
"Jadi pulang besok sayang?" Raina tersenyum mendengar suara papa nya yang sudah pulang ke Indonesia, minggu lalu mereka berencana pulang bersama namun ternyata Raina harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu hingga ia pun di tinggalkan oleh Adrian.
“Jika tak ada halangan pa..” Ucapnya dengan menahan senyum, Raina menata oleh-oleh didalam koper yang akan ia bawa besok.
“Ya sudah, jangan lupa kabari papa!”
“Siap papa.” Raina menutup kopernya setelah memutus sambungan teleponnya dan segera ia simpan di ujung ranjang.
Kali ini Raina memutuskan untuk memperbaiki hubungannya bersama Arga sebelum semuanya terlambat. Bayangan kebersamaan mereka dahulu kembali teringat dalam memory. Betapa bahagianya dirinya saat masih bersama Arga dahulu. Ya.. sungguh hal yang membahagiakan. Lalu bagaimana dengan Darrel? Raina belum memberitahukan rencana kepulangannya.
Flasback On.
“Kamu sudah bersama Darrel, kamu harus menghargai perasaanya! Bagaimana perasaan dia kalo tahu kamu belum move on dari Arga?”
“Darrel?” Tanya Raina yang baru ingat dengan Darrel, Raina yakin Darrel akan mengerti dengan perasaannya. Keningnya berkerut dalam seolah bertanya apa maksud kakaknya menanyakan perasaan Darrel?
“Ya, bagaiman perasaannya saat ia tahu kamu belum bisa move on dari Arga?”
“Kak, aku sama Darrel tak lebih dari teman.”
“Rain, semua orang tahu jika kamu adalah pacarnya.”
“Biarkan saja!!Itu hanya gosip. Aku dengannya tak lebih dari teman, aku memang suka padanya tapi bukan suka dari seorang wanita untuk pacarnya. Aku menyukainya karena ia sama sepertimu kak.” Ucap Raina tanpa jeda untuk mempertegas hubungannya dengan Darrel.“Aku hanya menganggapnya sebagai kakakku.” Sambungnya dengan lirih. Baru kali ini ia berdebat dengan Raka masalah sepele, biasanya mereka akan memperdebatkan tentang pelajaran dan prestasi.
“Rain, Darrel begitu menyukaimu. Dia sangat mencintaimu, bahkan mungkin cintanya lebih dari Arga.”
“Aku tak peduli Kak, aku mohon jangan paksa aku untuk menerima cintanya.”
“Rain…”
“Sejak kapan kakak menjadi orang pemaksa?”
“Bukan begitu, tapi kakak benar-benar melihat cinta darinya yang begitu banyak untukmu. Kakak tidak mau kamu menyesal karena telah menyia-nyiakan cintanya Rain.”
“Aku tak akan menyesal kak, karena aku tahu yang terbaik untuk hidupku. Jika pun aku tak bisa bersama Arga lagi…” Tutur Raina tegas namun terdengar lirih saat ia mengatakan ‘tak bisa bersama’.
“Terserah padamu, kakak hanya ingin kamu bahagia.” Tukas Raka mengusap puncak kepala gadis kecilnya sebelum berlalu meninggalkan Raina yang sedang mengecek ponselnya untuk menghubungi nomor Arga dan membuka setiap lembar note booknya untuk menghubungi teman lamanya.
“Jadi itu jawabanmu Rain?”
Raina tersentak mendengar suara Darrel yang sudah berdiri diambang pintu kamarnya. Tubuhnya mematung tak berani menoleh, tak bisa di pungkiri ia merasa kasihan padanya. Cinta yang tak terbalas pastilah menyakitkan rasanya, Raina memang belum merasakan cinta tak terbalas, tapi sakit karena patah hati tentu saja ia sudah merasakannya. Raina menutup noot booknya membernaikan diri berbalik menatap Darrel yang sudah berdiri di belakang tubuhnya, wajahnya mendongak seketika dan dipandanganya mata coklat terang milik Darrel.
“Setelah lama aku menunggu jawaban darimu dan itu jawabanmu? Kamu hanya menganggapku kakak, tak lebih Rain?. Aku kira kedekatan kita akan berlanjut menjadi lebih Rain.”
“Darrel, maafkan aku.” Ucapnya parau dengan masih menatap manik coklat terang.
