RAINA

RAINA
Chapter 84



Suara letupan dan Cahaya dari berbagai macam jenis kembang api di langit malam prancis begitu menggelegar dan indah bahkan suara terompet pun terdengar begitu riuh membuat suasana malam dingin terasa menghangat.


Raina keluar dari dalam kamarnya menuju balkon dan berdiri menyandarkan tubuhnya menghadap langit malam yang penuh warna dari cahaya kembang api.


Senyumnya terpancar jelas di sudut bibirnya, ia mengambil gambar serta video untuk mengabadikan moment pergantian tahun di negara yang ia tinggali sekarang. Setelah puas mengambil gambar tak sengaja ia melihat ada kembang api sparkles tergeletak di atas meja kecil dekat dengan kursi santai.


Tanpa tahu siapa pemiliknya ia pun segera mengambilnya dan menyalakan kembang api sparklesnya, seperti tahun-tahun sebelumnya ia selalu sendiri dan berdiam diri di atas balkon kamarnya menikmati indahnya langit malam yang penuh warna.


Dirinya bersandar pada pagar pembatas balkon Apartemen, satu tangannya memegang dua kembang api sparkles yang telah menyala dan satu tangannya di pakai untuk mengambil gambar kembang api yang sedang ia pegang.



Kembang api sparkles pun habis tak tersisa beserta suara riuh terompet dan cahaya kembang api lainnya perlahan menghilang. Dengan masih bersandar ia mengecek hasil gambarnya, bibirnya kembali terangkat membuat senyuman tatkala ia mendapat foto serta pesan dari Raka.


Kala ia sedang mengamati gambar kiriman dari kakaknya, ponselnya berdering menampakan nomor baru yang hampir setiap hari menghubunginya. Senyum Raina menghilang disertai helaan nafas.


“Yahh… senyumnya malah ilang.” Ucap seseorang dari belakang tubuhnya.


Sontak ucapan sesorang itu membuat Raina kaget. bagaimana bisa Darrel berada di sini? Padahal sore tadi mereka berpamitan hendak pergi. Apakah Darrel tak jadi ikut bersama Raka beserta yang lainnya? Pikir Raina yang langsung bermunculan dalam kepalanya.


“Kenapa?” Tanya Darrel berbisik di belakang telinga Raina yang semakin merapatkan tubuhnya pada punggung Raina dengan dua tangannya memegang pagar pembatas membuat tubuh Raina terkunci.


“Siapa yang menelpon? Kenapa gak di jawab?” Tanyanya saat mendengar kembali ponsel Raina terus saja berdering, sedangkan yang di tanya hanya diam saja.


Menyadari kesalahannya Darrel memundurkan tubuhnya perlahan sehingga Raina bisa berbalik badan dengan sempurna.


“Kenapa kamu bisa disini?” Tanya Raina seakan marah akan sikap Darrel.


“Aku sedang mengambil gambar.” Jawab Darrel santai mengambil kameranya yang tergeletak di meja kecil.


“Kenapa harus disini? Gak sopan banget malam-malam masuk apartemen orang.”


“Heii.. aku sudah ijin pada yang punya, dari sore aku berada di kamar Raka.”


“Bohong... kalian pergi tadi sore.”


“Ckkk.. ngapain aku bohong? Aku tak pergi, aku hanya ke apartemenku untuk mengambil kamera dan kembali lagi ke sini.”


“Aku gak liat kamu.”


“Ya iya lah, kamu gak akan liat aku karena dari sore gak keluar kamar.”


Raina terdiam sedikit terkejut, perkataan Darrel emang benar sejak Raka dan temannya pergi ia tak keluar kamar sama sekali, ia terlalu asik dengan dunianya sendiri. Tapi tetap saja Darrel salah kenapa tak izin padanya? Pikir Raina.


“Udah dong jangan marah!!” Ucap Darrel dengan membalikan tubuh Raina agar kembali menghadap kota.


“Rel awas ihhh!!”


Darrel menahan tubuh Raina yang hendak kembali membalikan badannya.


