
"Morning semua." Sapa Raina duduk di kursinya.
"Kak tumben lo rapih." Ujar Raina melihat kakaknya yang sudah rapih dengan pakaian casualnya.
"Kan gue mau balik Rain." Ujar Raka mengunyah roti isi selai coklatnya.
"Balik?" Raina mengernyitkan dahinya, ia mengunyah roti yang sudah di olesi selai coklat oleh Raka.
"Iya, gue kan cuma libur belum selesai kuliahnya."
"Kok lo gak bilang sih?" Raina menghentikan aksi mengunyahnya, ia kecewa kenapa kakaknya tidak bicara semalam.
"Sorry, semalam gue liat lo udah tidur, papa juga tdi di kasih tau nya."
"Pa.." Rengek Raina meminta penjelasan, mana mungkin Raka tak bicara dengan papanya.
"Bener sayang, kakakmu baru bilang tadi. Papa juga kaget, papa kira masih lama liburnya." Adrian hanya meminum kopinya dan ia memeriksa email yang masuk pada ponsel pintarnya.
"Kok bentar sih liburnya?" Ujar Raina memanyunkan bibirnya.
Raka hanya terkekeh geli, sebenarnya waktu liburnya masih lama namun ia sudah merindukan kekasihnya.
"Resek ih, malah ketawa." Raina semakin cemberut, bahkan ia tak menghabiskan rotinya.
"Udah, nanti juga kalo udah lulus lo nyusul gue."
"tinggal beberapa bulan lagi kan menuju ujian dan kelulusan." Lanjutnya lagi untuk menenangkan Raina yang masih saja cemberut.
"Iya juga sih." Ujar Raina senyum-senyum ia sudah tak sabar untuk menempuh pendidikan di negara orang.
"Itu juga kalo lo nya lulus Rain." Celetuk Raka membuat Rain kembali kesal.
"Pa.., Kakak Resek ihh." Rengek Raina meminta bantuan pada Adrian.
"Raka, kamu itu sebentar lagi jauh sama adikmu, bukannya senengin dia."
Raina mengejek Raka dengan menjulurkan lidahnya.
"Lo berangkat sekarang juga?" Tanya Raina saat ia melihat jam di tangan kirinya menunjukan pukul 06.30.
"Nanti jam 09 jadwal berangkat gue, jadi sekarang gue bisa anter lo dulu."
"Yeay.. emang lo kakak ter the best deh." Ucap Raina memberikan 2 jempol pada kakaknya.
"Papa berangkat dulu ya." Adrian berkata dan beranjak berdiri, Raina mencium tangan papanya dan tak lupa Adrian pun memberika kecupan di pucuk kepala anaknya yang selalu manja.
Gantian kini Raka yang mencium tangan Adrian,
"Kalo papa gak bisa nganter gak apa kok pa." Raka paham papanya ini sangat sibuk dengan pekerjaannya.
"Nanti hubungi papa jika mau berangkat ke bandara!." Adrian berjalan setelah ia berpamitan dengan anak-anaknya.
Raka dan Rain hanya melihat punggung papanya yang berjalan keluar rumah dengan wajah yang tak terbaca, entah apa yang mereka pikirkan.
"Kak aku kasian sama papa." Ucapnya dengan lirih.
Raka hanya mengernyitkan keningnya, ia menoleh ke arah Raina yang terus menatap ke arah pintu.
"Kok papa bisa ya gak mau nikah lagi?" Tanya Rain setelah ia menatap kakaknya.
"Udah, lo do'ain terus papa biar ia sehat dan di lancarkan selalu rezekinya."
"Aamiinn." Raina mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Raka tersenyum melihat adiknya yang terkadang selalu manja, polos tapi juga kadang juga judesnya gak ketulungan.
"Rain gimana kabar Abi dan Nisa?"
"Baik, Abi sudah bisa bersekolah kembali, tapi tetap saja orang tuanya gak mau kita terus-terusan bantuin mereka, padahal gue pengen banget merenovasi rumahnya." Raina hanya menghembuskan nafasnya mengeluh.
Jangan Lupa like dan komentar kakak Readrs ;)