai ketika melihat tubuh mulus Raina, apalagi melihat bagian dada Raina.


"Plis Ga jangan." Raina menggelengkan kepalannya.


Raina berusaha mengerakan kakinya untuk menendang kaki Rangga namun terkunci, Air matanya mengalir saat Rangga menghisap lehernya.


Rangga langsung mendekatkan bibirnya pada bibir Raina namun Raina menolak, ia menggeleng-gelengkan kepala dengan kuat.


PLAakk


Rangga menampar pipi putih Raina hingga meninggalkan bekas merah bahkan sudut bibirnya terlihat berdarah, Raina merasa telinganya berdengung dan kepalanya sedikit pusing.


Rangga langsung mencium bibir Raina dengan kasar, melum*t bibir ranum Raina. Tak ada kelembutan sama sekali, Raina hanya menggelengkan kepalanya lemah karena ia merasa masih pusing.


Rangga membekap mulut Raina saat bibirnya pindah pada dada Raina, air matanya mengalir deras, ia tak bisa berteriak ataupun minta tolong yang ia bisa hanya berdoa semoga saja ada yang menolongnya.


BUG


Rangga terjerembab saat seseorang memukulnya dengan kuat, ia bangkit mencoba melawan namun ternyata ia kalah karena ia tak tetlalu jago dalam bela diri.


Raina duduk berlutut meremas baju unyuk menutupi tubuhnya yang terbuka.


"Lo gak papa kan Rain?"


Raina merasa familiar dengan suara itu, ia langsung memeluk Arga, ia menangis tersedu dalam dekapan Arga.


"Udah, lo tenang, dia gak bakalan berani lagi gangguin lo." Arga mengusap punggung Raina yang bergetar.


Rangga yang melihat ada kesempatan, membawa balok dan ia segera memukul tengkuk Arga membuat Arga dan Raina terjerembab, Raina tak sadarkan diri saat keningnya terkantuk batu, Arga mengusap tengkuknya yang sakit dan merebut balok tetsebut.


Arga memukul Rangga tanpa Ampun hingga Rangga terkapar babak belur.


Jangan lupa dukungannya kakak readers.


Jika suka like, comment, vote dan rate ya kakak ;)