“Tak perlu minta maaf Rain, aku yang salah karena sudah memaksamu untuk menyukaiku.”
“Darrel..” Raina menarik kedua tangan Darrel, diremasnya tangan itu dengan perasaan bersalah.
“Apa kau begitu mencintainya Rain?” Tanya Darrel menatap wajah Raina yang semakin menunduk.
“Entahlah, aku belum mengerti apa itu cinta Rel, yang pasti aku begitu menyayanginya seperti aku menyayangi papa dan juga kak Raka. Di saat bersamanya aku begitu nyaman, mendengar suaranya aku begitu senang, setiap berjauhan dengannya aku selalu rindu dan di saat aku melihatnya dengan wanita lain hatiku akan selalu sakit, apa itu yang dinamakan cinta?” Tanya Raina dengan menunduk dalam menatap kedua tangannya yang sedang memegang kedua tangan Darrel.
Darrel tersenyum, Satu kecupan mendarat sempurna di puncak kepala Raina membuat Raina tersentak kembali dengan yang dilakukan Darrel. Kepalanya mendongak, menatap bibir yang sedang tersenyum kearahnya, meski terlihat jelas itu adalah senyum itu terpaksa adanya.
Darrel menangkup kedua bahu Raina, “Jangan merasa bersalah, aku akan selalu menyayangimu Rain.” Darrel akan berusaha untuk menerima takdirnya yang tak bisa bersama wanita yang setiap hari mengisi hari-harinya kini.
“Ikutilah kata hatimu maka kau akan tahu cinta yang sesungguhnya seperti apa!!” Ucap Darrel mengacak rambut Raina.
“Sekarang aku telah resmi menjadi kakakmu, jadi kamu harus patuh dan nurut padaku seperti pada Raka.!!” Ucapnya mencubit hidung mancung Raina.
Flashback off.
Raina tersenyum melihat Raka dan juga Darrel yang sedang asyik bermain game dalam ponselnya.
“Sedang apa kamu disana?” Tanya Darrel mengakhiri permainannya.
“Aku ingin mengambil minum.” Jawab Raina menunjukan gelas kosong pada 2 lelaki di hadapannya kini.
“Oh iya kak, besok aku berencana pulang sebentar.” Ucap Raina minum sambil berjalan menghampiri Raka dan Darrel.
“Apa papa tahu?” Tanya Raka balik.
“Hmm..” Raina menjawab dengan anggukan saat ia masih menghabiskan minumnya.
Raina menyimpan gelas kosong ke atas meja sembari duduk di sofa tunggal, ia membuka ponselnya saat ada notifikasi masuk pada aplikasi whatsapp nya.
Hatinya berdebar kencang melihat chat dari Sania.
[Rain kamu udah putus ama Arga ya?] ~Sania
Di sertai foto Arga yang sedang jalan bareng dengan wanita yang tak ia kenal.
Terlihat mereka tersenyum bahagia, apakah Arga sudah tak mencintainya lagi?? Apakah ia terlambat?
Sakit.. tentu saja, disaat ia akan berusaha untuk bersama kembali ternyata Arga sudah bersama yang lain. Raina benar-benar terlambat.
[Siapa itu Nia?] ~Raina
Dengan tangan gemetar Raina mencoba menanyakan siapa wanita itu.
[Aku pun tak tahu, tadi waktu pulang kuliah aku melihatnya bersama.] ~Sania.
Raina segera pergi meninggalkan Raka dan juga Darrel. Ia duduk disisi ranjang dengan meremas ponselnya.
“Hallo..” Dengan suara parau ia mencoba menghubungi Rico untuk menanyakan apa yang ia ketahui.
"Halo Rain, kapan lo balik?” Tanya Rico dari sebrang sana.
“Ko..”
“Hmmm..”
“Boleh gue nanya soal Arga?”
“Tentu, kenapa emang?”
“Apa dia udah bersama yang lain?” Tanya Raina menahan tangis, rasanya tak sangggup ia menayakan hal tersebut.
“Rain...” Ucap Riko menghela napasnya kasar.
Kenapa Rico malah memanggil namanya? Apakah yang ada dipikirannya benar?
“Emm Ko, soal gue balik kayaknya gak jadi soalnya masih banyak tugas, sorry banget gue ganggu waktu lo.”
“bye ko..” Belum sempat Rico berkata Raina sudah memutus panggilannya.