“Please Rain, aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu.” Ucap Darrel kembali mengunci tubuh Raina.


Raina memeluk tubuhnya sendiri karena merasa kedinginan, padahal ia sudah memakai mantel yang begitu tebal. Darrel yang melihat Raina kedinginan segera merapatkan kembali tubunnya.


“Menghabiskan waktu berdua tak harus seperti ini juga Rel.” Tukas Raina mendorong tubuh Darrel dengan sikunya.


Raina kembali tersadar dan saat tangannya akan mereject panggilan tersebut dengan sengaja Darrel malah menggeser ikon hijau hingga terdengar suara lelaki dari sebrang sana memanggil nama Raina.


“Darrelll..” Geram Raina dengan menahan suaranya.


“I love you Rain.” Ucap Darrel dengan lantang agar lelaki yang di sebrang sana mendengar suaranya.


“Rel..” Panggil Raina tertahan.


Darrel mengambil ponsel dari genggaman Raina dan segera mematikan panggilannya. Darrel tahu jika yang sering menghubungi Raina adalah lelaki yang sudah menyakitinya. Dia dan Raka telah mencari tahu kebenaran hubungan Raina dan Arga lewat Adrian.


“Dia gak akan ganguin kamu lagi.” Tutur Darrel dengan senyumnya.


“Kamu...” Ucap Raina tertahan menunjuk wajah Darrel marah.


“Aku hanya membantumu Rain, agar dia gak gangguin kamu.”


“Jangan ikut campur urusanku, kamu hanya orang lain.” Tutur Raina hendak pergi.


“Sekarang aku memang orang lain Rain.. tapi beberapa menit lagi aku akan menjadi orang yang selalu melindungimu.” Darrel menahan tubuh Raina dengan mengungkungnya, bahkan wajahnya ia condongkan kehadapan Raina.


“Aku benar-benar menyukaimu Rain, aku mencintaimu… apa kamu tak pernah melihat itu?” Tanya Darrel tepat di depan wajah Raina, bahkan hembusan nafas Darrel begitu terasa menerpa pipinya.


Raina memalingkan wajahnya, ia sadar betul jika Darrel menyukainya bahkan ia pun menyukainya, sekedar suka tak lebih.


“Lihat aku Rain!! Tatap mataku dan kau lihat betapa aku menyukaimu.. dari awal aku sudah jatuh hati padamu Rain.” Darrel menangkup wajah Raina agar kembali melihatnya.


Tatapan mata mereka terkunci, untuk beberapa detik Raina terpesona oleh ketampanan Darrel.


“Maaf Rel..” Ucap Raina melepaskan kedua tangan Darrel dari wajahnya dan berlalu.


“Apa kamu masih mencintainya Rain?” Tanya Darrel menatap punggung Raina yang sudah berada di dalam.


“Entahlah.. yang jelas sekarang aku ingin melupakannya.” Ucap Raina menahan sakit di dadanya.


“Aku akan membantumu untuk melupakannya. Asal kamu mau membuka hatimu untukku.”


Tanpa menjawab perkataan Darrel Raina pergi menuju kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang dan melihat ponselnya yang terus saja berdering karena banyak panggilan dan pesan masuk.


[Siapa lelaki tadi Rain???]


[RAIN…]


[Jawab aku Rain plisss!!!]


[RAIN.. JAWAB!!] ~ +62 8××


Raina melihat pesan yang di kirim Arga, terlihat jika Arga marah.. ponselnya kembali berdering menampakan nomor Arga, Raina segera mereject panggilan tersebut dan mematikan ponselnya.


“Apa aku harus membuka hatiku untuk Darrel?? Tapi aku tak mencintainya??” Gumam Raina.


“Aaaaaaaa” Jerit Raina tertahan pada bantal yang ia peluk, ia mengacak-acak rambutnya dan segera menutup sekujur tubuhnya dengan selimut tebal berharap segera tidur pulas agar hatinya tidak galau.


jangan lupa dukungannya😁