
Pagi ini Raina begitu malas untuk membuka matanya tentu saja karena ia sedang berada di masa libur untuk mengerjakan kewajibannya hingga ia bebas untuk bangun siang, getaran dari ponsel di atas nakas begitu mengganggu hingga ia pun terpaksa untuk bangun. Matanya menyipit melihat jam di atas nakas yang menunjukan pukul 05.00, ia menguceuk kedua matanya sebelum meraih ponselnya.
“Hallo..” Ucap Raina parau.
“Halloo” Ulangnya.
Tak ada jawaban dari sebrang hingga ia menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini. Dan ternyata nomor tak di kenal, keningnya mengernyit dan ia memutuskan panggilan telfon tersebut.
Baru saja tubuhnya ingin ia tidurkan kembali, benda pipih itu kembali bergetar, Raina melihat sebuah pesan masuk dan ia pun membukanya. Matanya yang sayu kini terbuka lebar melihat sebuah video yang menunjukan dimana Arga dan Sindy sedang berhungan intim. Ponsel yang ia pegang terjatuh begitu saja.
Ketika tersadar Raina menghubungi nomor tersebut namun nihil karena nomor nya sudah tidak aktif. Ia tidak salah lihat kan? Hingga ia pun mencoba melihat kembali siapa orang yang dalam video tersebut dan jelas benar wajahnya mirip dengan Arga dan Sindy.
Hatinya bagai teriris sembilu, begitu menyayat. Tanpa di undang air matanya turun begitu saja membasahi wajah cantiknya, wajahnya ia tutupi dengan kedua tangan mencoba untuk menahan air yang mengalir deras dari matanya, sekuat apapun ia menahannya tetap saja ia tak bisa menahan tangisnya.
Ponselnya kembali bergetar, terlihat ‘Calon Suami’ menghubunginya, pasti Arga pun sudah mendapatkan video tersebut hingga ia menghubunginya sepagi ini. Raina mengabaikannya karena ia enggan untuk mendengar suara Arga, hatinya terlalu sakit.
***
Tok.. Tok.. Tokk
“Non kata bapak sarapan.” Mbak Ana mengatakan tujuannya ia mengetuk pintu.
“Non.. ” Mbak Ana kembali memanggil.
“Masih tidur ya non?” kembali tak ada sahutan dari dalam hingga ia pun menuruni tangga tanpa Raina.
“Raina nya mana?” Adrian bertanya ketika tak melihat anak gadisnya.
“Kayaknya masih tidur pak, soalnya di panggil gak nyaut.” Tutur mbak Ana sebelum berlalu pergi meninggalkan meja makan.
Adrian melihat jam di pergelangan tangannya dan waktu sudah menunjukan pukul 07.45, tapi kenapa Raina masih tidur? Adrian bangkit berdiri menyudahi sarapannya dan pergi ke atas untuk menghampiri anaknya.
“Sayang? Kamu sakit? Ini sudah siang…” Adrian memanggil Raina ketika ia sampai di depan pintu kamar anaknya.
“Tidak pa, aku lagi males gerak.” Teriak Raina menyahut dari dalam.
“Ya udah jangan lupa sarapan, papa berangkat dulu.”
“Iya..” Teriak Raina dari balik selimutnya, gorden yang masih tertutup rapat membuat kamar Raina gelap, namun ada bias cahaya yang masuk dari sela-sela gordennya. Tubuhnya meringkuk, dengan ponsel yang terus saja bergetar di belakang tubuhnya.
Merasa gerah ia pun bangun, menyingkapkan selimut tebal yang dari tadi menyelimutinya, kakinya ia turunkan dari atas ranjang dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebelum ia sampai ke kamar mandi, ia pun membuka semua gorden di kamarnya menyisakan tirai tipis dan melihat ke arah luar rumahnya.
Terlihat Adrian yang hendak pergi ke kantornya di antar pak Anton, matanya menangkap sesosok lelaki yang berdiri di luar gerbang sedang menempelkan ponselnya ke telinga hingga ia pun membuka sedikit tirainya untuk melihat jelas siapa lelaki tersebut, adegan dari video tadi kembali terbayang ketika ia melihat Arga. Raina kembali menutup tirainya dan berbalik menuju kamar mandi.
Sekilas Arga melihat tirai atas yang di tutup, ia melihat mobil keluar dari gerbang rumah Raina.
“Pagi, kamu nyari Raina? Masuk aja dia di rumah kok.”
“Baik om, makasih.”
“Ya udah, om berangkat dulu ya.” Adrian menutup kembali kaca mobilnya sedangkan Arga masuk sebelum mang Udin kembali menutup pintu gerbangnya.
“Bik Raina dimana?” Tanya Arga melihat mbak Ana sedang menyiapkan sarapan untuk Raina.
“Non Raina lagi di kamarnya den, katanya lagi mager.”
“Itu buat Raina?” Arga menunjuk makanan yang sudah tertata di atas nampan.
“Iya den.”
“Ya udah aku aja yang bawa, boleh?”
“Tapi den, non Raina gak pernah masukin cowok ke kamarnya.”
“Gak pa-pa bi, aku cuma mau ketemu dia sebentar.” Arga merebut nampan dari tangan mbak Ana dan menaiki anak tangga menuju kamar raina.
Dirinya sempat bingung melihat 2 pintu kamar yang berdampingan.
“Sstt.. Sstt..” Arga memanggil mbak Ana dari atas tanpa suara dengan menyimpan jari telunjuk di mulutnya agar mbak Ana tak bertanya dengan berteriak.
“Mana kamarnya?” Tunjuk Arga pada kedua pintu di hadapannya. “Ini apa ini?” Lanjutnya.
Mbak Ana yang langsung mengangguk ketika Arga menunjuk pintu yang benar. Arga tersenyum dan menetralkan debaran jantungnya. Ia mengepalkan tangan sebelum punggung tangannya menyentuh daun pintu.
Tok.. tok.. tokk..
“Simpen aja di depan nanti aku ambil.” Sahut Raina dari dalam.
Arga kembali mengetuk pintu kamar Raina sebelum sang pemilik kamar keluar dari persembunyiannya. Jantungnya berdebar semakin cepat ketika ia mendengar langkah kaki Raina mendekati pintu.
“Aku kan….” Raina tak bisa melanjutkan perkataannya, Matanya terbelalak melihat Arga sedang berdiri di depannya, ia kira Arga sudah pulang.
Arga menyelipkan kaki kananya untuk mengganjal pintu yang hampir tertutup kembali. Ia meringis ketika Raina menendang kakinya namun ia berusaha mendorong pintu tersebut dengan tubuhnya karena kedua tangannya memegang nampan.
“Aku mau ngomong bentar.” Ucap Arga berhasil masuk ke dalam kamar Raina.
Happy reading.
Jangan lupa dukungannya😁