RAINA

RAINA
Chapter 45



“Kakak..” Suara ketukan di jendela mobil mengagetkan Raina yang sedang melamun di dalam mobil, ia melihat Nisa sedang tersenyum lebar terhadapnya.


“Kok sendiri??” Raina sama sekali tak melihat keberadaan Arga dan juga Abi, kemana mereka?? Padahal Arga menyuruhnya untuk tetap diam menunggu dalam mobil karena katanya ia tak akan lama.


“Bantuin ibu dulu sebentar, abis dede bayinya nangis pas kita mau pergi” Ujar Nisa masuk ke dalam mobil setelah Raina mengajaknya untuk masuk.


Dua puluh menit berlalu mereka masih menunggu sosok 2 lelaki yang berbeda generasi. Nisa terus saja menyuruh Raina menghubungi Arga karena ia bosan menunggu.


“Tuh mereka datang.” Tunjuk Raina pada Nisa ketika melihat Orang yang mereka tunggu datang bersama dengan tersenyum lebar ke arahnya.


“Kakak kok lama??” Tanya Nisa ketika Abi dan Arga berhasil mendaratkan tubuh mereka di jok mobil.


“Tadi dede nangis terus, jadi kakak sama kak Arga yang lanjutin bikin bolu nya.”


Raina tersentak mendengar penjelasan Abi? Arga melanjutkan membuat bolu? Apa ia tak salah dengar? Terus hasilnya gimana? Jangan sampai Arga mengacaukan dapur ibu Wulan.


“Kak Arga hebat loh kak Rain, tadi bolunya gak ada yang gagal waktu di kukus.” Abi seolah tahu pemikiran Raina, ia melebarkan senyumnya mengingat bagaimana Arga dengan telaten memasukan adonan bolu pada cetakan dan juga mengukusnya.


Kepalanya menoleh ke belakang untuk melihat Abi yang sedang menceritakan Arga tadi pada Nisa, setelahnya ia memiringkan tubuhnya agar leluasa melihat wajah lelaki yang duduk di balik kemudi dengan senyuman yang tak pudar karena terus di puji oleh Abi dan Nisa. Ini beneran gak sih? Pertanyaan itulah yang ada di benak Raina kini, namun ia tak mau mengucapkannya karena ia tak mau melihat senyum sumbringah dari Abi dan Nisa pudar.


***


“Kamu kenapa diem aja dari tadi?” Tanya Arga pada Raina ketika mereka hanya duduk berdua menunggu Abi dan Nisa bermain timezone di salah satu mall yanh sering mereka kunjungi.


“Aku masih gak percaya perkataan Abi tadi.” Ujar Raina dengan pandangan lurus kedepan melihat banyaknya orang berlalu lalang di hadapan mereka.


“Kenapa gak percaya?”


Sekita Raina menolehkan kepalanya, melihat lelaki yang sedang duduk sembari menyesap minumannya.


“Gini-gini juga aku bisa dalam segala hal Rain.” Sahut Arga tersenyum ke arah Raina.


Jika memang Arga hanya membantu bu wulan sih percaya, namun perkataan Abi yang mengatakan bahwa Arga juga membuat adonannya sendiri dan hasilnya enak itu yang membuat Raina sulit percaya, seorang Arga Satya Pratama yang ia kenal hanya main cewek, suka bolos, kelutlyuran gak jelas bisa membuat bolu yang notabene pekerjaan itu biasanya di lakukan oleh cewek, Raina saja tak bisa pikirnya dengan tersenyum miris.


“Kok kamu bisa bikin makanan kayak bolu Ga?”


“Ya bisa lah, emang kenapa?”


“Kamu kan cowok.”


“Sekarang banyak cowok pinter masak Rain.” Arga menjeda kalimatnya, ia menoleh ke arah wanita yang duduk di sebelahnya “Jangan bilang kalo kamu gak bisa bikin bolu?” dengan senyum mengejeknya Arga melontarkan pertanyaan yang membuat Raina tertunduk malu.


Arga tergelak,“Ya ampun Rain jangan bilang kamu gak pernah ke dapur untuk masak.”


“Udah ih gak usah ketawa.” berengut Raina memalingkan wajahnya ketika Arga terus saja mengejeknya.


"ARGA.... diem ih" Raina menghentakan kakinya dan berlalu meninggalkan Arga yang terus saja menertawakannya.


***


Raina menopang dagu dengan siku tersandar di jendela mobil, pandangannya ia arahkan pada mobil yang mengantri lampu berubah menjadi hijau di lampu lalu lintas.


Terkadang bibirnya tertarik ke atas ketika mendengar celotehan Nisa yang puas bermain dan juga senang karena ia di belikan boneka oleh Arga, namun juga langsung berubah datar ketika Arga yang terus saja meledeknya.


“bye kakak…” Kedua bocah itu melambai pada mobil Arga yang melaju meninggalkan gang rumah Abi.


Tangannya balas melambai pada kedua bocah itu, senyuman mereka menular padanya dan ia kembali mendelik ketika pandangannya bertatapan dengan netra hitam Arga yang dari tadi terus menatapnya.


“Liatnya lurus jangan ke samping, nanti nabrak.”


Senyuman Arga melebar dan ia kembali menatap jalanan, keheningan yang tercipta di antara mereka, sejak dari apartemen hingga sekarang Arga melihat perubahan dari Raina, ia terlihat jutek.


“Rain kamu gak apa-apa kan?”


“kenapa emang?” Bukannya menjawab ia malah balik bertanya membuat Arga jengkel namun gemas melihat bibir Raina yang mengerucut, rasanya ia ingin melahapnya saat ini juga.


“ck.. kamu dari tadi diem aja, kenapa?”


“Gak kenapa-napa.”


"kamu marah Rain?" Terdengar helaan nafas panjang dari Arga "Maaf, aku gak maksud ngeledek kamu."


"Enggak, bukan karena itu."


“Terus karena apa? Kamu kalo ada masalah bilang aja sama aku, aku kan pacar kamu” Arga menekannkan kata pacar di sana membuat Raina tersenyum miris.


“Iya pacarku yang ganteng.” Raina mengerlingkan matanya dengan senyuman yang begitu manis membuat suasana menjadi canggung.


Arga mengerjapkan matanya sembari sebelah tangannya menggaruk tengkuknya yang tak garal, berusaha mencerna perkataan Raina, ia tak salah dengar kan? Ada apa dengannya? kenapa ia cepat sekali berubah? Arga tak mengetahui jika Raina hanya ingin membangun benteng kuat agar hatinya tak lebih menyukai Arga sebatas teman ia tak ingin kalah dari Arga.


Jangan lupa dukungannya..


Jika suka like, komen, vote dan rate ya ;)