RAINA

RAINA
Chapter 41



[Honn aku udah di depan😍] ~Mr.Gaje


Raina mendengus kesal, ia segera menyelesaikan sarapannya dan memasukan ponselnya ke dalam tas ranselnya.


“Pa.. aku berangkat dulu ya, mulai sekarang aku punya ojek gratis, jadi pak Anton bisa nganter papa.” Raina mencium tangan Adrian dan Adrian mengecup kening anak gadisnya.


Adrian menekukan dahinya melihat Raina pergi meninggalkan meja makan, siapa ojek gratis? apa pacarnya? tak mungkin, masa dia pacaran sama tukang ojek. Adrian menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran negative tentang anaknya.


Hari senin adalah hari pertama siswa dan siswi masuk sekolah setelah masa liburnya, Raina menghampiri Arga yang duduk di atas motornya, semenjak mereka memutuskan untuk bekerja sama kedekatannya semakin terjalin.


“Kenapa gak pake mobil sih?” Dengus Raina.


“Ssstt….Sini aku pakein helm biar maksimal pura-puranya.” Arga menaikan salah satu sudut bibirnya ketika Raina mencebikan bibirnya karena kesal.


“Aku gak suka pake mobil, lebih enakan pake motor biar….” Arga terkekeh melihat Raina mendelikan matanya.


" Biar bisa nyalip Rain, kamu jangan salah paham."


Raina segera naik ke atas motornya, ia menyimpan tas ranselnya di depan karena ia tahu kelanjutan perkataan Arga tadi, motor Arga melaju dengan cepat ketika Raina hanya diam saja tak mau memeluknya. Arga menyeringai Ketika kedua tangan Raina membelit perutnya.


Semua mata tertuju pada Arga yang membonceng Raina, semua siswa dan siswi dibuat patah hati. Karena cowok dan cewek terkeren mereka sudah Secara terang-terangan menjalin hubungan, setau murid lain Arga tak pernah membonceng cewek kecuali pacar atau Cintya temannya.


Rico dan Rizki terpaku di tempatnya melihat pemandangan Raina sedang di bukakan helm oleh Arga, Rizki melihat mata Cintya yang memerah.


“Gue gak salah liat kan? Dia menang dong.” Rico menampar pipi Rizki dengan keras.


“ sakit an***g.” Rizki mengusap pipi bekas tamparan Rico.


“Maksud lo menang apa ko?” Tanya Cintya begitu penasaran.


“Emmhh enggak, liat mereka nyameperin kita.”


“Aku masuk duluan ya bii.” Raina tersenyum manis pada Arga dan matanya melirik tangan Arga yang masih merangkul dirinya.


“Cie.. cie.. sekarang aku kamu ya, ehh apa tadi?? bii tuh Bee lebah apa baby nih?? hahhahhaha” Ledek Rico.


Raina tak mengiraukan ledekan Rico, ia berjalan masuk ke dalam kelasnya, belum juga mereka menjelaskan hubungannya gosip sudah menyebar ke semua penjuru sekolah membuat Anya geram hingga ia datang ke kelas Raina dengan nafas yang memburu.


PLaakkk


Anya menampar Raina dengan keras membuat pipi putihnya meninggalkan bekas kemerahan, Raina menatap tajam Anya dan membalas menamparnya.


“Lo.. berani-beraninya.” Anya hendak menjambak rambut Raina namun terhalang oleh tangan Arga.


“Apa-apaan lo?” Arga meremas pergelangan tangan Anya dengan keras membuatnya meringis kesakitan.


“Lepasin Ga!!”


“Minta maaf padanya!!” Teriak Arga tepat di depan wajah Anya.


“Gue akui, gue emang munafik karena udah bilang gak tertarik, tapi siapa yang tahu bahwa cinta bisa datang dan pergi dengan cepat? Sorry An, Arga memilih gue. Gue harap lo mundur sebelum lo semakin sakit hati.”


“Lepas Ga!!”Anya semakin meringis karena Arfa semakin kuat meremas pergelangan tangannya “Oke gue minta maaf Rain.” Teriak Anya kesakitan dan Arga pun melepaskannya.


“Ini bukan kelas lo, sebaiknya lo pergi sekarang sebelum guru masuk ke sini.” Arga mengusir Anya dan Raina kembali duduk dengan tenang menutupi kegundahan hatinya.


“Kamu gak pa-pa Rain?” Tanya Sandi menyentuh pipi Raina yang memerah.


Arga menepis tangan Sandi dari wajah Raina, ia menarik Raina menuju kantin dan mendudukan Raina di kursi.


“Bu boleh minta Es batu?”


Arga membawa es batu dalam wadah,ia duduk di smaping Raina dan mengambil sapu tangan dalam saku celananya, ia segera menaruh es batu di sapu tangannya kemudian mengompres pipi Raina yang menampakan bekas merah di kulit putihnya.


Raina meringis ngilu ketika dinginya es batu menyentuh kulitnya yang terasa panas, tanpa sadar bulir air mata turun membasahi pipinya.


“Ini pasti sangat sakit.” Arga menyeka air mata Raina dan Raina menghapus air matanya dengan kasar.


“Gue gak nyangka Anya senekat itu.”


Sakit yang dirasakan Raina bukan karena tamaparan tadi melainkan ia merasa sakit hati, entahlah sakit hati karena apa? Apa karena di katai munafik? Ataukah merasa terhina karena Anya memakinya di depan orang banyak? Yang jelas hatinya sangat sakit.


Dengan telaten Arga menyeka es yang mencair di wajah Raina dengan tisu yang tesedia di meja kantin. Raina memandang wajah tampan Arga, hatinya berdebar ketika tatapan mereka terpaut dalam.


“Aku udah gak apa-apa.” Raina mengambil alih kompresan dari tangan Arga dan ia memalingkan wajahnya membuat keadaan menjadi canggung.


“Aku mau ke toilet, kamu duluan saja.” Raina beranjak berdiri dan meninggalkan Arga yang menatap punggung Raina.


“Lo jangan senang dulu bisa pacaran dengannya Rain.” Anya menyeringai menatap cermin sembari mencuci tangannya.


Raina menatap senyum menyeringai Anya di pantulan cermin wastafel toliet, ia mengacuhkannya dan melanjutkan mencuci tangannya.


“Lo tahu berapa cewek yang udah di tiduri olehnya?” Tanya Anya menyeringai.


“Gue tau, dan gue yakin dia sama sekali tidak pernah nyentuh lo.” Raina menoleh pada Anya dan ia menyilangkan tangannya dengan wajah Angkuh.


“Lo yakin?? Apa lo tahu kemana dia pergi selama kabur dari rumah kemarin?”


Raina ingat dimana ia melihat Arga dan Anya bersama ketika kabur membuat Raina mengerti maksud Anya.


“Gue yakin jika memang Arga nyentuh lo karena dia dalam keadaan tak sadar dan gue sangat yakin dia gak pernah nyentuh lo sama sekali.” Raina berjalan dengan Angkuh hingga bahunya beradu dengan bahu Anya.


Sialll… Geram Anya merasa kesal, ia mengusap bahunya yang sakit.


Jangan lupa dukungannya kakak readers.


Jika suka like, komen, vote dan rate ya ;)