RAINA

RAINA
Chapter 90



“Sialll.. koper gue masih di kak Raka.” Arga teringat dengan kopernya saat ia tengah didalam taxi.


“Pouvez-vouz renverser la vapeur, monsieur?”


(Bisa putar balik pak?) Tanya Arga yang langsung mendapat anggukan dari sang supir taxi.


Arga mencoba menghubungi nomor Raka namun tak juga mendapat jawaban. Setelah membayar jasa taxi ia segera berlari masuk kedalam gedung apartemen berharap Raka telah kembali dari aktifitas di luarnya bersama Abiela.


Pintu lift terbuka dan kakinya dilangkahkan masuk kedalam, untuk pertama kalinya ia sangat berharap untuk tak bertemu Raina karena ia tak ingin terjadi sesuatu yang dapat membuatnya menyesal, ia takut tak bisa mengontrol dirinya untuk tak merebut Raina dari Darrel.


Ting..


Denting pintu lift terdengar, Arga yang sedang menatap layar ponselnya langsung berjalan keluar dari dalam lift tanpa melihat sekitarnya karena masih menghubungi Raka, baru saja ia memasukan ponselnya ke dalam saku mantel, matanya langsung menangkap sosok Raina dalam gendongan Darrel. Dan itu berhasil membuat langkahnya berhenti seketika.


Dalam gendongan Darrel Raina menatap Arga yang berdiri mematung, Arga memalingkan wajahnya tak ingin melihat kemesraan mereka yang mengusik jiwa serta hatinya, rasanya ia ingin sekali menghadang Darrel dan membawa Raina darinya.


Dengan rasa sesak di dadanya, Arga berusaha menguatkan diri dengan melanjutkan jalannya mendahului jalan Darrel.


“Bee.. ” Gumam Raina.


Sekilas Arga mendengar suara Raina memanggilnya, namun itu sangatlah musathil baginya. Mana mungkin Raina berani memanggilnya saat bersama pasangannya.


Darrel yang melihat Arga berjalan mendahuluinya langsung berhenti di tempat,


Jadi benar tadi Raina bergumam memanggil Arga, Apakah Raina masih mencintainya? Pikir Darrel melirik wajah Raina yang tak menatap ke depan.


“Rain, kamu kenapa?” Tanya Adrian panik saat ia membuka pintu, ia tak menghiraukan Arga yang berdiri di hadapannya karena fokusnya sekarang adalah pada Darrel yang berdiri di belakang Arga dengan menggendong anak gadisnya.


“Rain..” Panggil Raka lega setelah berlarian karena panik tak menemukan Raina di atap gedung.


“Arga..”Seru Raka tatkala melihat Arga yang masih berada di sekitaran apartemennya, bukankah Darrel bilang Arga yelah pergi? Batinnya.


“Aku menelfonmu, tapi tak juga dijawab. Aku kembali karena ingin mengambil koperku.” Kata Arga to the point.


“Apa kamu tak menginap disini saja?” Tanya Adrian.


“Baiklah, kopermu masih di mobilku.” Raka berlalu mengajak Arga ke parkiran.


“Arga..” Panggil Raina lirih.


Dengan sekuat tenaga Arga menghiraukan panggilan Raina, ia sudah berjanji untuk membiarkan Raina bahagia bersama Darrel.


Darrel yang mendengarnya tak melepaskan Raina yang meronta dalam menggendongnya, ia segera masuk bersama Adrian untuk mengobati kakinya yang terkilir.


Raka tak mengerti dengan perasaan mereka, Adrian bilang Arga datang untuk menjelaskan semuanya. Tapi setelah bertemu tak juga membuat mereka bersama kembali. Apakah Raina menolaknya? Tapi kenapa tadi ia mendengar Raina memanggilnya? Berbagai Pertanyaan mengenai kehidupan pribadi gadis kecilnya terus berputar dalam kepalanya.


***


Pagi berkabut dengan salju yang masih setia menjatuhkan dirinya membuat Arga enggan untuk membuka mata dari tidur lelapnya.


Ponsel yang terus saja berdering meminta untuk di jawab juga tak dapat mengganggunya, setelah semalaman ia tak bisa menutupkan matanya kini ia seakan membalas untuk tak segera membuka matanya.


Setelah beberapa menit ponselnya terdiam dengan hanya bunyi notifikasi saja kini ponsel itu kembali berdering kembali membuat tidurnya terusik juga.


“Ckkk arrgh.” Arga mengambil bantal untuk menyumpal kedua telingannya agar tak mendengar suara dari dering ponselnya dan usahanya benar-benar tak berhasil, tetap saja suara dari ponselnya terdengar.


“Ada apa?? Lo ganggu tidur gue.” Umpat Arga menjawab panggilan dari sahabatnya.


“Lo masih tidur?? Nyenyak banget yang baru ketemu ama bebeb.” Ledek Rico dari sebrang sana membuat Arga mendengus kesal.


“Ada apa semalam lo hubungi gue? Mau pamer lo? Sorry ya gue juga punya bebeb keleess.” Lanjutnya tanpa menghiraukan dengusan Arga yang semakin kesal.


“Sejam lagi gue berangkat. Jangan jauh-jauh dari hape!! Nanti gue hubungi lo kalo udah sampe.” Arga segera menutup panggilan telfonnya sebelum Rico bertanya lebih, ia menyibakan selimut putih tebal yang telah menemaninya tidur, dan bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.


Setelah dirasa tak ada yang tertinggal, Arga segera turun untuk memberikan kunci kamarnya. Suara dari koper yang di tarik menemani langkahnya, kini ia berdiri di depan resepsionis memberikan kunci dan segera meninggalkan hotel.


Aku harap kamu benar-benar bahagia Rain. Batin Arga masuk kedalam taxi yang telah di pesannya.